Minggu, 25 Agustus 2013

peringatan maulid Nabi bersama AL Habib Muh Luthfi Bin Yahya


Maulid Nabi dan HUT RI 68

JAM'IYYAH ASY SYARIFIYYAH CAB. KAPUK CENGKARENG BARAT 
HADIRILAH PERINGATAN MAULID NABI 
 DAN HUT RI YANG KE-68.



Kamis, 22 Agustus 2013

sang pemimpin teladan yang pernah dilahirkan dunia

"Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu adalah menjadi suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Ilahi dan (kedatangan) hari kiamat dan orang-orang yang senantiasa ingat kepada Allah." (QS. Al-Ahzab 33: 21).

Sejak dari abad ke abad telah lahir pemimpin-pemimpin besar di tengah-tengah berbagai-bagai kaum dan bangsa, baik yang khusus diutus Tuhan sebagai Rasul atau Nabi maupun yang dilahirkan dengan bakat kepemimpinan.

Hampir semua Rasul/Nabi atau pemimpin-pemimpin itu titik berat tugas yang dilaksanakannya hanya terbatas pada satu atau dua-tiga bidang kepentingan kehidupan, umpamanya di bidang agama, atau politik saja, atau ekonomi saja, atau kebudayaan saja dan lain-lain. Tidak ada yang meliputi semua bidang yang sifatnya menyeluruh, all round.

Berbeda halnya dengan kepemimpinan Nabi Muhammad s.a.w. Mengenai kepemimpinan Rasulullah itu, dilukiskan oleh Abul A'la Maududi, sebagai berikut: "Adapun pada diri Nabi Muhammad saw terhimpun dan terpusat semua sifat-sifat kepemimpinan yang diperlukan, Beliau adalah seorang Ahli Hikmat, tapi beliau juga seorang pelaksana dari ajaran-ajaran yang dikembangkannya, seorang negarawan yang ulung, seorang prajurit yang luar biasa (jenius). Beliau adalah seorang pengatur dan pencipta undang-undang (legislator), seorang pembina moral dan akhlak. Dia adalah seorang pembina kerohanian ummat, disamping menjadi pemimpin agama. Pandangan beliau jauh menembus ufuk cakrawala kehidupan.Perintah-perintahnya meliputi semua bidang kehidupan, sejak dari masalah-masalah kecil yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari sampai kepada soal-soal yang bersifat internasional.

Akhirnya Maududi menyimpulkan : "Nabi Muhammad adalah satu-satunya contoh kepemimpinan yang lengkap, dimana semua keunggulan/keistimewaan terkumpul dalam diri seorang pribadi." (He is the only example where all excellences have been blended into one personality). (The Prophet of Islam, hal 25).

Baiklah dikemukakan di sini secara singkat tentang kepemimpinan Rasulullah dalam beberapa bidang supaya bisa menjadi tauladan bagi kita semua.

Nabi Muhammad sebagai pemimpin agama.

Beliau mengembangkan agama yang menjadi landasan dalam kehidupan ummat manusia, tak ubahnya laksana fondasi dari satu bangunan. Landasan itu ialah TAUHID, yaitu kepercayaan yang bulat dan mutlak terhadap ke-Esaan Allah SWT dan hanya kepada Allah SWT sajalah manusia wajib berbakti dan menyembah.

Sebagian besar ummat manusia pada waktu itu tidak murni lagi kepercayaannya. Sebab di samping percaya kepada Allah, mereka percaya pula kepada tuhan-tuhan yang lain, malah ada yang menyembah patung-patung dan berhala-berhala. Ada pula yang percaya kepada pengaruh udara, matahari, bulan, bintang dan lain-lain yang mereka anggap menentukan keadaan dan nasib mereka. Apabila ditimpa kesusahan, mereka minta tolong kepada patung-patung, kalau mendapat nikmat, mereka memuja-muji berhala-berhala."Kekacauan" dalam bidang kepercayaan ini membawa pengaruh yang "kacau" pula dalam membentuk pandangan dan sikap yang buruk terhadap bidang-bidang kehidupan lainnya.Dengan ajaran Tauhid ini yang beliau ajarkan dan mantapkan kepada ummatnya dalam masa lebih kurang 13 tahun, akhirnya merupakan sumber yang memancarkan kemurnian, kekuatan yang mampu mengubah sikap hidup dan cara pikir ummat manusia pada waktu itu sesuai dengan pokok-pokok misi yang dijalankan oleh Rasulullah (Muhammad).

Sebagai pemimpin agama, maka titik awal dan titik berat ajaran yang dikembangkan oleh beliau ialah menanamkan Tauhid, yang dalam Al-Quran disebutkan dengan predikat "Syaratun-thaiyibah" ; yaitu pohon yang baik, yang memenuhi syarat-syarat untuk hidup dan memberikan kehidupan.Apabila pohon Tauhid itu sudah tegak, kecuali dia kelihatan indah, daunnya yang rindang dapat dijadikan tempat berteduh di panas yang terik, buahnya bisa dinikmati kelezatannya, pun mahapenting ia berdiri tegak dan mantap (istiqamah), tidak bergoncang ditiup angin taufan sekalipun, sebab akarnya telah tertancap jauh ke dalam bumi (iman yang kuat dan kokoh).

Nabi Muhammad sebagai negarawan.

Setelah Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tenaga inti yang sudah terlatih dan terseleksi, yaitu kaum Muhajirin, dibantu oleh kaum Anshar, maka dalam masa kurang lebih 10 tahun, satu masa yang relatif pendek, Rasulullah telah berhasil membangun satu pemerintahan Islam, DAULAH ISLAMIYAH, yang lengkap memenuhi unsur-unsur yang diperlukan dalam membangun dan mengembangkannya.Dalam segala bidang kehidupan, Rasulullah melaksanakan essensi dari pokok-pokok kehidupan suatu negara dan ummat, yang dalam kehidupan demokrasi beberapa abad kemudian terkenal dengan istilah: kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan (liberte, egalite, fraternite).

Ajaran Islam memberikan hak-hak kemerdekaan kepada pemeluknya yang menjadi warganegara Kekuasaan Islam yang baru dibangun pada masa itu. Kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan melahirkan pendapat dalam pemerintahan senantiasa dikembangkan oleh negarawan yang bernama Muhammad. Di samping itu, baik melalui ketentuan-ketentuan dalam pemerintahan maupun dalam sikap dan pergaulan sehari-hari, beliau mengembangkan ruh dan semangat persamaan serta persaudaraan.

Beliau menghapuskan perbedaan-perbedaan karena keturunan, kekayaan, kebangsaan, perbedaan warna, dan kulit serta lain-lain sebagainya, sehingga orang-orang asing seperti Salman Al Farisi yang berkebangsaan Persia, diberikan kedudukan dan memegang peranan yang penting dalam pemerintahan Islam. Dalam pergaulan dan urusan-urusan keagamaan, seorang yang berkulit hitam dan tadinya pernah menjadi budak seperti Bilal bin Rabah, mendapat kedudukan sesuai dengan kemampuannya dan loyalitasnya.

