Minggu, 25 Agustus 2013
Kamis, 22 Agustus 2013
sang pemimpin teladan yang pernah dilahirkan dunia
"Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu adalah menjadi suri tauladan
yang baik bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan (rahmat)
Ilahi dan (kedatangan) hari kiamat dan orang-orang yang senantiasa ingat
kepada Allah." (QS. Al-Ahzab 33: 21).
Sejak dari abad ke abad
telah lahir pemimpin-pemimpin besar di tengah-tengah berbagai-bagai kaum
dan bangsa, baik yang khusus diutus Tuhan sebagai Rasul atau Nabi
maupun yang dilahirkan dengan bakat kepemimpinan.
Hampir semua
Rasul/Nabi atau pemimpin-pemimpin itu titik berat tugas yang
dilaksanakannya hanya terbatas pada satu atau dua-tiga bidang
kepentingan kehidupan, umpamanya di bidang agama, atau politik saja,
atau ekonomi saja, atau kebudayaan saja dan lain-lain. Tidak ada yang
meliputi semua bidang yang sifatnya menyeluruh, all round.
Berbeda halnya dengan kepemimpinan Nabi Muhammad s.a.w. Mengenai
kepemimpinan Rasulullah itu, dilukiskan oleh Abul A'la Maududi, sebagai
berikut: "Adapun pada diri Nabi Muhammad saw terhimpun dan terpusat
semua sifat-sifat kepemimpinan yang diperlukan, Beliau adalah seorang
Ahli Hikmat, tapi beliau juga seorang pelaksana dari ajaran-ajaran yang
dikembangkannya, seorang negarawan yang ulung, seorang prajurit yang
luar biasa (jenius). Beliau adalah seorang pengatur dan pencipta
undang-undang (legislator), seorang pembina moral dan akhlak. Dia adalah
seorang pembina kerohanian ummat, disamping menjadi pemimpin agama.
Pandangan beliau jauh menembus ufuk cakrawala
kehidupan.Perintah-perintahnya meliputi semua bidang kehidupan, sejak
dari masalah-masalah kecil yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari
sampai kepada soal-soal yang bersifat internasional.
Akhirnya
Maududi menyimpulkan : "Nabi Muhammad adalah satu-satunya contoh
kepemimpinan yang lengkap, dimana semua keunggulan/keistimewaan
terkumpul dalam diri seorang pribadi." (He is the only example where all
excellences have been blended into one personality). (The Prophet of
Islam, hal 25).
Baiklah dikemukakan di sini secara singkat
tentang kepemimpinan Rasulullah dalam beberapa bidang supaya bisa
menjadi tauladan bagi kita semua.
Nabi Muhammad sebagai pemimpin agama.
Beliau mengembangkan agama yang menjadi landasan dalam kehidupan ummat
manusia, tak ubahnya laksana fondasi dari satu bangunan. Landasan itu
ialah TAUHID, yaitu kepercayaan yang bulat dan mutlak terhadap ke-Esaan
Allah SWT dan hanya kepada Allah SWT sajalah manusia wajib berbakti dan
menyembah.
Sebagian besar ummat manusia pada waktu itu tidak
murni lagi kepercayaannya. Sebab di samping percaya kepada Allah, mereka
percaya pula kepada tuhan-tuhan yang lain, malah ada yang menyembah
patung-patung dan berhala-berhala. Ada pula yang percaya kepada pengaruh
udara, matahari, bulan, bintang dan lain-lain yang mereka anggap
menentukan keadaan dan nasib mereka. Apabila ditimpa kesusahan, mereka
minta tolong kepada patung-patung, kalau mendapat nikmat, mereka
memuja-muji berhala-berhala."Kekacauan" dalam bidang kepercayaan ini
membawa pengaruh yang "kacau" pula dalam membentuk pandangan dan sikap
yang buruk terhadap bidang-bidang kehidupan lainnya.Dengan ajaran Tauhid
ini yang beliau ajarkan dan mantapkan kepada ummatnya dalam masa lebih
kurang 13 tahun, akhirnya merupakan sumber yang memancarkan kemurnian,
kekuatan yang mampu mengubah sikap hidup dan cara pikir ummat manusia
pada waktu itu sesuai dengan pokok-pokok misi yang dijalankan oleh
Rasulullah (Muhammad).
Sebagai pemimpin agama, maka titik awal
dan titik berat ajaran yang dikembangkan oleh beliau ialah menanamkan
Tauhid, yang dalam Al-Quran disebutkan dengan predikat
"Syaratun-thaiyibah" ; yaitu pohon yang baik, yang memenuhi
syarat-syarat untuk hidup dan memberikan kehidupan.Apabila pohon Tauhid
itu sudah tegak, kecuali dia kelihatan indah, daunnya yang rindang dapat
dijadikan tempat berteduh di panas yang terik, buahnya bisa dinikmati
kelezatannya, pun mahapenting ia berdiri tegak dan mantap (istiqamah),
tidak bergoncang ditiup angin taufan sekalipun, sebab akarnya telah
tertancap jauh ke dalam bumi (iman yang kuat dan kokoh).
Nabi Muhammad sebagai negarawan.
Setelah Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tenaga inti
yang sudah terlatih dan terseleksi, yaitu kaum Muhajirin, dibantu oleh
kaum Anshar, maka dalam masa kurang lebih 10 tahun, satu masa yang
relatif pendek, Rasulullah telah berhasil membangun satu pemerintahan
Islam, DAULAH ISLAMIYAH, yang lengkap memenuhi unsur-unsur yang
diperlukan dalam membangun dan mengembangkannya.Dalam segala bidang
kehidupan, Rasulullah melaksanakan essensi dari pokok-pokok kehidupan
suatu negara dan ummat, yang dalam kehidupan demokrasi beberapa abad
kemudian terkenal dengan istilah: kemerdekaan, persamaan dan
persaudaraan (liberte, egalite, fraternite).
Ajaran Islam
memberikan hak-hak kemerdekaan kepada pemeluknya yang menjadi
warganegara Kekuasaan Islam yang baru dibangun pada masa itu.
Kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan melahirkan pendapat dalam
pemerintahan senantiasa dikembangkan oleh negarawan yang bernama
Muhammad. Di samping itu, baik melalui ketentuan-ketentuan dalam
pemerintahan maupun dalam sikap dan pergaulan sehari-hari, beliau
mengembangkan ruh dan semangat persamaan serta persaudaraan.
Beliau menghapuskan perbedaan-perbedaan karena keturunan, kekayaan,
kebangsaan, perbedaan warna, dan kulit serta lain-lain sebagainya,
sehingga orang-orang asing seperti Salman Al Farisi yang berkebangsaan
Persia, diberikan kedudukan dan memegang peranan yang penting dalam
pemerintahan Islam. Dalam pergaulan dan urusan-urusan keagamaan, seorang
yang berkulit hitam dan tadinya pernah menjadi budak seperti Bilal bin
Rabah, mendapat kedudukan sesuai dengan kemampuannya dan loyalitasnya.
Walaupun kepemimpinan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai utusan Allah
(Rasulullah) senantiasa mendapat bimbingan dan petunjuk Ilahi, tapi
mengenai pelaksanaan sesuatu hal yang tidak ditetapkan oleh wahyu,
beliau selalu bermusyawarah dengan para pembantunya serta para sahabat
pada umumnya, sesuai dengan garis-garis yang ditetapkan oleh wahyu
Ilahi, yang memerintahkan:
"Bermusyawarahlah dengan mereka
dalam beberapa urusan." (QS. Ali Imran 3: 159). "Urusan-urusan mereka
haruslah (diputuskan) dengan musyawarah diantara mereka sendiri." (QS.
As-Syura 42: 38).
Nabi Muhammad sebagai pembangun moral.
Salah satu faset lainnya kepemimpinan Rasulullah ialah tentang misi beliau sebagai pembangun moral, akhlak dan budi pekerti.
Malah justru membangun moral itu merupakan tugas beliau yang utama,
seperti dinyatakan oleh Rasulullah sendiri:"Saya diutus (titik beratnya)
ialah untuk menyempurnakan (membangun) akhlak yang mulia." (Riwayat
Imam Malik). Akhlak itu menjadi mustika (intan-permata) yang
memantulkacahaya yang berkilau-kilau dalam kehidupan manusia. Tak
ubahnya laksana kembang bunga di dalam suatu taman yang menambah
keindahan taman tersebut bila dipandang mata.
Segala
sifat-sifat dan watak yang baik, terpuji, mulia dan yang seumpamanya
adalah termasuk dalam rangkaian akhlak itu. Misalnya saja sifat-sifat:
rendah hati (tawadhu'), penyantun, ramah tamah, pemaaf, penyabar, sopan
santun, ulet, sederhana, jujur, amanah, cerdas (fathanah) dan
berpuluh-puluh sifat lainnya.
Budipekerti yang mulia itu lebih
dahulu diterapkan dan ditunjukkan oleh Rasulullah sendiri dalam
pergaulan sehari-hari, sehingga tidak heran apabila akhlak beliau itu
laksana magnet yang mampu menarik jarum yang berserakan di sekitarnya.
Ucapan-ucapan beliau sesuai dengan sifat dan tingkah lakunya, sesuai kata dengan perbuatan.
Akhlak Rasulullah itu telah berhasil melembutkan hati manusia yang
kesat, menundukkan sikap yang kasar, menimbulkan respek dan simpati
orang banyak, menambah kecintaan orang-orang yang miskin, meyakinkan
kaum wanita atas perlindungan yang diberikannya dan lain-lain
sebagainya.
Dalam hubungan dengan pengaruh akhlak dan sifat
kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, disimpulkan oleh Abdur Rahman 'Azzam,
bekas sekjen Liga Arab beberapa puluh tahun yang lalu, sebagai berikut:
"One of the most important aspects of this revolution was the moral and
spiritual transformation which Muhammad examplified in his deeds and
personality and in the principles he advocated in accordance with the
letter and spirit of his message. "Maksudnya :"salah satu aspek yang
paling penting dari perubahan (revolusi) itu ialah penjelmaan akhlak dan
jiwa yang diterapkan oleh Muhammad dalam perbuatan dan kehidupan
pribadinya dan dalam prinsip-prinsip yang dipertahankannya sesuai dengan
kata-kata dan semangat ajaran yang menjadi pokok tugasnya."
(The Eternal Message of Muhammad, hal 77).
Keluhuran akhlak Rasulullah itu telah mendapat pujian dan bimbingan
khusus dari Allah, seperti dinyatakan dalam Al-Quran (yang artinya) :
"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar- benar mempunyai budipekerti
yang agung." (QS. Al-Qalam 68 : 4).
