Kamis, 22 Agustus 2013
Senin, 19 Agustus 2013
syair Al Habib Idrus bin Salim Aljufri merespon detik-detik proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945
ini adalah syair Al Habib Idrus bin Salim Aljufri ketika merespon detik-detik proklamasi kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1945
(beliau Ulama Sepuh, pendiri ratusan pesantren al-Khairat Palu,
dinobatkan sbg Pahlawan Nasional setahun lalu,demikianlah Sambutan Para
Ulama sepuh atas Kemerdeka'an Negeri kita tercinta ini serta lahirnya
NKRI)
راية العز رفرفي في سمآء * أرضها وجبالها خضرآء
Berkibarlah bendera kemuliaan di angkasa * daratan dan gunung-gunungnya hijau
إن يوم طلوعها يوم فخر * عظمته الأبآء والأبنآء
Sungguh hari kebangkitannya adalah hari kebanggaan * orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya
كل عام يكون لليوم ذكرى * يظهر الشكر فيها والثنآء
Tiap tahun hari itu menjadi peringatan * muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya
كل أمة لها رمز عز * ورمز عزنا الحمراء والبيضآء
Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan * dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih
يا سوكارنو حييت فينا سعيدا * بالدواء منك زال عنا الدآء
Wahai Sukarno! Engkau telah jadikan hidup kami bahagia * dengan obatmu telah hilang penyakit kami
أيها الرئيس المبارك فينا * عندك اليوم للورى الكميآء
Wahai Presiden yang penuh berkah untuk kami * engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat
باليراع وبالسياسة فقتم * ونصرتم بذا جائت الأنبآء
Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul * telah datang berita engkau menang dengannya
لا تبالوا بأنفس وبنين * في سبيل الأوطان نعم الفدآء
Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak * demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu
خذ إلى الأمام للمعالي بأيدي * سبعين مليونا أنت والزعمآء
Gandengkan menuju ke depan untuk kemuliaan dengan tangan-tangan * tujuh puluh juta jiwa bersamamu dan para pemimpin
فستلقى من الرعايا قبولا * وسماعا لما تقوله الرؤسآء
Pasti engkau jumpai dari rakyat kepercayaan * dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin
واعمروا للبلاد حسا ومعنى * وبرهنوا للملا أنكم أكفآء
Makmurkan untuk Negara pembangunan materil dan spiritual * buktikan kepada masyarakat bahwa kamu mampu
أيد الله ملككم وكفاكم * كل شر تحوكه الأعدآء
Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu * dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuhi
Minggu, 18 Agustus 2013
HORMAT BENDERA MERAH PUTIH HORMAT HARGA DIRI BANGSA, BUKAN SYIRIK DAN BID’AH
(Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya)
Ada Fatwa ulama wahabi demikian :
Tidak boleh bagi seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada
bendera dan lagu kebangsaan. Ini termasuk perbuatan bid’ah yang harus
diingkari dan tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah shallallaahu
’alaihi wa sallam ataupun masa Al-Khulafaaur-Raasyiduun radliyallaahu
’anhum. Ia juga bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan
keikhlasan di dalam mengagungkan hanya kepada Allah semata serta
merupakan sarana menuju kesyirikan.Di samping itu, ia merupakan bentuk
penyerupaan terhadap orang-orang kafir, mentaqlidi tradisi mereka yang
jelek, serta menyamai mereka dalam sikap berlebih-lebihan terhadap para
pemimpin dan protokoler-protokoler resmi. Padahal, Nabi shallallaahu
’alaihi wa sallam telah melarang kita berlaku sama seperti mereka atau
menyerupai mereka.
(Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuts
wal-Ifta’ hal. 149 melalui kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah
fil-Masaailil-’Ashriyyah min Fatawa ’Ulama Al-Baladil-Haram oleh Khalid
Al-Juraisy)..