Walaupun kepemimpinan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai utusan Allah (Rasulullah) senantiasa mendapat bimbingan dan petunjuk Ilahi, tapi mengenai pelaksanaan sesuatu hal yang tidak ditetapkan oleh wahyu, beliau selalu bermusyawarah dengan para pembantunya serta para sahabat pada umumnya, sesuai dengan garis-garis yang ditetapkan oleh wahyu Ilahi, yang memerintahkan:

"Bermusyawarahlah dengan mereka dalam beberapa urusan." (QS. Ali Imran 3: 159). "Urusan-urusan mereka haruslah (diputuskan) dengan musyawarah diantara mereka sendiri." (QS. As-Syura 42: 38).

Nabi Muhammad sebagai pembangun moral.

Salah satu faset lainnya kepemimpinan Rasulullah ialah tentang misi beliau sebagai pembangun moral, akhlak dan budi pekerti.

Malah justru membangun moral itu merupakan tugas beliau yang utama, seperti dinyatakan oleh Rasulullah sendiri:"Saya diutus (titik beratnya) ialah untuk menyempurnakan (membangun) akhlak yang mulia." (Riwayat Imam Malik). Akhlak itu menjadi mustika (intan-permata) yang memantulkacahaya yang berkilau-kilau dalam kehidupan manusia. Tak ubahnya laksana kembang bunga di dalam suatu taman yang menambah keindahan taman tersebut bila dipandang mata.

Segala sifat-sifat dan watak yang baik, terpuji, mulia dan yang seumpamanya adalah termasuk dalam rangkaian akhlak itu. Misalnya saja sifat-sifat: rendah hati (tawadhu'), penyantun, ramah tamah, pemaaf, penyabar, sopan santun, ulet, sederhana, jujur, amanah, cerdas (fathanah) dan berpuluh-puluh sifat lainnya.

Budipekerti yang mulia itu lebih dahulu diterapkan dan ditunjukkan oleh Rasulullah sendiri dalam pergaulan sehari-hari, sehingga tidak heran apabila akhlak beliau itu laksana magnet yang mampu menarik jarum yang berserakan di sekitarnya.

Ucapan-ucapan beliau sesuai dengan sifat dan tingkah lakunya, sesuai kata dengan perbuatan.

Akhlak Rasulullah itu telah berhasil melembutkan hati manusia yang kesat, menundukkan sikap yang kasar, menimbulkan respek dan simpati orang banyak, menambah kecintaan orang-orang yang miskin, meyakinkan kaum wanita atas perlindungan yang diberikannya dan lain-lain sebagainya.

Dalam hubungan dengan pengaruh akhlak dan sifat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, disimpulkan oleh Abdur Rahman 'Azzam, bekas sekjen Liga Arab beberapa puluh tahun yang lalu, sebagai berikut:

"One of the most important aspects of this revolution was the moral and spiritual transformation which Muhammad examplified in his deeds and personality and in the principles he advocated in accordance with the letter and spirit of his message. "Maksudnya :"salah satu aspek yang paling penting dari perubahan (revolusi) itu ialah penjelmaan akhlak dan jiwa yang diterapkan oleh Muhammad dalam perbuatan dan kehidupan pribadinya dan dalam prinsip-prinsip yang dipertahankannya sesuai dengan kata-kata dan semangat ajaran yang menjadi pokok tugasnya."
(The Eternal Message of Muhammad, hal 77).

Keluhuran akhlak Rasulullah itu telah mendapat pujian dan bimbingan khusus dari Allah, seperti dinyatakan dalam Al-Quran (yang artinya) : "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar- benar mempunyai budipekerti yang agung." (QS. Al-Qalam 68 : 4).
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Apa kata negarawan dan ilmuwan tentang Muhammad

Pilihan saya menjadikan Muhammad pada rangking tertingi tokoh yang paling berpengaruh di dunia barangkali mengejutkan sebagian pembaca dan mungkin dipertanyakan oleh sebagain yang lain, akan tetapi dialah satu-satunya orang yang pernah ada dalam sejarah yang paling berhasil baik dalam ukuran agama maupun ukuran sekuler. (Michael H. Hart, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, Hart Publishing Company, Inc. 1987, p. 33)

Kesuksesan terbesar dalam hidup Muhammad sepenuhnya muncul dari kekuatan moral. Bukanlah kemajuan agama Islam, namun sifat permanent agama tersebut yang menyebabkan kita takjub. Kesan yang sempurna dan murni terhadap pribadinya yang ia pahatkan di Mekah dan Madinah tetap terjaga sekalipun telah berlalu revolusi masuknya orang-orang India, Afrika dan Turki kepada Al Quran selama 12 abad. (Edward Gibbon and Simon Oakley in History of the Saracen Empire, London, 1870).

Saya ingin tahu kehidupan terbaik seseorang yang pesonanya tertanam di dalam sanubari jutaan orang saat ini. Saya menjadi yakin lebih dari yang pernah saya alami sebelumnya bahwa bukanlah pedang yang memenangkan Islam pada saat itu. Adalah kesederhanaan yang kuat, ekspresi kerendah-hatian dari sang Nabi, memegang teguh janji, dedikasinya yang tinggi pada para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, kepercayaanya yang tinggi terhadap Tuhan dan terhadap misinya. Inilah (yang menjadi kunci keberhasilan), dan bukannya karena pedang di depan mereka untuk mengatasi setiap rintangan. Ketika aku menutup volume kedua (dari Biografi sang Nabi), saya sedih tidak ada lagi yang bisa kubaca dari kehidupannya yang agung tersebut. (Mahatma Gandhi, dikutip dari harian Young India, 1924)

Saya selalu memandang agama Muhammad secara tinggi karena begitu hebat vitalistasnya. Inilah satu-satunya agama yang saya lihat memiliki kemampuan asimilasi terhadap fase perubahan eksistensi yang membuatnya menarik pada setiap jaman. Saya telah mempelajari dia (Muhammad), menurut saya ia adalah manusia yang menakjubkan, dan dalam pandangan saya sebagai seorang anti-Kristen, ia patut disebut sebagai Penyelamat Kemanusiaan. … Saya percaya bahwa kalaupun orang seperti dia memilih cara diktaktor menurut ukuran dunia modern, dia akan berhasil mengatasi berbagai permasalahan yang ada. Dalam pengertian ia akan menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan. Saya telah memperkirakan bahwa kepercayaan Muhammad akan bisa diterima oleh Eropa di masa yang akan datang sebagaimana ia telah mulai diterima Eropa saat ini. (Sir George Bernard Shaw, The Genuine Islam, Vol. 1, No. 8, 1936)

Dr Joe Leigh Simpson adalah Ketua Departemen Obstetri dan Ginekologi, Profesor Obstetri dan Ginekologi, dan Profesor Molekular dan Genetika Manusia di Baylor College of Medicine, Houston, Texas, Amerika Serikat.