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Apa kata negarawan dan ilmuwan tentang Muhammad
Pilihan saya menjadikan Muhammad pada rangking tertingi tokoh yang
paling berpengaruh di dunia barangkali mengejutkan sebagian pembaca dan
mungkin dipertanyakan oleh sebagain yang lain, akan tetapi dialah
satu-satunya orang yang pernah ada dalam sejarah yang paling berhasil
baik dalam ukuran agama maupun ukuran sekuler. (Michael H. Hart, The
100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, Hart
Publishing Company, Inc. 1987, p. 33)
Kesuksesan terbesar dalam
hidup Muhammad sepenuhnya muncul dari kekuatan moral. Bukanlah kemajuan
agama Islam, namun sifat permanent agama tersebut yang menyebabkan kita
takjub. Kesan yang sempurna dan murni terhadap pribadinya yang ia
pahatkan di Mekah dan Madinah tetap terjaga sekalipun telah berlalu
revolusi masuknya orang-orang India, Afrika dan Turki kepada Al Quran
selama 12 abad. (Edward Gibbon and Simon Oakley in History of the
Saracen Empire, London, 1870).
Saya ingin tahu kehidupan
terbaik seseorang yang pesonanya tertanam di dalam sanubari jutaan orang
saat ini. Saya menjadi yakin lebih dari yang pernah saya alami
sebelumnya bahwa bukanlah pedang yang memenangkan Islam pada saat itu.
Adalah kesederhanaan yang kuat, ekspresi kerendah-hatian dari sang Nabi,
memegang teguh janji, dedikasinya yang tinggi pada para sahabat dan
pengikutnya, keberaniannya, kepercayaanya yang tinggi terhadap Tuhan dan
terhadap misinya. Inilah (yang menjadi kunci keberhasilan), dan
bukannya karena pedang di depan mereka untuk mengatasi setiap rintangan.
Ketika aku menutup volume kedua (dari Biografi sang Nabi), saya sedih
tidak ada lagi yang bisa kubaca dari kehidupannya yang agung tersebut.
(Mahatma Gandhi, dikutip dari harian Young India, 1924)
Saya
selalu memandang agama Muhammad secara tinggi karena begitu hebat
vitalistasnya. Inilah satu-satunya agama yang saya lihat memiliki
kemampuan asimilasi terhadap fase perubahan eksistensi yang membuatnya
menarik pada setiap jaman. Saya telah mempelajari dia (Muhammad),
menurut saya ia adalah manusia yang menakjubkan, dan dalam pandangan
saya sebagai seorang anti-Kristen, ia patut disebut sebagai Penyelamat
Kemanusiaan. … Saya percaya bahwa kalaupun orang seperti dia memilih
cara diktaktor menurut ukuran dunia modern, dia akan berhasil mengatasi
berbagai permasalahan yang ada. Dalam pengertian ia akan menghadirkan
kedamaian dan kebahagiaan. Saya telah memperkirakan bahwa kepercayaan
Muhammad akan bisa diterima oleh Eropa di masa yang akan datang
sebagaimana ia telah mulai diterima Eropa saat ini. (Sir George Bernard
Shaw, The Genuine Islam, Vol. 1, No. 8, 1936)
Dr Joe Leigh
Simpson adalah Ketua Departemen Obstetri dan Ginekologi, Profesor
Obstetri dan Ginekologi, dan Profesor Molekular dan Genetika Manusia di
Baylor College of Medicine, Houston, Texas, Amerika Serikat.
Sebelumnya, dia adalah Profesor dari Ob-Gyn dan Ketua Departemen Ob-Gyn
di University of Tennessee, Memphis, Tennessee, Amerika Serikat. Dia
juga Presiden Fertility Society Amerika.
Profesor Simpson mempelajari dua perkataan berikut Nabi Muhammad:
"Di setiap salah satu dari kalian, semua komponen kreasi Anda dikumpulkan bersama dalam rahim ibumu oleh empat puluh hari ..."
"Jika empat puluh dua malam telah melewati embrio, Tuhan mengirimkan
malaikat untuk itu, yang membentuk dan menciptakan pendengaran, visi,
kulit, daging, dan tulang ...."
Ia belajar dua perkataan Nabi
Muhammad secara luas, mencatat bahwa empat puluh hari pertama merupakan
tahap jelas dibedakan embrio-genesis. Dia sangat terkesan dengan
ketepatan dan keakuratan dari mereka perkataan Nabi Muhammad. Kemudian,
dalam salah satu konferensi, dia memberikan pendapat sebagai berikut:
"Jadi bahwa kedua hadits (perkataan Nabi Muhammad) yang telah dicatat
memberikan kami sebuah meja waktu tertentu untuk pengembangan
embriologis utama sebelum empat puluh hari.
Sekali lagi,
intinya telah dibuat, saya pikir, berulang kali oleh pembicara lain pagi
ini: hadits ini tidak mungkin diperoleh atas dasar pengetahuan ilmiah
yang tersedia [at] saat menulis mereka. . . . Ini mengikuti, saya pikir,
yang tidak hanya tidak ada konflik antara genetika dan agama tetapi,
pada kenyataannya, agama bisa membimbing sains dengan menambahkan wahyu
kepada beberapa pendekatan ilmiah tradisional, bahwa tidak ada
pernyataan dalam abad ditampilkan Quran kemudian akan berlaku, yang
pengetahuan dukungan dari Qur'an diturunkan oleh Allah.
Dr E.
Marshall Johnson adalah Profesor Emeritus Anatomi dan Perkembangan
Biologi di Thomas Jefferson University, Philadelphia, Pennsylvania,
Amerika Serikat. Di sana, selama 22 tahun ia adalah Profesor Anatomi,
Ketua Departemen Anatomi dan Direktur Institut Daniel Baugh.
Dia juga Presiden Society Teratology. Dia telah menulis lebih dari 200
publikasi. Pada tahun 1981, selama Konferensi Kedokteran Ketujuh di
Dammam, Arab Saudi, Profesor Johnson mengatakan dalam penyajian makalah
penelitiannya:
"Ringkasan: Qur'an menjabarkan tidak hanya
perkembangan bentuk eksternal, tetapi menekankan juga tahapan internal,
tahapan dalam embrio, penciptaan dan pengembangan, menekankan peristiwa
besar yang diakui oleh ilmu pengetahuan kontemporer.
Juga dia
berkata: "Sebagai seorang ilmuwan, saya hanya bisa berhubungan dengan
hal-hal yang dapat saya lihat. Saya bisa memahami embriologi dan biologi
perkembangan. Saya bisa mengerti kata-kata yang diterjemahkan kepada
saya dari Quran.
Seperti yang saya berikan contoh sebelumnya,
jika saya berpindah waktu ke jaman itu, mengetahui apa yang saya tahu
hari ini dan menjelaskan sesuatu, saya tidak bisa menggambarkan sesuatu
yang telah dijelaskan.
Saya tidak menemukan bukti untuk fakta
untuk menyangkal konsep bahwa orang ini, Muhammad, harus mengembangkan
informasi ini dari tempat lain. Jadi saya melihat apa-apa di sini
bertentangan dengan konsep bahwa campur tangan Ilahi terlihat dalam apa
yang ia mampu untuk menulis "
Dr William W. Hay adalah seorang
ilmuwan kelautan terkenal. Dia adalah Profesor Ilmu Geologi di
University of Colorado, Boulder, Colorado, Amerika Serikat. Dia adalah
mantan Dekan dari Sekolah Rosenstiel Ilmu Kelautan dan Atmosfer di
Universitas Miami, Miami, Florida, Amerika Serikat. Setelah diskusi
dengan Profesor Hay tentang Quran menyebutkan fakta-fakta baru ditemukan
di laut, katanya:
"Saya merasa sangat menarik bahwa informasi
semacam ini dalam kitab suci kuno dari Al-Qur'an, dan aku tidak punya
cara untuk mengetahui di mana mereka akan datang, tapi saya pikir itu
sangat menarik bahwa mereka ada dan bahwa pekerjaan ini adalah terjadi
untuk menemukannya, arti dari beberapa bagian "Dan ketika ditanya
tentang sumber Quran, ia menjawab:". Nah, saya akan berpikir itu harus
menjadi dewa "
Dr Gerald C. Goeringer adalah Direktur Kursus
dan Profesor Kepala Embriologi Kedokteran di Departemen Biologi Sel,
Sekolah Kedokteran, Universitas Georgetown, Washington, DC, Amerika
Serikat. Selama Konferensi Kedokteran ke-Saudi di Riyadh, Arab Saudi,
Profesor Goeringer dinyatakan bahwa dalam penyajian makalah
penelitiannya:
"Dalam ayat yang relatif sedikit (ayat Alquran)
yang terkandung penjelasan lebih komprehensif perkembangan manusia dari
waktu percampuran dari gamet melalui organogenesis. Tidak ada catatan
yang berbeda dan lengkap dalam pembangunan manusia, seperti klasifikasi,
terminologi, dan deskripsi, ada sebelumnya.
Dalam sebagian
besar, jika tidak semua, kasus, deskripsi ini antedates oleh beberapa
abad rekaman dari berbagai tahap perkembangan embrio dan janin manusia
yang tercatat dalam literatur ilmiah tradisional "
Dr Yoshihide
Kozai adalah Profesor Emeritus di Universitas Tokyo, Hongo, Tokyo,
Jepang, dan Direktur dari National Astronomical Observatory, Mitaka,
Tokyo, Jepang. Dia berkata:
"Saya sangat terkesan dengan
menemukan fakta-fakta astronomi benar di al Quran, dan bagi kami para
astronom modern telah mempelajari bagian yang sangat kecil dari alam
semesta. Kami telah memusatkan upaya kita untuk memahami [a] bagian yang
sangat kecil.
Sebab dengan menggunakan teleskop, kita dapat
melihat hanya bagian sangat sedikit [dari] langit tanpa berpikir
[tentang] alam semesta. Jadi, dengan membaca [ini] Quran dan dengan
menjawab pertanyaan-pertanyaan, saya pikir saya dapat menemukan jalan
masa depan saya untuk investigasi alam semesta.
Profesor
Tejasen Tejatat adalah Ketua Departemen Anatomi di Universitas Chiang
Mai, Chiang Mai, Thailand. Sebelumnya, dia adalah Dekan Fakultas
Kedokteran di universitas yang sama. Selama Konferensi Kedokteran
ke-Saudi di Riyadh, Arab Saudi, Profesor Tejasen berdiri dan berkata:
"Selama tiga tahun terakhir, saya menjadi tertarik dalam Quran. . . .
Dari penelitian saya dan apa yang saya pelajari dari konferensi ini,
saya percaya bahwa segala sesuatu yang telah dicatat dalam Quran seribu
empat ratus tahun yang lalu harus menjadi kebenaran, yang dapat
dibuktikan dengan sarana ilmiah.