Sebelumnya, dia adalah Profesor dari Ob-Gyn dan Ketua Departemen Ob-Gyn di University of Tennessee, Memphis, Tennessee, Amerika Serikat. Dia juga Presiden Fertility Society Amerika.

Profesor Simpson mempelajari dua perkataan berikut Nabi Muhammad:

"Di setiap salah satu dari kalian, semua komponen kreasi Anda dikumpulkan bersama dalam rahim ibumu oleh empat puluh hari ..."

"Jika empat puluh dua malam telah melewati embrio, Tuhan mengirimkan malaikat untuk itu, yang membentuk dan menciptakan pendengaran, visi, kulit, daging, dan tulang ...."

Ia belajar dua perkataan Nabi Muhammad secara luas, mencatat bahwa empat puluh hari pertama merupakan tahap jelas dibedakan embrio-genesis. Dia sangat terkesan dengan ketepatan dan keakuratan dari mereka perkataan Nabi Muhammad. Kemudian, dalam salah satu konferensi, dia memberikan pendapat sebagai berikut:

"Jadi bahwa kedua hadits (perkataan Nabi Muhammad) yang telah dicatat memberikan kami sebuah meja waktu tertentu untuk pengembangan embriologis utama sebelum empat puluh hari.

Sekali lagi, intinya telah dibuat, saya pikir, berulang kali oleh pembicara lain pagi ini: hadits ini tidak mungkin diperoleh atas dasar pengetahuan ilmiah yang tersedia [at] saat menulis mereka. . . . Ini mengikuti, saya pikir, yang tidak hanya tidak ada konflik antara genetika dan agama tetapi, pada kenyataannya, agama bisa membimbing sains dengan menambahkan wahyu kepada beberapa pendekatan ilmiah tradisional, bahwa tidak ada pernyataan dalam abad ditampilkan Quran kemudian akan berlaku, yang pengetahuan dukungan dari Qur'an diturunkan oleh Allah.

Dr E. Marshall Johnson adalah Profesor Emeritus Anatomi dan Perkembangan Biologi di Thomas Jefferson University, Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat. Di sana, selama 22 tahun ia adalah Profesor Anatomi, Ketua Departemen Anatomi dan Direktur Institut Daniel Baugh.

Dia juga Presiden Society Teratology. Dia telah menulis lebih dari 200 publikasi. Pada tahun 1981, selama Konferensi Kedokteran Ketujuh di Dammam, Arab Saudi, Profesor Johnson mengatakan dalam penyajian makalah penelitiannya:

"Ringkasan: Qur'an menjabarkan tidak hanya perkembangan bentuk eksternal, tetapi menekankan juga tahapan internal, tahapan dalam embrio, penciptaan dan pengembangan, menekankan peristiwa besar yang diakui oleh ilmu pengetahuan kontemporer.

Juga dia berkata: "Sebagai seorang ilmuwan, saya hanya bisa berhubungan dengan hal-hal yang dapat saya lihat. Saya bisa memahami embriologi dan biologi perkembangan. Saya bisa mengerti kata-kata yang diterjemahkan kepada saya dari Quran.

Seperti yang saya berikan contoh sebelumnya, jika saya berpindah waktu ke jaman itu, mengetahui apa yang saya tahu hari ini dan menjelaskan sesuatu, saya tidak bisa menggambarkan sesuatu yang telah dijelaskan.

Saya tidak menemukan bukti untuk fakta untuk menyangkal konsep bahwa orang ini, Muhammad, harus mengembangkan informasi ini dari tempat lain. Jadi saya melihat apa-apa di sini bertentangan dengan konsep bahwa campur tangan Ilahi terlihat dalam apa yang ia mampu untuk menulis "

Dr William W. Hay adalah seorang ilmuwan kelautan terkenal. Dia adalah Profesor Ilmu Geologi di University of Colorado, Boulder, Colorado, Amerika Serikat. Dia adalah mantan Dekan dari Sekolah Rosenstiel Ilmu Kelautan dan Atmosfer di Universitas Miami, Miami, Florida, Amerika Serikat. Setelah diskusi dengan Profesor Hay tentang Quran menyebutkan fakta-fakta baru ditemukan di laut, katanya:

"Saya merasa sangat menarik bahwa informasi semacam ini dalam kitab suci kuno dari Al-Qur'an, dan aku tidak punya cara untuk mengetahui di mana mereka akan datang, tapi saya pikir itu sangat menarik bahwa mereka ada dan bahwa pekerjaan ini adalah terjadi untuk menemukannya, arti dari beberapa bagian "Dan ketika ditanya tentang sumber Quran, ia menjawab:". Nah, saya akan berpikir itu harus menjadi dewa "

Dr Gerald C. Goeringer adalah Direktur Kursus dan Profesor Kepala Embriologi Kedokteran di Departemen Biologi Sel, Sekolah Kedokteran, Universitas Georgetown, Washington, DC, Amerika Serikat. Selama Konferensi Kedokteran ke-Saudi di Riyadh, Arab Saudi, Profesor Goeringer dinyatakan bahwa dalam penyajian makalah penelitiannya:

"Dalam ayat yang relatif sedikit (ayat Alquran) yang terkandung penjelasan lebih komprehensif perkembangan manusia dari waktu percampuran dari gamet melalui organogenesis. Tidak ada catatan yang berbeda dan lengkap dalam pembangunan manusia, seperti klasifikasi, terminologi, dan deskripsi, ada sebelumnya.

Dalam sebagian besar, jika tidak semua, kasus, deskripsi ini antedates oleh beberapa abad rekaman dari berbagai tahap perkembangan embrio dan janin manusia yang tercatat dalam literatur ilmiah tradisional "

Dr Yoshihide Kozai adalah Profesor Emeritus di Universitas Tokyo, Hongo, Tokyo, Jepang, dan Direktur dari National Astronomical Observatory, Mitaka, Tokyo, Jepang. Dia berkata:

"Saya sangat terkesan dengan menemukan fakta-fakta astronomi benar di al Quran, dan bagi kami para astronom modern telah mempelajari bagian yang sangat kecil dari alam semesta. Kami telah memusatkan upaya kita untuk memahami [a] bagian yang sangat kecil.

Sebab dengan menggunakan teleskop, kita dapat melihat hanya bagian sangat sedikit [dari] langit tanpa berpikir [tentang] alam semesta. Jadi, dengan membaca [ini] Quran dan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, saya pikir saya dapat menemukan jalan masa depan saya untuk investigasi alam semesta.

Profesor Tejasen Tejatat adalah Ketua Departemen Anatomi di Universitas Chiang Mai, Chiang Mai, Thailand. Sebelumnya, dia adalah Dekan Fakultas Kedokteran di universitas yang sama. Selama Konferensi Kedokteran ke-Saudi di Riyadh, Arab Saudi, Profesor Tejasen berdiri dan berkata:

"Selama tiga tahun terakhir, saya menjadi tertarik dalam Quran. . . . Dari penelitian saya dan apa yang saya pelajari dari konferensi ini, saya percaya bahwa segala sesuatu yang telah dicatat dalam Quran seribu empat ratus tahun yang lalu harus menjadi kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan sarana ilmiah.

Karena Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis, Muhammad pasti seorang utusan yang menyampaikan kebenaran ini, yang diwahyukan kepadanya sebagai pencerahan yang oleh orang yang memenuhi syarat [sebagai] pencipta. Pencipta ini harus menjadi Allah.

Oleh karena itu, saya pikir ini adalah waktu untuk mengucapkan La ilaha illa Allah, tidak ada Tuhan selain Allah (Tuhan), Muhammadur rasoolu Allah, Muhammad adalah Rasul (Nabi) Allah (Tuhan).

Terakhir, saya harus mengucapkan selamat untuk pengaturan yang sangat baik dan sangat sukses untuk konferensi ini. . . . Yang saya dapatkan tidak hanya dari sudut pandang ilmiah dan sudut pandang agama tetapi juga kesempatan yang bagus bertemu banyak ilmuwan terkenal dan membuat banyak teman baru di antara para peserta.

Yang paling berharga dari semua yang telah saya peroleh dengan datang ke tempat ini adalah La ilaha illa Allah, Muhammadurrasolulloh, dan telah menjadi seorang Muslim.

"Muhammad adalah seorang jenius yang sangat luar biasa.
Berbeda dengan Kristus, Muhammad bukanlah figur kegagalan, namun figur dengan keberhasilan yang mengagumkan.
Perhatian pada apa yang ada di sini dan di saat ini menjadi ciri khusus Islam : tak ada seorang realis yang melebihi Nabi Muhammad SAW, yang merupakan seorang jenius politik sekaligus spiritual."
(Karen Armstrong, dalam A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam)

Senin, 19 Agustus 2013

syair Al Habib Idrus bin Salim Aljufri merespon detik-detik proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945

 
ini adalah syair Al Habib Idrus bin Salim Aljufri ketika merespon detik-detik proklamasi kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1945
(beliau Ulama Sepuh, pendiri ratusan pesantren al-Khairat Palu, dinobatkan sbg Pahlawan Nasional setahun lalu,demikianlah Sambutan Para Ulama sepuh atas Kemerdeka'an Negeri kita tercinta ini serta lahirnya NKRI)
راية العز رفرفي في سمآء * أرضها وجبالها خضرآء
Berkibarlah bendera kemuliaan di angkasa * daratan dan gunung-gunungnya hijau
إن يوم طلوعها يوم فخر * عظمته الأبآء والأبنآء
Sungguh hari kebangkitannya adalah hari kebanggaan * orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya
كل عام يكون لليوم ذكرى * يظهر الشكر فيها والثنآء
Tiap tahun hari itu menjadi peringatan * muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya
كل أمة لها رمز عز * ورمز عزنا الحمراء والبيضآء
Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan * dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih
يا سوكارنو حييت فينا سعيدا * بالدواء منك زال عنا الدآء
Wahai Sukarno! Engkau telah jadikan hidup kami bahagia * dengan obatmu telah hilang penyakit kami
أيها الرئيس المبارك فينا * عندك اليوم للورى الكميآء
Wahai Presiden yang penuh berkah untuk kami * engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat
باليراع وبالسياسة فقتم * ونصرتم بذا جائت الأنبآء
Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul * telah datang berita engkau menang dengannya
لا تبالوا بأنفس وبنين * في سبيل الأوطان نعم الفدآء
Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak * demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu
خذ إلى الأمام للمعالي بأيدي * سبعين مليونا أنت والزعمآء
Gandengkan menuju ke depan untuk kemuliaan dengan tangan-tangan * tujuh puluh juta jiwa bersamamu dan para pemimpin
فستلقى من الرعايا قبولا * وسماعا لما تقوله الرؤسآء
Pasti engkau jumpai dari rakyat kepercayaan * dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin
واعمروا للبلاد حسا ومعنى * وبرهنوا للملا أنكم أكفآء
Makmurkan untuk Negara pembangunan materil dan spiritual * buktikan kepada masyarakat bahwa kamu mampu
أيد الله ملككم وكفاكم * كل شر تحوكه الأعدآء
Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu * dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuhi

Minggu, 18 Agustus 2013

HORMAT BENDERA MERAH PUTIH HORMAT HARGA DIRI BANGSA, BUKAN SYIRIK DAN BID’AH

(Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya)
Ada Fatwa ulama wahabi demikian :
Tidak boleh bagi seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan. Ini termasuk perbuatan bid’ah yang harus diingkari dan tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam ataupun masa Al-Khulafaaur-Raasyiduun radliyallaahu ’anhum. Ia juga bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan di dalam mengagungkan hanya kepada Allah semata serta merupakan sarana menuju kesyirikan.Di samping itu, ia merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang-orang kafir, mentaqlidi tradisi mereka yang jelek, serta menyamai mereka dalam sikap berlebih-lebihan terhadap para pemimpin dan protokoler-protokoler resmi. Padahal, Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam telah melarang kita berlaku sama seperti mereka atau menyerupai mereka.
(Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuts wal-Ifta’ hal. 149 melalui kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil-Masaailil-’Ashriyyah min Fatawa ’Ulama Al-Baladil-Haram oleh Khalid Al-Juraisy)..

Mari kita simak Penjelasan Ketua Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mutabaroh An Nahdliyyah (JATMAN) Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya - Pekalongan.

Merah putih, bukan hanya sekadar warna dari bendera Indonesia. Tetapi memiliki makna yang tinggi bagi kebanggaan dan kewibawaan bangsa. Maka wajib hukumnya untuk dihormati.
”KALAU TIDAK MAU HORMAT PADA BENDERA MERAH PUTIH, SILAHKAN ENYAH DARI INDONESIA,”

Fanatisme terhadap Indonesia, lanjutnya, mutlak dimiliki oleh segenap umat Islam Indonesia. Jangan hanya janji yang diucapkan tetapi buktikan, kalau jiwa dan raga kita rela dikorbankan untuk Indonesia. ”Sangat aneh kalau hormat bendera merah putih dikatakan musyrik, syirik. Mereka tidak mengerti makna musyrik dan syirik, artinya perlu memperdalam lagi belajar agama.