Karena Nabi Muhammad tidak
bisa membaca dan menulis, Muhammad pasti seorang utusan yang
menyampaikan kebenaran ini, yang diwahyukan kepadanya sebagai pencerahan
yang oleh orang yang memenuhi syarat [sebagai] pencipta. Pencipta ini
harus menjadi Allah.
Oleh karena itu, saya pikir ini adalah
waktu untuk mengucapkan La ilaha illa Allah, tidak ada Tuhan selain
Allah (Tuhan), Muhammadur rasoolu Allah, Muhammad adalah Rasul (Nabi)
Allah (Tuhan).
Terakhir, saya harus mengucapkan selamat untuk
pengaturan yang sangat baik dan sangat sukses untuk konferensi ini. . . .
Yang saya dapatkan tidak hanya dari sudut pandang ilmiah dan sudut
pandang agama tetapi juga kesempatan yang bagus bertemu banyak ilmuwan
terkenal dan membuat banyak teman baru di antara para peserta.
Yang paling berharga dari semua yang telah saya peroleh dengan datang ke
tempat ini adalah La ilaha illa Allah, Muhammadurrasolulloh, dan telah
menjadi seorang Muslim.
"Muhammad adalah seorang jenius yang sangat luar biasa.
Berbeda dengan Kristus, Muhammad bukanlah figur kegagalan, namun figur dengan keberhasilan yang mengagumkan.
Perhatian pada apa yang ada di sini dan di saat ini menjadi ciri khusus
Islam : tak ada seorang realis yang melebihi Nabi Muhammad SAW, yang
merupakan seorang jenius politik sekaligus spiritual."
(Karen Armstrong, dalam A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam)
Senin, 19 Agustus 2013
syair Al Habib Idrus bin Salim Aljufri merespon detik-detik proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945
ini adalah syair Al Habib Idrus bin Salim Aljufri ketika merespon detik-detik proklamasi kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1945
(beliau Ulama Sepuh, pendiri ratusan pesantren al-Khairat Palu,
dinobatkan sbg Pahlawan Nasional setahun lalu,demikianlah Sambutan Para
Ulama sepuh atas Kemerdeka'an Negeri kita tercinta ini serta lahirnya
NKRI)
راية العز رفرفي في سمآء * أرضها وجبالها خضرآء
Berkibarlah bendera kemuliaan di angkasa * daratan dan gunung-gunungnya hijau
إن يوم طلوعها يوم فخر * عظمته الأبآء والأبنآء
Sungguh hari kebangkitannya adalah hari kebanggaan * orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya
كل عام يكون لليوم ذكرى * يظهر الشكر فيها والثنآء
Tiap tahun hari itu menjadi peringatan * muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya
كل أمة لها رمز عز * ورمز عزنا الحمراء والبيضآء
Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan * dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih
يا سوكارنو حييت فينا سعيدا * بالدواء منك زال عنا الدآء
Wahai Sukarno! Engkau telah jadikan hidup kami bahagia * dengan obatmu telah hilang penyakit kami
أيها الرئيس المبارك فينا * عندك اليوم للورى الكميآء
Wahai Presiden yang penuh berkah untuk kami * engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat
باليراع وبالسياسة فقتم * ونصرتم بذا جائت الأنبآء
Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul * telah datang berita engkau menang dengannya
لا تبالوا بأنفس وبنين * في سبيل الأوطان نعم الفدآء
Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak * demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu
خذ إلى الأمام للمعالي بأيدي * سبعين مليونا أنت والزعمآء
Gandengkan menuju ke depan untuk kemuliaan dengan tangan-tangan * tujuh puluh juta jiwa bersamamu dan para pemimpin
فستلقى من الرعايا قبولا * وسماعا لما تقوله الرؤسآء
Pasti engkau jumpai dari rakyat kepercayaan * dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin
واعمروا للبلاد حسا ومعنى * وبرهنوا للملا أنكم أكفآء
Makmurkan untuk Negara pembangunan materil dan spiritual * buktikan kepada masyarakat bahwa kamu mampu
أيد الله ملككم وكفاكم * كل شر تحوكه الأعدآء
Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu * dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuhi
Minggu, 18 Agustus 2013
HORMAT BENDERA MERAH PUTIH HORMAT HARGA DIRI BANGSA, BUKAN SYIRIK DAN BID’AH
(Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya)
Ada Fatwa ulama wahabi demikian :
Tidak boleh bagi seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada
bendera dan lagu kebangsaan. Ini termasuk perbuatan bid’ah yang harus
diingkari dan tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah shallallaahu
’alaihi wa sallam ataupun masa Al-Khulafaaur-Raasyiduun radliyallaahu
’anhum. Ia juga bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan
keikhlasan di dalam mengagungkan hanya kepada Allah semata serta
merupakan sarana menuju kesyirikan.Di samping itu, ia merupakan bentuk
penyerupaan terhadap orang-orang kafir, mentaqlidi tradisi mereka yang
jelek, serta menyamai mereka dalam sikap berlebih-lebihan terhadap para
pemimpin dan protokoler-protokoler resmi. Padahal, Nabi shallallaahu
’alaihi wa sallam telah melarang kita berlaku sama seperti mereka atau
menyerupai mereka.
(Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuts
wal-Ifta’ hal. 149 melalui kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah
fil-Masaailil-’Ashriyyah min Fatawa ’Ulama Al-Baladil-Haram oleh Khalid
Al-Juraisy)..
Mari kita simak Penjelasan Ketua Jam’iyyah
Ahlith Thariqah Al Mutabaroh An Nahdliyyah (JATMAN) Maulana Al-Habib
Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya - Pekalongan.
Merah putih, bukan hanya sekadar warna dari bendera Indonesia. Tetapi
memiliki makna yang tinggi bagi kebanggaan dan kewibawaan bangsa. Maka
wajib hukumnya untuk dihormati.
”KALAU TIDAK MAU HORMAT PADA BENDERA MERAH PUTIH, SILAHKAN ENYAH DARI INDONESIA,”
Fanatisme terhadap Indonesia, lanjutnya, mutlak dimiliki oleh segenap
umat Islam Indonesia. Jangan hanya janji yang diucapkan tetapi buktikan,
kalau jiwa dan raga kita rela dikorbankan untuk Indonesia. ”Sangat aneh
kalau hormat bendera merah putih dikatakan musyrik, syirik. Mereka
tidak mengerti makna musyrik dan syirik, artinya perlu memperdalam lagi
belajar agama.
Kita tidak tahu hatinya orang lain, contohnya
memasang bendera merah putih saat akan memasang genting dikatakan
syirik, padahal itu ada sejarahnya, saat penjajahan dimana bendera merah
putih tidak boleh berkibar, ada strategi agar bendera tetap terpasang
salah satunya dengan memasang bendera bersama padi dan kelapa di wuwung,
setelah tiga hari baru ditutup dengan atap.
Harusnya,kita
malu pada para pendahulu kita yang telah menegakan Indonesia.
Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari hadiah. Tetapi melalui
perjuangan yang memakan banyak korban. ”Betapa tak terkira jumlahnya
syuhada bangsa yang telah mengorbakan jiwa raganya demi kemerdekaan
Indonesia.
Dikala kita sudah merdeka, kita tinggal mengisinya
dengan jalan membangun dan membangun bangsa sesuai dengan posisi dan
keahlian masing-masing. Kita harus merenung, bagaimana nasib sebutir
nasi yang kita makan. Tidak serta merta ada, tetapi banyak tangan-tangan
yang terlibat di dalamnya.
Di awali dengan ahli bibit
mengadakan penelitian untuk menghasilkan bibit unggul, petani
mencangkul, ibu-ibu memanggul, juragan menawarkan kepada bakul-bakul,
lalu digiling di rice mill dengan meninggalkan bekatul, barulah beras di
tanak menjadi nasi. ”Sebutir nasi, perlu beribu-ribu tangan keihlasan
untuk dimakan sebagai sarana menyehatkan badan kita.
Kita belum
sadar, kalau laut yang begitu luas mengandung sikap dan sifat yang
bersahaja dan tetap teguh pada pendirian, tak tergoyahkan. Kendati laut
di kirimi air dari berbagai anak sungai tetapi tetap saja terasa asin.
Begitupun dengan ikan, meski hidup di laut yang berair asin, tetapi
tetap saja ikan tidak terasa asin bila di makan, kecuali kalau kita
kasihkan garam. ”Peneguhan pendirian mutlak diperlukan, tidak berarti
kolot dan mementingkan diri sendiri. Tetapi sebagai tekad mempertahankan
prinsip dan ketetapan Allah SWT.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
MERDEKA !!!
Ada Fatwa ulama wahabi demikian :
Tidak boleh bagi seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan. Ini termasuk perbuatan bid’ah yang harus diingkari dan tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam ataupun masa Al-Khulafaaur-Raasyiduun radliyallaahu ’anhum. Ia juga bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan di dalam mengagungkan hanya kepada Allah semata serta merupakan sarana menuju kesyirikan.Di samping itu, ia merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang-orang kafir, mentaqlidi tradisi mereka yang jelek, serta menyamai mereka dalam sikap berlebih-lebihan terhadap para pemimpin dan protokoler-protokoler resmi. Padahal, Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam telah melarang kita berlaku sama seperti mereka atau menyerupai mereka.
(Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuts wal-Ifta’ hal. 149 melalui kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil-Masaailil-’Ashriyyah min Fatawa ’Ulama Al-Baladil-Haram oleh Khalid Al-Juraisy)..
Mari kita simak Penjelasan Ketua Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mutabaroh An Nahdliyyah (JATMAN) Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya - Pekalongan.
Merah putih, bukan hanya sekadar warna dari bendera Indonesia. Tetapi memiliki makna yang tinggi bagi kebanggaan dan kewibawaan bangsa. Maka wajib hukumnya untuk dihormati.
”KALAU TIDAK MAU HORMAT PADA BENDERA MERAH PUTIH, SILAHKAN ENYAH DARI INDONESIA,”
Fanatisme terhadap Indonesia, lanjutnya, mutlak dimiliki oleh segenap umat Islam Indonesia. Jangan hanya janji yang diucapkan tetapi buktikan, kalau jiwa dan raga kita rela dikorbankan untuk Indonesia. ”Sangat aneh kalau hormat bendera merah putih dikatakan musyrik, syirik. Mereka tidak mengerti makna musyrik dan syirik, artinya perlu memperdalam lagi belajar agama.
Kita tidak tahu hatinya orang lain, contohnya memasang bendera merah putih saat akan memasang genting dikatakan syirik, padahal itu ada sejarahnya, saat penjajahan dimana bendera merah putih tidak boleh berkibar, ada strategi agar bendera tetap terpasang salah satunya dengan memasang bendera bersama padi dan kelapa di wuwung, setelah tiga hari baru ditutup dengan atap.
Harusnya,kita malu pada para pendahulu kita yang telah menegakan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari hadiah. Tetapi melalui perjuangan yang memakan banyak korban. ”Betapa tak terkira jumlahnya syuhada bangsa yang telah mengorbakan jiwa raganya demi kemerdekaan Indonesia.
Dikala kita sudah merdeka, kita tinggal mengisinya dengan jalan membangun dan membangun bangsa sesuai dengan posisi dan keahlian masing-masing. Kita harus merenung, bagaimana nasib sebutir nasi yang kita makan. Tidak serta merta ada, tetapi banyak tangan-tangan yang terlibat di dalamnya.
Di awali dengan ahli bibit mengadakan penelitian untuk menghasilkan bibit unggul, petani mencangkul, ibu-ibu memanggul, juragan menawarkan kepada bakul-bakul, lalu digiling di rice mill dengan meninggalkan bekatul, barulah beras di tanak menjadi nasi. ”Sebutir nasi, perlu beribu-ribu tangan keihlasan untuk dimakan sebagai sarana menyehatkan badan kita.
Kita belum sadar, kalau laut yang begitu luas mengandung sikap dan sifat yang bersahaja dan tetap teguh pada pendirian, tak tergoyahkan. Kendati laut di kirimi air dari berbagai anak sungai tetapi tetap saja terasa asin.
Begitupun dengan ikan, meski hidup di laut yang berair asin, tetapi tetap saja ikan tidak terasa asin bila di makan, kecuali kalau kita kasihkan garam. ”Peneguhan pendirian mutlak diperlukan, tidak berarti kolot dan mementingkan diri sendiri. Tetapi sebagai tekad mempertahankan prinsip dan ketetapan Allah SWT.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
MERDEKA !!!
Tidak boleh bagi seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan. Ini termasuk perbuatan bid’ah yang harus diingkari dan tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam ataupun masa Al-Khulafaaur-Raasyiduun radliyallaahu ’anhum. Ia juga bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan di dalam mengagungkan hanya kepada Allah semata serta merupakan sarana menuju kesyirikan.Di samping itu, ia merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang-orang kafir, mentaqlidi tradisi mereka yang jelek, serta menyamai mereka dalam sikap berlebih-lebihan terhadap para pemimpin dan protokoler-protokoler resmi. Padahal, Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam telah melarang kita berlaku sama seperti mereka atau menyerupai mereka.
(Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuts wal-Ifta’ hal. 149 melalui kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil-Masaailil-’Ashriyyah min Fatawa ’Ulama Al-Baladil-Haram oleh Khalid Al-Juraisy)..
Mari kita simak Penjelasan Ketua Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mutabaroh An Nahdliyyah (JATMAN) Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya - Pekalongan.
Merah putih, bukan hanya sekadar warna dari bendera Indonesia. Tetapi memiliki makna yang tinggi bagi kebanggaan dan kewibawaan bangsa. Maka wajib hukumnya untuk dihormati.
”KALAU TIDAK MAU HORMAT PADA BENDERA MERAH PUTIH, SILAHKAN ENYAH DARI INDONESIA,”
Fanatisme terhadap Indonesia, lanjutnya, mutlak dimiliki oleh segenap umat Islam Indonesia. Jangan hanya janji yang diucapkan tetapi buktikan, kalau jiwa dan raga kita rela dikorbankan untuk Indonesia. ”Sangat aneh kalau hormat bendera merah putih dikatakan musyrik, syirik. Mereka tidak mengerti makna musyrik dan syirik, artinya perlu memperdalam lagi belajar agama.
Kita tidak tahu hatinya orang lain, contohnya memasang bendera merah putih saat akan memasang genting dikatakan syirik, padahal itu ada sejarahnya, saat penjajahan dimana bendera merah putih tidak boleh berkibar, ada strategi agar bendera tetap terpasang salah satunya dengan memasang bendera bersama padi dan kelapa di wuwung, setelah tiga hari baru ditutup dengan atap.
Harusnya,kita malu pada para pendahulu kita yang telah menegakan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari hadiah. Tetapi melalui perjuangan yang memakan banyak korban. ”Betapa tak terkira jumlahnya syuhada bangsa yang telah mengorbakan jiwa raganya demi kemerdekaan Indonesia.
Dikala kita sudah merdeka, kita tinggal mengisinya dengan jalan membangun dan membangun bangsa sesuai dengan posisi dan keahlian masing-masing. Kita harus merenung, bagaimana nasib sebutir nasi yang kita makan. Tidak serta merta ada, tetapi banyak tangan-tangan yang terlibat di dalamnya.
Di awali dengan ahli bibit mengadakan penelitian untuk menghasilkan bibit unggul, petani mencangkul, ibu-ibu memanggul, juragan menawarkan kepada bakul-bakul, lalu digiling di rice mill dengan meninggalkan bekatul, barulah beras di tanak menjadi nasi. ”Sebutir nasi, perlu beribu-ribu tangan keihlasan untuk dimakan sebagai sarana menyehatkan badan kita.
Kita belum sadar, kalau laut yang begitu luas mengandung sikap dan sifat yang bersahaja dan tetap teguh pada pendirian, tak tergoyahkan. Kendati laut di kirimi air dari berbagai anak sungai tetapi tetap saja terasa asin.
Begitupun dengan ikan, meski hidup di laut yang berair asin, tetapi tetap saja ikan tidak terasa asin bila di makan, kecuali kalau kita kasihkan garam. ”Peneguhan pendirian mutlak diperlukan, tidak berarti kolot dan mementingkan diri sendiri. Tetapi sebagai tekad mempertahankan prinsip dan ketetapan Allah SWT.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
MERDEKA !!!
Selasa, 13 Agustus 2013
Jasa Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia
Jasa Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia
JANGAN LUPAKAN SEJARAH !!!
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini lahir berkat jasa para
ulama dan para kiai, khususnya ulama Nahdlatul Ulama (NU). Karena itu
sudah selayaknya tetap mempertahankan kesatuan NKRI agar perjuangan para
ulama dan tokoh bangsa tidak sia-sia.
Kontribusi ulama, khususnya
para kiai NU ini dibuktikan dengan penunjukan Sukarno-Hatta sebagai
Waliyyul Amri ad-Dlaruri bisy-Syaukah di saat Indonesia hilang
kewibawaan di mata dunia, serta dengan keluarnya Resolusi Jihad dari
Hadratush Sheikh KH. Hasyim Asy’ari yang membangkitkan semangat
bertempur kepada Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo dalam melawan penjajah
pada 10 Nopember 1945 yang kemudian dikenal dengan Hari Pahlawan.
Sehingga kita heran mengapa segelintir orang yang tidak berkeringat,
tidak berdarah-darah dalam perjuangan menegakkan NKRI tiba-tiba ingin
mendirikan Negara Islam dengan dalih penegakan Khilafah Islamiyah. Untuk
itu mari bersama-sama mendidik anak cucu kita sebagai generasi penerus
untuk tetap kenal khidmat, cinta serta berbakti kepada para kiai dan
ulama.
Dalam perjuangan kemerdekaan, peran ulama tak dapat
diabaikan. Setidaknya ada enam jasa utama yang telah diberikan para
ulama untuk perjuangan kemerdekaan.
Pertama, menyadarkan rakyat
akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah. Di berbagai
pesantren, madrasah, ceramah, organisasi, dan pertemuan lainnya, para
ulama menanamkan kesadaran di hati rakyat akan ketidakadilan dan
kesewenang-wenangan penjajah tersebut.
Pengaruh para ulama yang
disebut ‘pendeta Islam’ itu diakui oleh penjajah. Thomas S. Raffles,
Letnan Gubernur EIC yang memerintah pada 1811-1816 di Indonesia berkata,
"Karena mereka begitu dihormati, maka tidak sulit bagi mereka untuk
menghasut rakyat agar memberontak, dan mereka menjadi alat paling
berbahaya di tangan penguasa pribumi yang menentang kepentingan
pemerintah kolonial. 'Pendeta Islam' itu ternyata merupakan golongan
yang paling aktif dalam setiap peristiwa pemberontakan. Mereka umumnya
berdarah campuran antara orang Arab dan penduduk pribumi, dalam jumlah
besar berkeliling dari negara satu ke negara lain, di pulau-pulau Timur.
Akibat intrik dan hasutan mereka, pemimpin pribumi biasanya dikerahkan
untuk menyerang atau membunuh orang Eropa, yang mereka anggap sebagai
kafir dan pengacau."
Kedua, memimpin gerakan non kooperatif
pada penjajah Belanda. Para ulama di masa penjajahan banyak mendirikan
pesantren di daerah-daerah terpencil, untuk menjauhi bangsa penjajah
yang banyak tinggal di kota.
Ketika Belanda, di masa revolusi,
mempropagandakan pelayanan perjalanan haji dengan ongkos dan fasilitas
yang dapat dijangkau oleh kaum Muslim di daerah jajahannya,
Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari pemimpin para ulama di Jawa menentang.
Beliau mengeluarkan fatwa bahwa pergi haji dalam masa revolusi dengan
menggunakan kapal Belanda hukumnya haram.
Ketika posisi Belanda
sulit dalam Perang Dunia II, mereka meminta orang-orang Indonesia masuk
militer Belanda dengan dalih untuk mempertahankan Indonesia melawan
musuh Jepang. Waktu itu KH. Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa yang
terkenal, yaitu mengharamkan masuk menjadi tentara Belanda atau
bekerjasama dengan Belanda dalam bentuk apapun.
Setiap bujukan
agar KH. Hasyim Asy'ari tunduk dan mendukung Belanda selalu gagal
dilakukan. Bahkan tawaran Belanda yang akan menganugerahkan bintang jasa
terbuat dari perak dan emas pada 1937 ditolaknya. Gerakan non
kooperatif pada penjajah itu juga dilakukan dan dipimpin oleh
ulama-ulama lainnya.
Ketiga, mengeluarkan fatwa wajibnya jihad
melawan penjajah. Fatwa jihad ini sangat besar pengaruhnya dalam
membangkitkan semangat perlawanan. Perang melawan penjajah dianggap
jihad fi sabîlillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama
Ajaran perang suci ini muncul di Aceh paling awal abad ke-17,
dibangkitkan oleh para guru agama pada masa krisis, yang terparah pada
akhir abad ke-19. Salah satu guru agama di tengah medan perang, Syaikh
Abbas Ibnu Muhammad, mengatakan dalam Tadhkirat ar-Rakidin ajaran utama
tahun 1889, bahwa Aceh merupakan Dar-al-Islam, kecuali daerah yang
diperintah Belanda dan menjadi Dar-al-Harb. Jihad merupakan kewajiban
moral (fardu ain) orang Islam, termasuk wanita dan anak-anak, berperang
untuk mengembalikan tanah yang dikuasai orang kafir kepada Dar-al-Islam.