Kita tidak tahu hatinya orang lain, contohnya memasang bendera merah putih saat akan memasang genting dikatakan syirik, padahal itu ada sejarahnya, saat penjajahan dimana bendera merah putih tidak boleh berkibar, ada strategi agar bendera tetap terpasang salah satunya dengan memasang bendera bersama padi dan kelapa di wuwung, setelah tiga hari baru ditutup dengan atap.

Harusnya,kita malu pada para pendahulu kita yang telah menegakan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari hadiah. Tetapi melalui perjuangan yang memakan banyak korban. ”Betapa tak terkira jumlahnya syuhada bangsa yang telah mengorbakan jiwa raganya demi kemerdekaan Indonesia.

Dikala kita sudah merdeka, kita tinggal mengisinya dengan jalan membangun dan membangun bangsa sesuai dengan posisi dan keahlian masing-masing. Kita harus merenung, bagaimana nasib sebutir nasi yang kita makan. Tidak serta merta ada, tetapi banyak tangan-tangan yang terlibat di dalamnya.

Di awali dengan ahli bibit mengadakan penelitian untuk menghasilkan bibit unggul, petani mencangkul, ibu-ibu memanggul, juragan menawarkan kepada bakul-bakul, lalu digiling di rice mill dengan meninggalkan bekatul, barulah beras di tanak menjadi nasi. ”Sebutir nasi, perlu beribu-ribu tangan keihlasan untuk dimakan sebagai sarana menyehatkan badan kita.
Kita belum sadar, kalau laut yang begitu luas mengandung sikap dan sifat yang bersahaja dan tetap teguh pada pendirian, tak tergoyahkan. Kendati laut di kirimi air dari berbagai anak sungai tetapi tetap saja terasa asin.
Begitupun dengan ikan, meski hidup di laut yang berair asin, tetapi tetap saja ikan tidak terasa asin bila di makan, kecuali kalau kita kasihkan garam. ”Peneguhan pendirian mutlak diperlukan, tidak berarti kolot dan mementingkan diri sendiri. Tetapi sebagai tekad mempertahankan prinsip dan ketetapan Allah SWT.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
MERDEKA !!!

Selasa, 13 Agustus 2013

Jasa Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia

Jasa Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia
JANGAN LUPAKAN SEJARAH !!!
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini lahir berkat jasa para ulama dan para kiai, khususnya ulama Nahdlatul Ulama (NU). Karena itu sudah selayaknya tetap mempertahankan kesatuan NKRI agar perjuangan para ulama dan tokoh bangsa tidak sia-sia.
Kontribusi ulama, khususnya para kiai NU ini dibuktikan dengan penunjukan Sukarno-Hatta sebagai Waliyyul Amri ad-Dlaruri bisy-Syaukah di saat Indonesia hilang kewibawaan di mata dunia, serta dengan keluarnya Resolusi Jihad dari Hadratush Sheikh KH. Hasyim Asy’ari yang membangkitkan semangat bertempur kepada Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo dalam melawan penjajah pada 10 Nopember 1945 yang kemudian dikenal dengan Hari Pahlawan.

Sehingga kita heran mengapa segelintir orang yang tidak berkeringat, tidak berdarah-darah dalam perjuangan menegakkan NKRI tiba-tiba ingin mendirikan Negara Islam dengan dalih penegakan Khilafah Islamiyah. Untuk itu mari bersama-sama mendidik anak cucu kita sebagai generasi penerus untuk tetap kenal khidmat, cinta serta berbakti kepada para kiai dan ulama.

Dalam perjuangan kemerdekaan, peran ulama tak dapat diabaikan. Setidaknya ada enam jasa utama yang telah diberikan para ulama untuk perjuangan kemerdekaan.
Pertama, menyadarkan rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah. Di berbagai pesantren, madrasah, ceramah, organisasi, dan pertemuan lainnya, para ulama menanamkan kesadaran di hati rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah tersebut.

Pengaruh para ulama yang disebut ‘pendeta Islam’ itu diakui oleh penjajah. Thomas S. Raffles, Letnan Gubernur EIC yang memerintah pada 1811-1816 di Indonesia berkata, "Karena mereka begitu dihormati, maka tidak sulit bagi mereka untuk menghasut rakyat agar memberontak, dan mereka menjadi alat paling berbahaya di tangan penguasa pribumi yang menentang kepentingan pemerintah kolonial. 'Pendeta Islam' itu ternyata merupakan golongan yang paling aktif dalam setiap peristiwa pemberontakan. Mereka umumnya berdarah campuran antara orang Arab dan penduduk pribumi, dalam jumlah besar berkeliling dari negara satu ke negara lain, di pulau-pulau Timur. Akibat intrik dan hasutan mereka, pemimpin pribumi biasanya dikerahkan untuk menyerang atau membunuh orang Eropa, yang mereka anggap sebagai kafir dan pengacau."

Kedua, memimpin gerakan non kooperatif pada penjajah Belanda. Para ulama di masa penjajahan banyak mendirikan pesantren di daerah-daerah terpencil, untuk menjauhi bangsa penjajah yang banyak tinggal di kota.

Ketika Belanda, di masa revolusi, mempropagandakan pelayanan perjalanan haji dengan ongkos dan fasilitas yang dapat dijangkau oleh kaum Muslim di daerah jajahannya, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari pemimpin para ulama di Jawa menentang. Beliau mengeluarkan fatwa bahwa pergi haji dalam masa revolusi dengan menggunakan kapal Belanda hukumnya haram.

Ketika posisi Belanda sulit dalam Perang Dunia II, mereka meminta orang-orang Indonesia masuk militer Belanda dengan dalih untuk mempertahankan Indonesia melawan musuh Jepang. Waktu itu KH. Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa yang terkenal, yaitu mengharamkan masuk menjadi tentara Belanda atau bekerjasama dengan Belanda dalam bentuk apapun.

Setiap bujukan agar KH. Hasyim Asy'ari tunduk dan mendukung Belanda selalu gagal dilakukan. Bahkan tawaran Belanda yang akan menganugerahkan bintang jasa terbuat dari perak dan emas pada 1937 ditolaknya. Gerakan non kooperatif pada penjajah itu juga dilakukan dan dipimpin oleh ulama-ulama lainnya.

Ketiga, mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan penjajah. Fatwa jihad ini sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan semangat perlawanan. Perang melawan penjajah dianggap jihad fi sabîlillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama

Ajaran perang suci ini muncul di Aceh paling awal abad ke-17, dibangkitkan oleh para guru agama pada masa krisis, yang terparah pada akhir abad ke-19. Salah satu guru agama di tengah medan perang, Syaikh Abbas Ibnu Muhammad, mengatakan dalam Tadhkirat ar-Rakidin ajaran utama tahun 1889, bahwa Aceh merupakan Dar-al-Islam, kecuali daerah yang diperintah Belanda dan menjadi Dar-al-Harb. Jihad merupakan kewajiban moral (fardu ain) orang Islam, termasuk wanita dan anak-anak, berperang untuk mengembalikan tanah yang dikuasai orang kafir kepada Dar-al-Islam.

Perang Diponegoro atau Perang Jawa dapat berkobar lima tahun (1825-1830) juga karena alasan serupa. Dalam proklamasi dan permintaan dukungannya pada ulama, bangsawan, dan masyarakat Jawa, Pangeran Diponegoro, pangeran yang juga ulama menekankan bahwa ia adalah pemimpin 'perang sabil', perang suci, untuk mengusir Belanda yang tidak beriman dari Jawa. Ia menyurati ulama dan pemimpin di Jawa Tengah dan Jawa Timur, menghimbau mereka "untuk ikut melawan Belanda di seluruh daerah untuk mengembalikan kedudukan tinggi kerajaan berdasar agama yang benar (ngluhurken agami Islam)". Dalam menyebarkan fatwa jihad itu, Pangeran Diponegoro dibantu oleh Kiai Mojo, Kiai Besari, dan ulama-ulama lainnya.

Setelah penjajahan Jepang berakhir dengan kekalahannya pada Perang Dunia II, Belanda dan pasukan Sekutu berusaha menjajah Indonesia lagi. Saat itu, Resolusi Jihad yang dikeluarkan para ulama NU, sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan perlawanan rakyat terhadap Belanda dan Sekutu. Resolusi ini bermula dari fatwa KH. Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya, yang kemudian dikokohkan pada Muktamar NU XVI di Purwokerto 26-29 Maret 1946.

Resolusi Jihad menyebutkan bahwa berperang melawan penjajah adalah kewajiban fardu ain bagi orang yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk atau kedudukan musuh. Fardu ain itu baik bagi lelaki, perempuan, maupun anak-anak, bersenjata atau tidak. Dan bagi orang yang di luar jarak 94 km (jauh), kewajiban berperang itu menjadi fardu kifayah. Cukup dikerjakan oleh sebagian saja.

Keberhasilan pertempuran Hari Pahlawan 10 Nopember 1945 di Surabaya tak lepas dari Resolusi Jihad ini. Selain itu, Perang Paderi, Perang Aceh, Pemberontakan Petani di Banten, Pemberontakan Rakyat Singaparna di Jawa Barat, dan banyak peristiwa lainnya, juga dipicu oleh fatwa jihad dari para ulama.

Keempat, memobilisasi dan memimpin rakyat dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Banyak ulama yang menjadi pemimpin perlawanan, seperti Pangeran Diponegoro, Fatahillah, Imam Bonjol, Teuku Umar, Sultan Hasanudin, Teungku Cik Ditiro, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abbas Buntet, KH. Zainal Mustafa, dll.

KH. Hasyim Asy’ari sebagai pemimpin tertinggi Masyumi membentuk laskar-laskar rakyat untuk mendapat latihan ketentaraan dan memanggul senjata dengan metode baru. Mereka dilatih secara militer untuk merebut kemerdekaan. Maka terbentuklah Hizbullah untuk para pemuda dengan semboyan, “Alâ Inna Hizbullâhi hum al-ghâlibûn,” “Ingatlah, sesungguhnya golongan Allahlah golongan yang menang,” dan laskar Sabilillah untuk umumnya para kiai, lelaki, dan wanita, dengan semboyan, “Waman yujâhid fî sabîlillâh,” “Mereka yang berjuang di jalan Allah.”

Dan satu barisan lagi bernama laskar Mujahidin yang menyerupai pasukan maut, yang tak takut mati. Laskar ini membawa semboyan, “Walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ”. “Mereka yang berjuang di jalan-Ku, akan Akau tunjukkan mereka jalan-jalan-Ku.” Mereka yang bergabung dalam laskar-laskar ini mencapai puluhan ribu orang di seantero Indonesia. Di setiap daerah, mereka dipimpin para ulama. Pesantren-pesantren menjadi markasnya, termasuk Tebuireng, Sidogiri, Lirboyo, dan Gontor. Panglima Hizbullah adalah KH Zainul Arifin, dan Panglima Sabilillah adalah KH Masykur. Laskar-laskar ini berperan sangat penting dalam perang kemerdekaan melawan Belanda.

Kelima, menyerukan persatuan membela kemerdekaan RI yang diproklamasikan Soekarno-Hatta. Para ulama yang dipimpin Kiai Hasyim Asy’ari memfatwakan kewajiban mempertahankan kemerdekaan RI. Dan pada 1954, sebuah Musyawarah Alim Ulama Indonesia (NU) di Cipanas mengambil keputusan bahwa Presiden Soekarno adalah Waliyyul Amri Dharûrî bisy-Syaukah, artinya pemegang pemerintahan yang punya cukup kewibawaan dipatuhi oleh pejabat dan rakyat. Keputusan hukum itu mampu menjawab kebingungan umat Islam dengan gelar Imam Negara Islam Indonesia (NII) yang disandang SM Kartosuwiryo. Sehingga mayoritas umat tetap mengakui kepemimpinan nasional Soekarno.

Keenam, berperan aktif dalam mengisi awal kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan para ulama ikut mempersiapkan kemerdekaan, termasuk di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia). Dan pada awal kemerdekaan, banyak ulama yang aktif di pemerintahan atau parlemen. Dan juga tak terhitung para ulama yang berjuang lewat organisasi dan pendidikan.

Setelah Indonesia merdeka, ada dua kekuatan yang disepelekan masyarakat. Setelah perang selesai, ada dua kekuatan, yaitu ulama dan militer yang tidak dianggap berperan dalam menegakkan NKRI… ketika Proklamasi kekuatan militer dari Islam itu luar biasa besarnya. Bung Karno sendiri ketika pidato Proklamasi tanggal 9 Ramadan 1364 H/17 Agustus 1945, kalau tanpa dukungan ulama tidak akan berani… Dan Hasyim Asy’ari waktu juga bilang bahwa presiden pertamanya adalan Bung Karno, dan itu disetujui angkatan laut Jepang.”

Dengan jasa ulama yang sedemikian, ternyata masih relatif sedikit para ulama yang mendapat gelar pahlawan atau tertulis dalam sejarah kemerdekaan. Padahal tanpa jasa para ulama sebagai pemimpin agama dan masyarakat, mustahil perjuangan kemerdekaan akan dapat dibangkitkan dan didukung luas oleh rakyat.