Perang Diponegoro atau Perang Jawa dapat berkobar lima tahun
(1825-1830) juga karena alasan serupa. Dalam proklamasi dan permintaan
dukungannya pada ulama, bangsawan, dan masyarakat Jawa, Pangeran
Diponegoro, pangeran yang juga ulama menekankan bahwa ia adalah pemimpin
'perang sabil', perang suci, untuk mengusir Belanda yang tidak beriman
dari Jawa. Ia menyurati ulama dan pemimpin di Jawa Tengah dan Jawa
Timur, menghimbau mereka "untuk ikut melawan Belanda di seluruh daerah
untuk mengembalikan kedudukan tinggi kerajaan berdasar agama yang benar
(ngluhurken agami Islam)". Dalam menyebarkan fatwa jihad itu, Pangeran
Diponegoro dibantu oleh Kiai Mojo, Kiai Besari, dan ulama-ulama lainnya.
Setelah penjajahan Jepang berakhir dengan kekalahannya pada Perang
Dunia II, Belanda dan pasukan Sekutu berusaha menjajah Indonesia lagi.
Saat itu, Resolusi Jihad yang dikeluarkan para ulama NU, sangat besar
pengaruhnya dalam membangkitkan perlawanan rakyat terhadap Belanda dan
Sekutu. Resolusi ini bermula dari fatwa KH. Hasyim Asy'ari pada 22
Oktober 1945 di Surabaya, yang kemudian dikokohkan pada Muktamar NU XVI
di Purwokerto 26-29 Maret 1946.
Resolusi Jihad menyebutkan
bahwa berperang melawan penjajah adalah kewajiban fardu ain bagi orang
yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk atau kedudukan
musuh. Fardu ain itu baik bagi lelaki, perempuan, maupun anak-anak,
bersenjata atau tidak. Dan bagi orang yang di luar jarak 94 km (jauh),
kewajiban berperang itu menjadi fardu kifayah. Cukup dikerjakan oleh
sebagian saja.
Keberhasilan pertempuran Hari Pahlawan 10
Nopember 1945 di Surabaya tak lepas dari Resolusi Jihad ini. Selain itu,
Perang Paderi, Perang Aceh, Pemberontakan Petani di Banten,
Pemberontakan Rakyat Singaparna di Jawa Barat, dan banyak peristiwa
lainnya, juga dipicu oleh fatwa jihad dari para ulama.
Keempat,
memobilisasi dan memimpin rakyat dalam perjuangan fisik melawan
penjajah. Banyak ulama yang menjadi pemimpin perlawanan, seperti
Pangeran Diponegoro, Fatahillah, Imam Bonjol, Teuku Umar, Sultan
Hasanudin, Teungku Cik Ditiro, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abbas Buntet, KH.
Zainal Mustafa, dll.
KH. Hasyim Asy’ari sebagai pemimpin
tertinggi Masyumi membentuk laskar-laskar rakyat untuk mendapat latihan
ketentaraan dan memanggul senjata dengan metode baru. Mereka dilatih
secara militer untuk merebut kemerdekaan. Maka terbentuklah Hizbullah
untuk para pemuda dengan semboyan, “Alâ Inna Hizbullâhi hum
al-ghâlibûn,” “Ingatlah, sesungguhnya golongan Allahlah golongan yang
menang,” dan laskar Sabilillah untuk umumnya para kiai, lelaki, dan
wanita, dengan semboyan, “Waman yujâhid fî sabîlillâh,” “Mereka yang
berjuang di jalan Allah.”
Dan satu barisan lagi bernama laskar
Mujahidin yang menyerupai pasukan maut, yang tak takut mati. Laskar ini
membawa semboyan, “Walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ”.
“Mereka yang berjuang di jalan-Ku, akan Akau tunjukkan mereka
jalan-jalan-Ku.” Mereka yang bergabung dalam laskar-laskar ini mencapai
puluhan ribu orang di seantero Indonesia. Di setiap daerah, mereka
dipimpin para ulama. Pesantren-pesantren menjadi markasnya, termasuk
Tebuireng, Sidogiri, Lirboyo, dan Gontor. Panglima Hizbullah adalah KH
Zainul Arifin, dan Panglima Sabilillah adalah KH Masykur. Laskar-laskar
ini berperan sangat penting dalam perang kemerdekaan melawan Belanda.
Kelima, menyerukan persatuan membela kemerdekaan RI yang
diproklamasikan Soekarno-Hatta. Para ulama yang dipimpin Kiai Hasyim
Asy’ari memfatwakan kewajiban mempertahankan kemerdekaan RI. Dan pada
1954, sebuah Musyawarah Alim Ulama Indonesia (NU) di Cipanas mengambil
keputusan bahwa Presiden Soekarno adalah Waliyyul Amri Dharûrî
bisy-Syaukah, artinya pemegang pemerintahan yang punya cukup kewibawaan
dipatuhi oleh pejabat dan rakyat. Keputusan hukum itu mampu menjawab
kebingungan umat Islam dengan gelar Imam Negara Islam Indonesia (NII)
yang disandang SM Kartosuwiryo. Sehingga mayoritas umat tetap mengakui
kepemimpinan nasional Soekarno.
Keenam, berperan aktif dalam
mengisi awal kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan para ulama ikut
mempersiapkan kemerdekaan, termasuk di BPUPKI (Badan Penyelidik
Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia). Dan pada awal kemerdekaan, banyak
ulama yang aktif di pemerintahan atau parlemen. Dan juga tak terhitung
para ulama yang berjuang lewat organisasi dan pendidikan.
Setelah Indonesia merdeka, ada dua kekuatan yang disepelekan masyarakat.
Setelah perang selesai, ada dua kekuatan, yaitu ulama dan militer yang
tidak dianggap berperan dalam menegakkan NKRI… ketika Proklamasi
kekuatan militer dari Islam itu luar biasa besarnya. Bung Karno sendiri
ketika pidato Proklamasi tanggal 9 Ramadan 1364 H/17 Agustus 1945, kalau
tanpa dukungan ulama tidak akan berani… Dan Hasyim Asy’ari waktu juga
bilang bahwa presiden pertamanya adalan Bung Karno, dan itu disetujui
angkatan laut Jepang.”
Dengan jasa ulama yang sedemikian,
ternyata masih relatif sedikit para ulama yang mendapat gelar pahlawan
atau tertulis dalam sejarah kemerdekaan. Padahal tanpa jasa para ulama
sebagai pemimpin agama dan masyarakat, mustahil perjuangan kemerdekaan
akan dapat dibangkitkan dan didukung luas oleh rakyat.
Kemerdekaan bukan hanya hasil dari usaha para bangsawan, tokoh
nasionalis terpelajar, dan tentara, namun juga hasil besar dari usaha
para ulama. Kemerdekaan bukan hanya hasil perundingan, tulisan, orasi,
dan organisasi para tokoh nasionalis. Para ulama telah mengawali dan
mendukung perjuangan itu.
Karenanya, sudah selayaknya
perjuangan para ulama lebih dihargai dengan penulisan ulang sejarah dan
penganugerahan bintang kepahlawanan. Baik ulama yang sudah terkenal,
maupun yang belum terkenal, sama-sama berhak dihargai jasa
kepahlawanannya bagi bangsa dan negara. Sebagaimana kata Bung Karno,
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya".
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
PANCASILA DAN NKRI HARGA MATI !!!
JANGAN LUPAKAN SEJARAH !!!
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini lahir berkat jasa para
ulama dan para kiai, khususnya ulama Nahdlatul Ulama (NU). Karena itu
sudah selayaknya tetap mempertahankan kesatuan NKRI agar perjuangan para
ulama dan tokoh bangsa tidak sia-sia.
Kontribusi ulama, khususnya para kiai NU ini dibuktikan dengan penunjukan Sukarno-Hatta sebagai Waliyyul Amri ad-Dlaruri bisy-Syaukah di saat Indonesia hilang kewibawaan di mata dunia, serta dengan keluarnya Resolusi Jihad dari Hadratush Sheikh KH. Hasyim Asy’ari yang membangkitkan semangat bertempur kepada Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo dalam melawan penjajah pada 10 Nopember 1945 yang kemudian dikenal dengan Hari Pahlawan.
Sehingga kita heran mengapa segelintir orang yang tidak berkeringat, tidak berdarah-darah dalam perjuangan menegakkan NKRI tiba-tiba ingin mendirikan Negara Islam dengan dalih penegakan Khilafah Islamiyah. Untuk itu mari bersama-sama mendidik anak cucu kita sebagai generasi penerus untuk tetap kenal khidmat, cinta serta berbakti kepada para kiai dan ulama.
Dalam perjuangan kemerdekaan, peran ulama tak dapat diabaikan. Setidaknya ada enam jasa utama yang telah diberikan para ulama untuk perjuangan kemerdekaan.
Pertama, menyadarkan rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah. Di berbagai pesantren, madrasah, ceramah, organisasi, dan pertemuan lainnya, para ulama menanamkan kesadaran di hati rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah tersebut.
Pengaruh para ulama yang disebut ‘pendeta Islam’ itu diakui oleh penjajah. Thomas S. Raffles, Letnan Gubernur EIC yang memerintah pada 1811-1816 di Indonesia berkata, "Karena mereka begitu dihormati, maka tidak sulit bagi mereka untuk menghasut rakyat agar memberontak, dan mereka menjadi alat paling berbahaya di tangan penguasa pribumi yang menentang kepentingan pemerintah kolonial. 'Pendeta Islam' itu ternyata merupakan golongan yang paling aktif dalam setiap peristiwa pemberontakan. Mereka umumnya berdarah campuran antara orang Arab dan penduduk pribumi, dalam jumlah besar berkeliling dari negara satu ke negara lain, di pulau-pulau Timur. Akibat intrik dan hasutan mereka, pemimpin pribumi biasanya dikerahkan untuk menyerang atau membunuh orang Eropa, yang mereka anggap sebagai kafir dan pengacau."
Kedua, memimpin gerakan non kooperatif pada penjajah Belanda. Para ulama di masa penjajahan banyak mendirikan pesantren di daerah-daerah terpencil, untuk menjauhi bangsa penjajah yang banyak tinggal di kota.
Ketika Belanda, di masa revolusi, mempropagandakan pelayanan perjalanan haji dengan ongkos dan fasilitas yang dapat dijangkau oleh kaum Muslim di daerah jajahannya, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari pemimpin para ulama di Jawa menentang. Beliau mengeluarkan fatwa bahwa pergi haji dalam masa revolusi dengan menggunakan kapal Belanda hukumnya haram.
Ketika posisi Belanda sulit dalam Perang Dunia II, mereka meminta orang-orang Indonesia masuk militer Belanda dengan dalih untuk mempertahankan Indonesia melawan musuh Jepang. Waktu itu KH. Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa yang terkenal, yaitu mengharamkan masuk menjadi tentara Belanda atau bekerjasama dengan Belanda dalam bentuk apapun.
Setiap bujukan agar KH. Hasyim Asy'ari tunduk dan mendukung Belanda selalu gagal dilakukan. Bahkan tawaran Belanda yang akan menganugerahkan bintang jasa terbuat dari perak dan emas pada 1937 ditolaknya. Gerakan non kooperatif pada penjajah itu juga dilakukan dan dipimpin oleh ulama-ulama lainnya.
Ketiga, mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan penjajah. Fatwa jihad ini sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan semangat perlawanan. Perang melawan penjajah dianggap jihad fi sabîlillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama
Ajaran perang suci ini muncul di Aceh paling awal abad ke-17, dibangkitkan oleh para guru agama pada masa krisis, yang terparah pada akhir abad ke-19. Salah satu guru agama di tengah medan perang, Syaikh Abbas Ibnu Muhammad, mengatakan dalam Tadhkirat ar-Rakidin ajaran utama tahun 1889, bahwa Aceh merupakan Dar-al-Islam, kecuali daerah yang diperintah Belanda dan menjadi Dar-al-Harb. Jihad merupakan kewajiban moral (fardu ain) orang Islam, termasuk wanita dan anak-anak, berperang untuk mengembalikan tanah yang dikuasai orang kafir kepada Dar-al-Islam.
Perang Diponegoro atau Perang Jawa dapat berkobar lima tahun (1825-1830) juga karena alasan serupa. Dalam proklamasi dan permintaan dukungannya pada ulama, bangsawan, dan masyarakat Jawa, Pangeran Diponegoro, pangeran yang juga ulama menekankan bahwa ia adalah pemimpin 'perang sabil', perang suci, untuk mengusir Belanda yang tidak beriman dari Jawa. Ia menyurati ulama dan pemimpin di Jawa Tengah dan Jawa Timur, menghimbau mereka "untuk ikut melawan Belanda di seluruh daerah untuk mengembalikan kedudukan tinggi kerajaan berdasar agama yang benar (ngluhurken agami Islam)". Dalam menyebarkan fatwa jihad itu, Pangeran Diponegoro dibantu oleh Kiai Mojo, Kiai Besari, dan ulama-ulama lainnya.
Setelah penjajahan Jepang berakhir dengan kekalahannya pada Perang Dunia II, Belanda dan pasukan Sekutu berusaha menjajah Indonesia lagi. Saat itu, Resolusi Jihad yang dikeluarkan para ulama NU, sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan perlawanan rakyat terhadap Belanda dan Sekutu. Resolusi ini bermula dari fatwa KH. Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya, yang kemudian dikokohkan pada Muktamar NU XVI di Purwokerto 26-29 Maret 1946.
Resolusi Jihad menyebutkan bahwa berperang melawan penjajah adalah kewajiban fardu ain bagi orang yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk atau kedudukan musuh. Fardu ain itu baik bagi lelaki, perempuan, maupun anak-anak, bersenjata atau tidak. Dan bagi orang yang di luar jarak 94 km (jauh), kewajiban berperang itu menjadi fardu kifayah. Cukup dikerjakan oleh sebagian saja.
Keberhasilan pertempuran Hari Pahlawan 10 Nopember 1945 di Surabaya tak lepas dari Resolusi Jihad ini. Selain itu, Perang Paderi, Perang Aceh, Pemberontakan Petani di Banten, Pemberontakan Rakyat Singaparna di Jawa Barat, dan banyak peristiwa lainnya, juga dipicu oleh fatwa jihad dari para ulama.
Keempat, memobilisasi dan memimpin rakyat dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Banyak ulama yang menjadi pemimpin perlawanan, seperti Pangeran Diponegoro, Fatahillah, Imam Bonjol, Teuku Umar, Sultan Hasanudin, Teungku Cik Ditiro, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abbas Buntet, KH. Zainal Mustafa, dll.
KH. Hasyim Asy’ari sebagai pemimpin tertinggi Masyumi membentuk laskar-laskar rakyat untuk mendapat latihan ketentaraan dan memanggul senjata dengan metode baru. Mereka dilatih secara militer untuk merebut kemerdekaan. Maka terbentuklah Hizbullah untuk para pemuda dengan semboyan, “Alâ Inna Hizbullâhi hum al-ghâlibûn,” “Ingatlah, sesungguhnya golongan Allahlah golongan yang menang,” dan laskar Sabilillah untuk umumnya para kiai, lelaki, dan wanita, dengan semboyan, “Waman yujâhid fî sabîlillâh,” “Mereka yang berjuang di jalan Allah.”
Dan satu barisan lagi bernama laskar Mujahidin yang menyerupai pasukan maut, yang tak takut mati. Laskar ini membawa semboyan, “Walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ”. “Mereka yang berjuang di jalan-Ku, akan Akau tunjukkan mereka jalan-jalan-Ku.” Mereka yang bergabung dalam laskar-laskar ini mencapai puluhan ribu orang di seantero Indonesia. Di setiap daerah, mereka dipimpin para ulama. Pesantren-pesantren menjadi markasnya, termasuk Tebuireng, Sidogiri, Lirboyo, dan Gontor. Panglima Hizbullah adalah KH Zainul Arifin, dan Panglima Sabilillah adalah KH Masykur. Laskar-laskar ini berperan sangat penting dalam perang kemerdekaan melawan Belanda.
Kelima, menyerukan persatuan membela kemerdekaan RI yang diproklamasikan Soekarno-Hatta. Para ulama yang dipimpin Kiai Hasyim Asy’ari memfatwakan kewajiban mempertahankan kemerdekaan RI. Dan pada 1954, sebuah Musyawarah Alim Ulama Indonesia (NU) di Cipanas mengambil keputusan bahwa Presiden Soekarno adalah Waliyyul Amri Dharûrî bisy-Syaukah, artinya pemegang pemerintahan yang punya cukup kewibawaan dipatuhi oleh pejabat dan rakyat. Keputusan hukum itu mampu menjawab kebingungan umat Islam dengan gelar Imam Negara Islam Indonesia (NII) yang disandang SM Kartosuwiryo. Sehingga mayoritas umat tetap mengakui kepemimpinan nasional Soekarno.
Keenam, berperan aktif dalam mengisi awal kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan para ulama ikut mempersiapkan kemerdekaan, termasuk di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia). Dan pada awal kemerdekaan, banyak ulama yang aktif di pemerintahan atau parlemen. Dan juga tak terhitung para ulama yang berjuang lewat organisasi dan pendidikan.
Setelah Indonesia merdeka, ada dua kekuatan yang disepelekan masyarakat. Setelah perang selesai, ada dua kekuatan, yaitu ulama dan militer yang tidak dianggap berperan dalam menegakkan NKRI… ketika Proklamasi kekuatan militer dari Islam itu luar biasa besarnya. Bung Karno sendiri ketika pidato Proklamasi tanggal 9 Ramadan 1364 H/17 Agustus 1945, kalau tanpa dukungan ulama tidak akan berani… Dan Hasyim Asy’ari waktu juga bilang bahwa presiden pertamanya adalan Bung Karno, dan itu disetujui angkatan laut Jepang.”
Dengan jasa ulama yang sedemikian, ternyata masih relatif sedikit para ulama yang mendapat gelar pahlawan atau tertulis dalam sejarah kemerdekaan. Padahal tanpa jasa para ulama sebagai pemimpin agama dan masyarakat, mustahil perjuangan kemerdekaan akan dapat dibangkitkan dan didukung luas oleh rakyat.
Kemerdekaan bukan hanya hasil dari usaha para bangsawan, tokoh nasionalis terpelajar, dan tentara, namun juga hasil besar dari usaha para ulama. Kemerdekaan bukan hanya hasil perundingan, tulisan, orasi, dan organisasi para tokoh nasionalis. Para ulama telah mengawali dan mendukung perjuangan itu.
Karenanya, sudah selayaknya perjuangan para ulama lebih dihargai dengan penulisan ulang sejarah dan penganugerahan bintang kepahlawanan. Baik ulama yang sudah terkenal, maupun yang belum terkenal, sama-sama berhak dihargai jasa kepahlawanannya bagi bangsa dan negara. Sebagaimana kata Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya".
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
PANCASILA DAN NKRI HARGA MATI !!!
Kontribusi ulama, khususnya para kiai NU ini dibuktikan dengan penunjukan Sukarno-Hatta sebagai Waliyyul Amri ad-Dlaruri bisy-Syaukah di saat Indonesia hilang kewibawaan di mata dunia, serta dengan keluarnya Resolusi Jihad dari Hadratush Sheikh KH. Hasyim Asy’ari yang membangkitkan semangat bertempur kepada Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo dalam melawan penjajah pada 10 Nopember 1945 yang kemudian dikenal dengan Hari Pahlawan.
Sehingga kita heran mengapa segelintir orang yang tidak berkeringat, tidak berdarah-darah dalam perjuangan menegakkan NKRI tiba-tiba ingin mendirikan Negara Islam dengan dalih penegakan Khilafah Islamiyah. Untuk itu mari bersama-sama mendidik anak cucu kita sebagai generasi penerus untuk tetap kenal khidmat, cinta serta berbakti kepada para kiai dan ulama.
Dalam perjuangan kemerdekaan, peran ulama tak dapat diabaikan. Setidaknya ada enam jasa utama yang telah diberikan para ulama untuk perjuangan kemerdekaan.
Pertama, menyadarkan rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah. Di berbagai pesantren, madrasah, ceramah, organisasi, dan pertemuan lainnya, para ulama menanamkan kesadaran di hati rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah tersebut.
Pengaruh para ulama yang disebut ‘pendeta Islam’ itu diakui oleh penjajah. Thomas S. Raffles, Letnan Gubernur EIC yang memerintah pada 1811-1816 di Indonesia berkata, "Karena mereka begitu dihormati, maka tidak sulit bagi mereka untuk menghasut rakyat agar memberontak, dan mereka menjadi alat paling berbahaya di tangan penguasa pribumi yang menentang kepentingan pemerintah kolonial. 'Pendeta Islam' itu ternyata merupakan golongan yang paling aktif dalam setiap peristiwa pemberontakan. Mereka umumnya berdarah campuran antara orang Arab dan penduduk pribumi, dalam jumlah besar berkeliling dari negara satu ke negara lain, di pulau-pulau Timur. Akibat intrik dan hasutan mereka, pemimpin pribumi biasanya dikerahkan untuk menyerang atau membunuh orang Eropa, yang mereka anggap sebagai kafir dan pengacau."
Kedua, memimpin gerakan non kooperatif pada penjajah Belanda. Para ulama di masa penjajahan banyak mendirikan pesantren di daerah-daerah terpencil, untuk menjauhi bangsa penjajah yang banyak tinggal di kota.