Kemerdekaan bukan hanya hasil dari usaha para bangsawan, tokoh nasionalis terpelajar, dan tentara, namun juga hasil besar dari usaha para ulama. Kemerdekaan bukan hanya hasil perundingan, tulisan, orasi, dan organisasi para tokoh nasionalis. Para ulama telah mengawali dan mendukung perjuangan itu.

Karenanya, sudah selayaknya perjuangan para ulama lebih dihargai dengan penulisan ulang sejarah dan penganugerahan bintang kepahlawanan. Baik ulama yang sudah terkenal, maupun yang belum terkenal, sama-sama berhak dihargai jasa kepahlawanannya bagi bangsa dan negara. Sebagaimana kata Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya".

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
PANCASILA DAN NKRI HARGA MATI !!!

Senin, 12 Agustus 2013

Jadilah ulama yang ihsan

Sampai hari ini ditengah-tengah kita masih saja terjadi sesama umat Islam saling menghujat, saling menyesatkan dan saling mengkafirkan.

Bahkan ironisnya yang sesat dianggap perbedaan biasa, yang perbedaan biasa dianggap sesat. Terbolak balik.

Hal ini kalau dibiarkan akan menjadi bibit permusuhan dan perpecahan.

Jadi jangan mimpi kita bisa bersaudara kalau kita satu sama lainnya saling mengkafirkan. Jangan mimpi kalau kita bersaudara kalau kita satu sama lainnya saling menyesatkan. Mustahil kita bisa bersaudara kalau antara kita satu sama lainnya saling menghujat, saling menyesatkan, saling mengkafirkan. Ini musibah bagi umat Islam. Innalillahi wa inailahi roji’un.

Karena itu saya sangat prihatin terbit sebuah buku dengan judul “Mulia dengan manhaj salaf”. Judulnya bagus betul. Diterbitkan oleh pustaka At Taqwa, Yang menulis Yazid bin Abdul Qodir.

Kenapa saya prihatin dengan kehadiran buku ini. Kalau kita buka pada bab yang ketigabelas yaitu bab yang terakhir. Disini penulis menyebutkan firqoh-firqoh sesat dan menyesatkan. Yang nomor delapan disebutkan Asy’ariah. Yang nomor sembilan disebut Maturidiyah. Kemudian yang nomor empat belas atau yang nomor tiga belas Shufiyah, ahli tasawuf. Yang nomor empat belas Jama’ah Tabligh. Yang nomor lima belas Ikhwanul Muslimin. Yang nomor tujuh belas Hizbut Tahrir. dan nomor dua puluh tujuhnya Jaringan Islam Liberal.

Jadi Asy’ariyah, Maturidiyah, ini yang merupakan representatif, mewakili Ahlussunnah wal Jama’ah dimasukkan dalam satu kelompok dengan kalangan liberal yang notabene sesat menyesatkan.

Bahkan dengan mudahnya dia katakan Jama’ah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin juga masuk firqoh sesat. Apakah yang semacam ini tidak memecah belah umat ?

Jadi kalau penulis ini ingin menyebarluaskan pahamnya, silahkan itu urusan dia. Kalau dia meyakini akidah yang dipercayainya merupakan aqidah yang benar, ttu urusan dia. Kalau dia merasa pendapatnya adalah pendapat yang paling benar, itu urusan dia. Tapi kalau dia mengkafirkan kelompok-kelompok umat Islam dari saudara-saudara kaum musliminnya dia tidak punya hak.

Buku-buku semacam ini memecah belah umat. Kalau pengarang ini merasa bahwa Wahhabi adalah ajaran yang paling benar, silahkan. Dia menamakan dirinya pengikut Salafi atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama istilah Wahhabi. Kalau dia merasa Salafi Wahhabi paling benar, hak dia. Kalau dia merasa paling suci, hak dia. Kalau dia merasa paling lurus, hak dia. Tapi dia tidak punya hak untuk sesat menyesatkan, kafir mengkafirkan sesama umat Islam.

Apalagi umat Islam dari kalangan Asy’ari dan Maturidi yang sudah 1200 tahun lebih secara representatif mewakili Ahlussunnah wal Jama’ah. Wahhabi baru lahir kemarin, terus ingin mengkafirkan ASy’ari. Memang selama ini 1000 tahun yang disebut Ahlussunnah itu siapa?

1000 tahun lebih yang disebut Ahlussunnah itu adalah Asy’ari dan Maturidi. Wahhabi tidak masuk daftar. Baru muncul belakangan, sudah ingin sesat menyesatkan umat Islam yang tidak sepakat dengan mereka. Innalillahi wainailahi rojiun.

Anda perlu ketahui kalau kelompok Wahabi merasa akidah yang diajarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal yang terbaik, itu hak mereka. Tapi mereka harus tahu bahwa ulama-ulama dari Mazhab Syafi’i dan Maliki, mayoritas mereka mengikuti akidah Asy’ariah dan ulama-ulama dari mazhab Hanafi, mayoritas mereka mengikuti akidah Maturidiah.

Jadi kalau mereka mengkafirkan atau menyesatkan Asy’ariah dan Maturidiah berarti ulama-ulama yang jumlahnya ratusan ribu bahkan juta’an orang semenjak mazhab-mazhab itu lahir sampai saat ini berarti ulama-ulama mazhab Syafi’i , Mazhab Maliki, Mazhab Hanafi semuanya sesat, kafir. Innalillahi wainnailahi roji’un.

Tidak boleh begitu. Kita ingin berikan nasehat kepada penulis buku ini atau yang menerbitkannya atau yang mendukung daripada penyebarluasannya. Ittaqullah, takutlah kepada Allah.

Jangan sembarangan mengkafirkan saudara-saudaramu. Tidak boleh kita sembarangan mengkafirkan Ahli Kiblat. tidak boleh saudara, kita hanya boleh mengkafirkan yang sudah nyata-nyata kafir.

KISAH MENYENTUH HATI BERMIMPI JUMPA NABI

Muradik al-Bashri berkisah: “Aku membeli barang dari salah seorang pembesar wilayah Ahwaz. Aku melakukan tawar menawar harga dengannya hingga saling bersitegang. Karena marah, dia mencaci maki Abu Bakar dan Umar. Aku tidak berani menyanggah ucapannya itu karena aku kalah wibawa dengan dia.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan sedih. Pada malam itu aku tidur dengan membawa kesedihan. Aku bertemu Nabi Saw. di dalam mimpiku. Aku berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seseorang yang mencaci maki Abu Bakar dan Umar.”

Beliau Saw. bersabda: “Bawalah orang itu kemari!”

Aku pun membawanya menghadap Rasulullah Saw. Beliau Saw. menitahkan: “Baringkan dia!”

Aku segera membaringkannya. Beliau Saw. kemudian bertitah: “Sembelihlah dia!”

Seketika itu langsung terbayang betapa beratnya perintah menyembelih itu bagiku. Aku bertanya kepada Nabi Saw.: “Wahai Rasulullah, saya harus menyembelihnya?”

Beliau Saw. menjawab: “Ya, sembelihlah dia!”

Aku terus menanyakan hal itu kepada beliau hingga tiga kali dan beliau menjawab dengan jawaban yang sama sebanyak tiga kali pula. Akhirnya aku iriskan pisau melewati tenggorokannya dan aku berhasil menyembelihnya.

Keesokan harinya, aku bergumam kepada diriku sendiri: “Aku akan pergi menjumpai orang itu dan menasihatinya. Aku akan sampaikan mimpiku dari Rasulullah Saw. tadi malam kepadanya.” Lantas aku bergegas menuju rumahnya, tiba-tiba aku mendengar suara ratapan dari rumahnya. Disampaikan berita kepadaku bahwa dia sudah mati.

(Disarikan dari buku “100 Kisah Orang Bermimpi Nabi Muhammad Saw.”)

7 penemuan ilmuwan muslim


Penemuan –penemuan ini sempat terlupakan oleh masyarakat dunia. Untuk itu sebuah yayasan sains, teknologi dan peradaban (The Foundation of science technology and civilization (FSTC) yang berpusat di London mengadakan pameran untuk memperlihatkan dan menegaskan kepada publik tentang kontribusi peradaban non-barat yang sudah ada 1000 tahun yang lampau. Berikut penemuan itu : 
1.    Operasi Bedah
Sekitar tahun 1000 seorang dokter Al Zahrawi mempublikasikan 1500 halaman ensiklopedia berilustrasi tentang operasi bedah yang digunakan di Eropa sebagai referensi  medis selama lebih dari 500 tahun. Zahrawi menggunakan larutan usus kucing menjadi benang jahitan, sebelum menangani operasi kedua untuk memindahkan jahitan pada luka. Dia juga melakukan operasi Caesar dan menciptakan sepasang alat jepit pembedahan

2.  Kopi pertama kali dibuat di Yaman pada sekitar abad ke-9. Pada awalnya kopi membantu kaum sufi  tetap terjaga ibadah larut malam. Kemudian dibawa ke Kairo oleh sekelompok pelajar. Pada abad ke 13 Kopi menyebrang ke Turki tetapi baru abad ke 16 ketika kacang mulai direbus di Eropa. Kopi dibawa ke Italia oleh pedagang Venesia.

3. Universitas
Ilustrasi
Pada tahun 859 seorang putri muda bernama Fatima al-Firhi mendirikan sebuah universitas tingkat pertama di Fez Maroko. Saudara perempuannya Miriam mendirikan masjid indah bersamaan menjadi masjid dan universitas Al-Qorawiyyin dan terus beroperasi selama 1200 tahun kemudian. Hassani mengatakan dia berharap orang akan ingat bahwa belajar adalah inti utama tradisi Islam dan cerita tentang al-Firhi bersaudara akan menginspirasi wanita muslim dimana pun di dunia.

4.   Optik
Diantara tahun 1.000 Ibn al-Haitham membuktikan bahwa manusia melihat objek dari refleksi cahaya dan masuk kemata, mengacuhkan teori Euclid dan Ptolomy bahwa cahaya dihasilkan dari dalam mata sendiri. Fisikawan hebat muslim lainnya juga menemukan fenomena pengukuran kamera dimana dijelaskan bagaimana mata gambar dapat terlihat dengan koneksi antara optik dan otak.
Ilustrasi

5. Musik
Musisi muslim memiliki dampak signifikan di Eropa. Diantara banyak instrument yang hadir ke Eropa melalui Timur tengah adalah lute dan rahab, nenek moyang biola. Skala notasi musik modern juga dikatakan berasal dari alphabet arab.

6. Sikat Gigi
Menurut Hasani, Nabi Muhammad SAW mempopulerkan penggunaan sikat gigi pertama kali pada tahun 600. Menggunakan ranting pohon araq/Siwak, untuk membersihkan gigi dan menyegarkan nafas. Kandungan dalam Siwak juga digunakan dalam pasta gigi modern.


7. Engkol
Dengan mengkonversi gerakan memutar dengan gerakan lurus, pemutar memungkinkan objek berat terangkat relativ lebih mudah. Teknologi ini ditemukan oleh Al-Jazari pada abad ke 12, kemudian digunakan dalam penggunaan sepeda hingga kini.

Sabtu, 10 Agustus 2013

GUS DUR DI MATA HABIB LUTHFI BIN YAHYA

   
GUS DUR DI MATA HABIB LUTHFI BIN YAHYA Memiliki jiwa dan anak keturunan yang shaleh adalah dambaan setiap muslim. Predikat “shaleh” bukanlah sembarangan predikat. Lihat bagaimana seorang nabi dan rasul serta berpredikat Khalilullah Sayyiduna Ibrahim As. saja masih mendambakan keshalehan dalam doanya: رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ “Robbi habliy minashshoolihiin” (Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh). (QS. ash-Shaffaat ayat 100). Ketua Umum Jam’iyyah Ahlut Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya mengaku tidak bisa menyimpulkan apakah Gus Dur wali atau bukan, tetapi ia yakin Gus Dur orang yang shaleh. “Yang tahu wali hanya wali. Dan saya husnudzan billah beliau orang yang shaleh,” kata beliau seusai memberi taushiyah salah satu acara Maulid Nabi Saw. yang diselenggarakan Ansor NU. Beliau menjelaskan bahwa keshalehan atau kewalian seseorang tidak bisa diukur atau dibandingkan layaknya emas berapa karat. “Shaleh ya shaleh, keshalehan seseorang tidak bisa kita ukur, apalagi keauliyaan . Tinggal prasangka baik kita, apalagi Gus Dur yang sudah berbuat untuk umat ini, untuk bangsa ini,” tandas beliau. Lihat betapa seorang ulama besar masa ini, Rais ‘Am, Ketua Umum thariqat di Indonesia bahkan dunia, mengakui akan keshalehan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Seharusnya saya malu menganggap bahwa Gus Dur bukanlah siapa-siapa, apalagi sampai mencacinya. Lhah kita ini siapa dibanding beliau Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya? Takkan terlupakan diri ini di setiap kali ta’lim hari Ahad pagi di Majelis Ta’lim al-Hikmah Ketitang Talang tegal, sang pembina yang mulia al-Habib Qasim bin Hasan bin Husein bin Syaikh Abubakar bin Salim semasa hidupnya tak pernah luput untuk senantiasa mendoakan dua nama ulama yang disejajarkan, yakni Gus Dur dan al-Habib Luthfi. Lahum al-Fatihah... http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/07/gus-dur-di-mata-habib-luthfi-bin-yahya.html

Design by Gus Cholies Visit Original Post Islamic2 Template