Ketika Belanda, di masa revolusi, mempropagandakan pelayanan perjalanan haji dengan ongkos dan fasilitas yang dapat dijangkau oleh kaum Muslim di daerah jajahannya, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari pemimpin para ulama di Jawa menentang. Beliau mengeluarkan fatwa bahwa pergi haji dalam masa revolusi dengan menggunakan kapal Belanda hukumnya haram.
Ketika posisi Belanda sulit dalam Perang Dunia II, mereka meminta orang-orang Indonesia masuk militer Belanda dengan dalih untuk mempertahankan Indonesia melawan musuh Jepang. Waktu itu KH. Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa yang terkenal, yaitu mengharamkan masuk menjadi tentara Belanda atau bekerjasama dengan Belanda dalam bentuk apapun.
Setiap bujukan agar KH. Hasyim Asy'ari tunduk dan mendukung Belanda selalu gagal dilakukan. Bahkan tawaran Belanda yang akan menganugerahkan bintang jasa terbuat dari perak dan emas pada 1937 ditolaknya. Gerakan non kooperatif pada penjajah itu juga dilakukan dan dipimpin oleh ulama-ulama lainnya.
Ketiga, mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan penjajah. Fatwa jihad ini sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan semangat perlawanan. Perang melawan penjajah dianggap jihad fi sabîlillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama
Ajaran perang suci ini muncul di Aceh paling awal abad ke-17, dibangkitkan oleh para guru agama pada masa krisis, yang terparah pada akhir abad ke-19. Salah satu guru agama di tengah medan perang, Syaikh Abbas Ibnu Muhammad, mengatakan dalam Tadhkirat ar-Rakidin ajaran utama tahun 1889, bahwa Aceh merupakan Dar-al-Islam, kecuali daerah yang diperintah Belanda dan menjadi Dar-al-Harb. Jihad merupakan kewajiban moral (fardu ain) orang Islam, termasuk wanita dan anak-anak, berperang untuk mengembalikan tanah yang dikuasai orang kafir kepada Dar-al-Islam.
Perang Diponegoro atau Perang Jawa dapat berkobar lima tahun (1825-1830) juga karena alasan serupa. Dalam proklamasi dan permintaan dukungannya pada ulama, bangsawan, dan masyarakat Jawa, Pangeran Diponegoro, pangeran yang juga ulama menekankan bahwa ia adalah pemimpin 'perang sabil', perang suci, untuk mengusir Belanda yang tidak beriman dari Jawa. Ia menyurati ulama dan pemimpin di Jawa Tengah dan Jawa Timur, menghimbau mereka "untuk ikut melawan Belanda di seluruh daerah untuk mengembalikan kedudukan tinggi kerajaan berdasar agama yang benar (ngluhurken agami Islam)". Dalam menyebarkan fatwa jihad itu, Pangeran Diponegoro dibantu oleh Kiai Mojo, Kiai Besari, dan ulama-ulama lainnya.
Setelah penjajahan Jepang berakhir dengan kekalahannya pada Perang Dunia II, Belanda dan pasukan Sekutu berusaha menjajah Indonesia lagi. Saat itu, Resolusi Jihad yang dikeluarkan para ulama NU, sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan perlawanan rakyat terhadap Belanda dan Sekutu. Resolusi ini bermula dari fatwa KH. Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya, yang kemudian dikokohkan pada Muktamar NU XVI di Purwokerto 26-29 Maret 1946.
Resolusi Jihad menyebutkan bahwa berperang melawan penjajah adalah kewajiban fardu ain bagi orang yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk atau kedudukan musuh. Fardu ain itu baik bagi lelaki, perempuan, maupun anak-anak, bersenjata atau tidak. Dan bagi orang yang di luar jarak 94 km (jauh), kewajiban berperang itu menjadi fardu kifayah. Cukup dikerjakan oleh sebagian saja.
Keberhasilan pertempuran Hari Pahlawan 10 Nopember 1945 di Surabaya tak lepas dari Resolusi Jihad ini. Selain itu, Perang Paderi, Perang Aceh, Pemberontakan Petani di Banten, Pemberontakan Rakyat Singaparna di Jawa Barat, dan banyak peristiwa lainnya, juga dipicu oleh fatwa jihad dari para ulama.
Keempat, memobilisasi dan memimpin rakyat dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Banyak ulama yang menjadi pemimpin perlawanan, seperti Pangeran Diponegoro, Fatahillah, Imam Bonjol, Teuku Umar, Sultan Hasanudin, Teungku Cik Ditiro, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abbas Buntet, KH. Zainal Mustafa, dll.
KH. Hasyim Asy’ari sebagai pemimpin tertinggi Masyumi membentuk laskar-laskar rakyat untuk mendapat latihan ketentaraan dan memanggul senjata dengan metode baru. Mereka dilatih secara militer untuk merebut kemerdekaan. Maka terbentuklah Hizbullah untuk para pemuda dengan semboyan, “Alâ Inna Hizbullâhi hum al-ghâlibûn,” “Ingatlah, sesungguhnya golongan Allahlah golongan yang menang,” dan laskar Sabilillah untuk umumnya para kiai, lelaki, dan wanita, dengan semboyan, “Waman yujâhid fî sabîlillâh,” “Mereka yang berjuang di jalan Allah.”
Dan satu barisan lagi bernama laskar Mujahidin yang menyerupai pasukan maut, yang tak takut mati. Laskar ini membawa semboyan, “Walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ”. “Mereka yang berjuang di jalan-Ku, akan Akau tunjukkan mereka jalan-jalan-Ku.” Mereka yang bergabung dalam laskar-laskar ini mencapai puluhan ribu orang di seantero Indonesia. Di setiap daerah, mereka dipimpin para ulama. Pesantren-pesantren menjadi markasnya, termasuk Tebuireng, Sidogiri, Lirboyo, dan Gontor. Panglima Hizbullah adalah KH Zainul Arifin, dan Panglima Sabilillah adalah KH Masykur. Laskar-laskar ini berperan sangat penting dalam perang kemerdekaan melawan Belanda.
Kelima, menyerukan persatuan membela kemerdekaan RI yang diproklamasikan Soekarno-Hatta. Para ulama yang dipimpin Kiai Hasyim Asy’ari memfatwakan kewajiban mempertahankan kemerdekaan RI. Dan pada 1954, sebuah Musyawarah Alim Ulama Indonesia (NU) di Cipanas mengambil keputusan bahwa Presiden Soekarno adalah Waliyyul Amri Dharûrî bisy-Syaukah, artinya pemegang pemerintahan yang punya cukup kewibawaan dipatuhi oleh pejabat dan rakyat. Keputusan hukum itu mampu menjawab kebingungan umat Islam dengan gelar Imam Negara Islam Indonesia (NII) yang disandang SM Kartosuwiryo. Sehingga mayoritas umat tetap mengakui kepemimpinan nasional Soekarno.
Keenam, berperan aktif dalam mengisi awal kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan para ulama ikut mempersiapkan kemerdekaan, termasuk di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia). Dan pada awal kemerdekaan, banyak ulama yang aktif di pemerintahan atau parlemen. Dan juga tak terhitung para ulama yang berjuang lewat organisasi dan pendidikan.
Setelah Indonesia merdeka, ada dua kekuatan yang disepelekan masyarakat. Setelah perang selesai, ada dua kekuatan, yaitu ulama dan militer yang tidak dianggap berperan dalam menegakkan NKRI… ketika Proklamasi kekuatan militer dari Islam itu luar biasa besarnya. Bung Karno sendiri ketika pidato Proklamasi tanggal 9 Ramadan 1364 H/17 Agustus 1945, kalau tanpa dukungan ulama tidak akan berani… Dan Hasyim Asy’ari waktu juga bilang bahwa presiden pertamanya adalan Bung Karno, dan itu disetujui angkatan laut Jepang.”
Dengan jasa ulama yang sedemikian, ternyata masih relatif sedikit para ulama yang mendapat gelar pahlawan atau tertulis dalam sejarah kemerdekaan. Padahal tanpa jasa para ulama sebagai pemimpin agama dan masyarakat, mustahil perjuangan kemerdekaan akan dapat dibangkitkan dan didukung luas oleh rakyat.
Kemerdekaan bukan hanya hasil dari usaha para bangsawan, tokoh nasionalis terpelajar, dan tentara, namun juga hasil besar dari usaha para ulama. Kemerdekaan bukan hanya hasil perundingan, tulisan, orasi, dan organisasi para tokoh nasionalis. Para ulama telah mengawali dan mendukung perjuangan itu.
Karenanya, sudah selayaknya perjuangan para ulama lebih dihargai dengan penulisan ulang sejarah dan penganugerahan bintang kepahlawanan. Baik ulama yang sudah terkenal, maupun yang belum terkenal, sama-sama berhak dihargai jasa kepahlawanannya bagi bangsa dan negara. Sebagaimana kata Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya".
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
PANCASILA DAN NKRI HARGA MATI !!!
Senin, 12 Agustus 2013
Jadilah ulama yang ihsan
Sampai hari ini ditengah-tengah kita masih saja terjadi sesama umat
Islam saling menghujat, saling menyesatkan dan saling mengkafirkan.
Bahkan ironisnya yang sesat dianggap perbedaan biasa, yang perbedaan biasa dianggap sesat. Terbolak balik.
Hal ini kalau dibiarkan akan menjadi bibit permusuhan dan perpecahan.
Jadi jangan mimpi kita bisa bersaudara kalau kita satu sama lainnya
saling mengkafirkan. Jangan mimpi kalau kita bersaudara kalau kita
satu sama lainnya saling menyesatkan. Mustahil kita bisa bersaudara
kalau antara kita satu sama lainnya saling menghujat, saling
menyesatkan, saling mengkafirkan. Ini musibah bagi umat Islam.
Innalillahi wa inailahi roji’un.
Karena itu saya sangat prihatin terbit sebuah buku dengan judul
“Mulia dengan manhaj salaf”. Judulnya bagus betul. Diterbitkan oleh
pustaka At Taqwa, Yang menulis Yazid bin Abdul Qodir.
Kenapa saya prihatin dengan kehadiran buku ini. Kalau kita buka pada
bab yang ketigabelas yaitu bab yang terakhir. Disini penulis
menyebutkan firqoh-firqoh sesat dan menyesatkan. Yang nomor delapan
disebutkan Asy’ariah. Yang nomor sembilan disebut Maturidiyah.
Kemudian yang nomor empat belas atau yang nomor tiga belas Shufiyah,
ahli tasawuf. Yang nomor empat belas Jama’ah Tabligh. Yang nomor lima
belas Ikhwanul Muslimin. Yang nomor tujuh belas Hizbut Tahrir. dan
nomor dua puluh tujuhnya Jaringan Islam Liberal.
Jadi Asy’ariyah, Maturidiyah, ini yang merupakan representatif,
mewakili Ahlussunnah wal Jama’ah dimasukkan dalam satu kelompok dengan
kalangan liberal yang notabene sesat menyesatkan.
Bahkan dengan mudahnya dia katakan Jama’ah Tabligh dan Ikhwanul
Muslimin juga masuk firqoh sesat. Apakah yang semacam ini tidak
memecah belah umat ?
Jadi kalau penulis ini ingin menyebarluaskan pahamnya, silahkan itu
urusan dia. Kalau dia meyakini akidah yang dipercayainya merupakan
aqidah yang benar, ttu urusan dia. Kalau dia merasa pendapatnya adalah
pendapat yang paling benar, itu urusan dia. Tapi kalau dia
mengkafirkan kelompok-kelompok umat Islam dari saudara-saudara kaum
musliminnya dia tidak punya hak.
Buku-buku semacam ini memecah belah umat. Kalau pengarang ini merasa
bahwa Wahhabi adalah ajaran yang paling benar, silahkan. Dia
menamakan dirinya pengikut Salafi atau di Indonesia lebih dikenal
dengan nama istilah Wahhabi. Kalau dia merasa Salafi Wahhabi paling
benar, hak dia. Kalau dia merasa paling suci, hak dia. Kalau dia
merasa paling lurus, hak dia. Tapi dia tidak punya hak untuk sesat
menyesatkan, kafir mengkafirkan sesama umat Islam.
Apalagi umat Islam dari kalangan Asy’ari dan Maturidi yang sudah
1200 tahun lebih secara representatif mewakili Ahlussunnah wal
Jama’ah. Wahhabi baru lahir kemarin, terus ingin mengkafirkan ASy’ari.
Memang selama ini 1000 tahun yang disebut Ahlussunnah itu siapa?
1000 tahun lebih yang disebut Ahlussunnah itu adalah Asy’ari dan
Maturidi. Wahhabi tidak masuk daftar. Baru muncul belakangan, sudah
ingin sesat menyesatkan umat Islam yang tidak sepakat dengan mereka.
Innalillahi wainailahi rojiun.
Anda perlu ketahui kalau kelompok Wahabi merasa akidah yang
diajarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal yang terbaik, itu hak mereka.
Tapi mereka harus tahu bahwa ulama-ulama dari Mazhab Syafi’i dan
Maliki, mayoritas mereka mengikuti akidah Asy’ariah dan ulama-ulama
dari mazhab Hanafi, mayoritas mereka mengikuti akidah Maturidiah.
Jadi kalau mereka mengkafirkan atau menyesatkan Asy’ariah dan
Maturidiah berarti ulama-ulama yang jumlahnya ratusan ribu bahkan
juta’an orang semenjak mazhab-mazhab itu lahir sampai saat ini berarti
ulama-ulama mazhab Syafi’i , Mazhab Maliki, Mazhab Hanafi semuanya
sesat, kafir. Innalillahi wainnailahi roji’un.
Tidak boleh begitu. Kita ingin berikan nasehat kepada penulis buku
ini atau yang menerbitkannya atau yang mendukung daripada
penyebarluasannya. Ittaqullah, takutlah kepada Allah.
Jangan sembarangan mengkafirkan saudara-saudaramu. Tidak boleh kita
sembarangan mengkafirkan Ahli Kiblat. tidak boleh saudara, kita hanya
boleh mengkafirkan yang sudah nyata-nyata kafir.
Label:
Jadilah ulama yang ihsan
KISAH MENYENTUH HATI BERMIMPI JUMPA NABI
Muradik al-Bashri berkisah: “Aku membeli barang dari salah seorang
pembesar wilayah Ahwaz. Aku melakukan tawar menawar harga dengannya
hingga saling bersitegang. Karena marah, dia mencaci maki Abu Bakar dan
Umar. Aku tidak berani menyanggah ucapannya itu karena aku kalah wibawa
dengan dia.
Aku pulang ke rumah dalam keadaan sedih. Pada malam
itu aku tidur dengan membawa kesedihan. Aku bertemu Nabi Saw. di dalam
mimpiku. Aku berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada
seseorang yang mencaci maki Abu Bakar dan Umar.”
Beliau Saw. bersabda: “Bawalah orang itu kemari!”
Aku pun membawanya menghadap Rasulullah Saw. Beliau Saw. menitahkan: “Baringkan dia!”
Aku segera membaringkannya. Beliau Saw. kemudian bertitah: “Sembelihlah dia!”
Seketika itu langsung terbayang betapa beratnya perintah menyembelih
itu bagiku. Aku bertanya kepada Nabi Saw.: “Wahai Rasulullah, saya harus
menyembelihnya?”
Beliau Saw. menjawab: “Ya, sembelihlah dia!”
Aku terus menanyakan hal itu kepada beliau hingga tiga kali dan beliau
menjawab dengan jawaban yang sama sebanyak tiga kali pula. Akhirnya aku
iriskan pisau melewati tenggorokannya dan aku berhasil menyembelihnya.
Keesokan harinya, aku bergumam kepada diriku sendiri: “Aku akan pergi
menjumpai orang itu dan menasihatinya. Aku akan sampaikan mimpiku dari
Rasulullah Saw. tadi malam kepadanya.” Lantas aku bergegas menuju
rumahnya, tiba-tiba aku mendengar suara ratapan dari rumahnya.
Disampaikan berita kepadaku bahwa dia sudah mati.
(Disarikan dari buku “100 Kisah Orang Bermimpi Nabi Muhammad Saw.”)
7 penemuan ilmuwan muslim
1. Operasi Bedah
Sekitar tahun 1000 seorang dokter Al Zahrawi mempublikasikan 1500 halaman ensiklopedia berilustrasi tentang operasi bedah yang digunakan di Eropa sebagai referensi medis selama lebih dari 500 tahun. Zahrawi menggunakan larutan usus kucing menjadi benang jahitan, sebelum menangani operasi kedua untuk memindahkan jahitan pada luka. Dia juga melakukan operasi Caesar dan menciptakan sepasang alat jepit pembedahan
2. Kopi pertama kali dibuat di Yaman pada sekitar abad ke-9. Pada awalnya kopi membantu kaum sufi tetap terjaga ibadah larut malam. Kemudian dibawa ke Kairo oleh sekelompok pelajar. Pada abad ke 13 Kopi menyebrang ke Turki tetapi baru abad ke 16 ketika kacang mulai direbus di Eropa. Kopi dibawa ke Italia oleh pedagang Venesia.
3. Universitas
Ilustrasi
Pada tahun 859 seorang putri muda bernama Fatima al-Firhi mendirikan sebuah universitas tingkat pertama di Fez Maroko. Saudara perempuannya Miriam mendirikan masjid indah bersamaan menjadi masjid dan universitas Al-Qorawiyyin dan terus beroperasi selama 1200 tahun kemudian. Hassani mengatakan dia berharap orang akan ingat bahwa belajar adalah inti utama tradisi Islam dan cerita tentang al-Firhi bersaudara akan menginspirasi wanita muslim dimana pun di dunia.
4. Optik
Diantara tahun 1.000 Ibn al-Haitham membuktikan bahwa manusia melihat objek dari refleksi cahaya dan masuk kemata, mengacuhkan teori Euclid dan Ptolomy bahwa cahaya dihasilkan dari dalam mata sendiri. Fisikawan hebat muslim lainnya juga menemukan fenomena pengukuran kamera dimana dijelaskan bagaimana mata gambar dapat terlihat dengan koneksi antara optik dan otak.
Ilustrasi
5. Musik
Musisi muslim memiliki dampak signifikan di Eropa. Diantara banyak instrument yang hadir ke Eropa melalui Timur tengah adalah lute dan rahab, nenek moyang biola. Skala notasi musik modern juga dikatakan berasal dari alphabet arab.
6. Sikat Gigi
Menurut Hasani, Nabi Muhammad SAW mempopulerkan penggunaan sikat gigi pertama kali pada tahun 600. Menggunakan ranting pohon araq/Siwak, untuk membersihkan gigi dan menyegarkan nafas. Kandungan dalam Siwak juga digunakan dalam pasta gigi modern.
7. Engkol
Dengan mengkonversi gerakan memutar dengan gerakan lurus, pemutar memungkinkan objek berat terangkat relativ lebih mudah. Teknologi ini ditemukan oleh Al-Jazari pada abad ke 12, kemudian digunakan dalam penggunaan sepeda hingga kini.
Label:
7 penemuan ilmuwan muslim
Sabtu, 10 Agustus 2013
GUS DUR DI MATA HABIB LUTHFI BIN YAHYA
GUS DUR DI MATA HABIB LUTHFI BIN YAHYA Memiliki jiwa dan anak keturunan yang shaleh adalah dambaan setiap muslim. Predikat “shaleh” bukanlah sembarangan predikat. Lihat bagaimana seorang nabi dan rasul serta berpredikat Khalilullah Sayyiduna Ibrahim As. saja masih mendambakan keshalehan dalam doanya: رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ “Robbi habliy minashshoolihiin” (Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh). (QS. ash-Shaffaat ayat 100). Ketua Umum Jam’iyyah Ahlut Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya mengaku tidak bisa menyimpulkan apakah Gus Dur wali atau bukan, tetapi ia yakin Gus Dur orang yang shaleh. “Yang tahu wali hanya wali. Dan saya husnudzan billah beliau orang yang shaleh,” kata beliau seusai memberi taushiyah salah satu acara Maulid Nabi Saw. yang diselenggarakan Ansor NU. Beliau menjelaskan bahwa keshalehan atau kewalian seseorang tidak bisa diukur atau dibandingkan layaknya emas berapa karat. “Shaleh ya shaleh, keshalehan seseorang tidak bisa kita ukur, apalagi keauliyaan . Tinggal prasangka baik kita, apalagi Gus Dur yang sudah berbuat untuk umat ini, untuk bangsa ini,” tandas beliau. Lihat betapa seorang ulama besar masa ini, Rais ‘Am, Ketua Umum thariqat di Indonesia bahkan dunia, mengakui akan keshalehan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Seharusnya saya malu menganggap bahwa Gus Dur bukanlah siapa-siapa, apalagi sampai mencacinya. Lhah kita ini siapa dibanding beliau Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya? Takkan terlupakan diri ini di setiap kali ta’lim hari Ahad pagi di Majelis Ta’lim al-Hikmah Ketitang Talang tegal, sang pembina yang mulia al-Habib Qasim bin Hasan bin Husein bin Syaikh Abubakar bin Salim semasa hidupnya tak pernah luput untuk senantiasa mendoakan dua nama ulama yang disejajarkan, yakni Gus Dur dan al-Habib Luthfi. Lahum al-Fatihah... http:// pustakamuhibbin.blogspot.com/ 2013/07/ gus-dur-di-mata-habib-luthfi-bi n-yahya.html
Langganan:
Postingan (Atom)