Mari kita simak Penjelasan Ketua Jam’iyyah
Ahlith Thariqah Al Mutabaroh An Nahdliyyah (JATMAN) Maulana Al-Habib
Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya - Pekalongan.
Merah putih, bukan hanya sekadar warna dari bendera Indonesia. Tetapi
memiliki makna yang tinggi bagi kebanggaan dan kewibawaan bangsa. Maka
wajib hukumnya untuk dihormati.
”KALAU TIDAK MAU HORMAT PADA BENDERA MERAH PUTIH, SILAHKAN ENYAH DARI INDONESIA,”
Fanatisme terhadap Indonesia, lanjutnya, mutlak dimiliki oleh segenap
umat Islam Indonesia. Jangan hanya janji yang diucapkan tetapi buktikan,
kalau jiwa dan raga kita rela dikorbankan untuk Indonesia. ”Sangat aneh
kalau hormat bendera merah putih dikatakan musyrik, syirik. Mereka
tidak mengerti makna musyrik dan syirik, artinya perlu memperdalam lagi
belajar agama.
Kita tidak tahu hatinya orang lain, contohnya
memasang bendera merah putih saat akan memasang genting dikatakan
syirik, padahal itu ada sejarahnya, saat penjajahan dimana bendera merah
putih tidak boleh berkibar, ada strategi agar bendera tetap terpasang
salah satunya dengan memasang bendera bersama padi dan kelapa di wuwung,
setelah tiga hari baru ditutup dengan atap.
Harusnya,kita
malu pada para pendahulu kita yang telah menegakan Indonesia.
Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari hadiah. Tetapi melalui
perjuangan yang memakan banyak korban. ”Betapa tak terkira jumlahnya
syuhada bangsa yang telah mengorbakan jiwa raganya demi kemerdekaan
Indonesia.
Dikala kita sudah merdeka, kita tinggal mengisinya
dengan jalan membangun dan membangun bangsa sesuai dengan posisi dan
keahlian masing-masing. Kita harus merenung, bagaimana nasib sebutir
nasi yang kita makan. Tidak serta merta ada, tetapi banyak tangan-tangan
yang terlibat di dalamnya.
Di awali dengan ahli bibit
mengadakan penelitian untuk menghasilkan bibit unggul, petani
mencangkul, ibu-ibu memanggul, juragan menawarkan kepada bakul-bakul,
lalu digiling di rice mill dengan meninggalkan bekatul, barulah beras di
tanak menjadi nasi. ”Sebutir nasi, perlu beribu-ribu tangan keihlasan
untuk dimakan sebagai sarana menyehatkan badan kita.
Kita belum
sadar, kalau laut yang begitu luas mengandung sikap dan sifat yang
bersahaja dan tetap teguh pada pendirian, tak tergoyahkan. Kendati laut
di kirimi air dari berbagai anak sungai tetapi tetap saja terasa asin.
Begitupun dengan ikan, meski hidup di laut yang berair asin, tetapi
tetap saja ikan tidak terasa asin bila di makan, kecuali kalau kita
kasihkan garam. ”Peneguhan pendirian mutlak diperlukan, tidak berarti
kolot dan mementingkan diri sendiri. Tetapi sebagai tekad mempertahankan
prinsip dan ketetapan Allah SWT.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
MERDEKA !!!
Ada Fatwa ulama wahabi demikian :
Tidak boleh bagi seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan. Ini termasuk perbuatan bid’ah yang harus diingkari dan tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam ataupun masa Al-Khulafaaur-Raasyiduun radliyallaahu ’anhum. Ia juga bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan di dalam mengagungkan hanya kepada Allah semata serta merupakan sarana menuju kesyirikan.Di samping itu, ia merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang-orang kafir, mentaqlidi tradisi mereka yang jelek, serta menyamai mereka dalam sikap berlebih-lebihan terhadap para pemimpin dan protokoler-protokoler resmi. Padahal, Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam telah melarang kita berlaku sama seperti mereka atau menyerupai mereka.
(Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuts wal-Ifta’ hal. 149 melalui kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil-Masaailil-’Ashriyyah min Fatawa ’Ulama Al-Baladil-Haram oleh Khalid Al-Juraisy)..
Mari kita simak Penjelasan Ketua Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mutabaroh An Nahdliyyah (JATMAN) Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya - Pekalongan.
Merah putih, bukan hanya sekadar warna dari bendera Indonesia. Tetapi memiliki makna yang tinggi bagi kebanggaan dan kewibawaan bangsa. Maka wajib hukumnya untuk dihormati.
”KALAU TIDAK MAU HORMAT PADA BENDERA MERAH PUTIH, SILAHKAN ENYAH DARI INDONESIA,”
Fanatisme terhadap Indonesia, lanjutnya, mutlak dimiliki oleh segenap umat Islam Indonesia. Jangan hanya janji yang diucapkan tetapi buktikan, kalau jiwa dan raga kita rela dikorbankan untuk Indonesia. ”Sangat aneh kalau hormat bendera merah putih dikatakan musyrik, syirik. Mereka tidak mengerti makna musyrik dan syirik, artinya perlu memperdalam lagi belajar agama.
Kita tidak tahu hatinya orang lain, contohnya memasang bendera merah putih saat akan memasang genting dikatakan syirik, padahal itu ada sejarahnya, saat penjajahan dimana bendera merah putih tidak boleh berkibar, ada strategi agar bendera tetap terpasang salah satunya dengan memasang bendera bersama padi dan kelapa di wuwung, setelah tiga hari baru ditutup dengan atap.
Harusnya,kita malu pada para pendahulu kita yang telah menegakan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari hadiah. Tetapi melalui perjuangan yang memakan banyak korban. ”Betapa tak terkira jumlahnya syuhada bangsa yang telah mengorbakan jiwa raganya demi kemerdekaan Indonesia.
Dikala kita sudah merdeka, kita tinggal mengisinya dengan jalan membangun dan membangun bangsa sesuai dengan posisi dan keahlian masing-masing. Kita harus merenung, bagaimana nasib sebutir nasi yang kita makan. Tidak serta merta ada, tetapi banyak tangan-tangan yang terlibat di dalamnya.
Di awali dengan ahli bibit mengadakan penelitian untuk menghasilkan bibit unggul, petani mencangkul, ibu-ibu memanggul, juragan menawarkan kepada bakul-bakul, lalu digiling di rice mill dengan meninggalkan bekatul, barulah beras di tanak menjadi nasi. ”Sebutir nasi, perlu beribu-ribu tangan keihlasan untuk dimakan sebagai sarana menyehatkan badan kita.
Kita belum sadar, kalau laut yang begitu luas mengandung sikap dan sifat yang bersahaja dan tetap teguh pada pendirian, tak tergoyahkan. Kendati laut di kirimi air dari berbagai anak sungai tetapi tetap saja terasa asin.
Begitupun dengan ikan, meski hidup di laut yang berair asin, tetapi tetap saja ikan tidak terasa asin bila di makan, kecuali kalau kita kasihkan garam. ”Peneguhan pendirian mutlak diperlukan, tidak berarti kolot dan mementingkan diri sendiri. Tetapi sebagai tekad mempertahankan prinsip dan ketetapan Allah SWT.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
MERDEKA !!!
Tidak boleh bagi seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan. Ini termasuk perbuatan bid’ah yang harus diingkari dan tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam ataupun masa Al-Khulafaaur-Raasyiduun radliyallaahu ’anhum. Ia juga bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan di dalam mengagungkan hanya kepada Allah semata serta merupakan sarana menuju kesyirikan.Di samping itu, ia merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang-orang kafir, mentaqlidi tradisi mereka yang jelek, serta menyamai mereka dalam sikap berlebih-lebihan terhadap para pemimpin dan protokoler-protokoler resmi. Padahal, Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam telah melarang kita berlaku sama seperti mereka atau menyerupai mereka.
(Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuts wal-Ifta’ hal. 149 melalui kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil-Masaailil-’Ashriyyah min Fatawa ’Ulama Al-Baladil-Haram oleh Khalid Al-Juraisy)..
Mari kita simak Penjelasan Ketua Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mutabaroh An Nahdliyyah (JATMAN) Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya - Pekalongan.
Merah putih, bukan hanya sekadar warna dari bendera Indonesia. Tetapi memiliki makna yang tinggi bagi kebanggaan dan kewibawaan bangsa. Maka wajib hukumnya untuk dihormati.
”KALAU TIDAK MAU HORMAT PADA BENDERA MERAH PUTIH, SILAHKAN ENYAH DARI INDONESIA,”
Fanatisme terhadap Indonesia, lanjutnya, mutlak dimiliki oleh segenap umat Islam Indonesia. Jangan hanya janji yang diucapkan tetapi buktikan, kalau jiwa dan raga kita rela dikorbankan untuk Indonesia. ”Sangat aneh kalau hormat bendera merah putih dikatakan musyrik, syirik. Mereka tidak mengerti makna musyrik dan syirik, artinya perlu memperdalam lagi belajar agama.
Kita tidak tahu hatinya orang lain, contohnya memasang bendera merah putih saat akan memasang genting dikatakan syirik, padahal itu ada sejarahnya, saat penjajahan dimana bendera merah putih tidak boleh berkibar, ada strategi agar bendera tetap terpasang salah satunya dengan memasang bendera bersama padi dan kelapa di wuwung, setelah tiga hari baru ditutup dengan atap.
Harusnya,kita malu pada para pendahulu kita yang telah menegakan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari hadiah. Tetapi melalui perjuangan yang memakan banyak korban. ”Betapa tak terkira jumlahnya syuhada bangsa yang telah mengorbakan jiwa raganya demi kemerdekaan Indonesia.
Dikala kita sudah merdeka, kita tinggal mengisinya dengan jalan membangun dan membangun bangsa sesuai dengan posisi dan keahlian masing-masing. Kita harus merenung, bagaimana nasib sebutir nasi yang kita makan. Tidak serta merta ada, tetapi banyak tangan-tangan yang terlibat di dalamnya.
Di awali dengan ahli bibit mengadakan penelitian untuk menghasilkan bibit unggul, petani mencangkul, ibu-ibu memanggul, juragan menawarkan kepada bakul-bakul, lalu digiling di rice mill dengan meninggalkan bekatul, barulah beras di tanak menjadi nasi. ”Sebutir nasi, perlu beribu-ribu tangan keihlasan untuk dimakan sebagai sarana menyehatkan badan kita.
Kita belum sadar, kalau laut yang begitu luas mengandung sikap dan sifat yang bersahaja dan tetap teguh pada pendirian, tak tergoyahkan. Kendati laut di kirimi air dari berbagai anak sungai tetapi tetap saja terasa asin.
Begitupun dengan ikan, meski hidup di laut yang berair asin, tetapi tetap saja ikan tidak terasa asin bila di makan, kecuali kalau kita kasihkan garam. ”Peneguhan pendirian mutlak diperlukan, tidak berarti kolot dan mementingkan diri sendiri. Tetapi sebagai tekad mempertahankan prinsip dan ketetapan Allah SWT.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
MERDEKA !!!
Selasa, 13 Agustus 2013
Jasa Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia
Jasa Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia
JANGAN LUPAKAN SEJARAH !!!
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini lahir berkat jasa para
ulama dan para kiai, khususnya ulama Nahdlatul Ulama (NU). Karena itu
sudah selayaknya tetap mempertahankan kesatuan NKRI agar perjuangan para
ulama dan tokoh bangsa tidak sia-sia.
Kontribusi ulama, khususnya
para kiai NU ini dibuktikan dengan penunjukan Sukarno-Hatta sebagai
Waliyyul Amri ad-Dlaruri bisy-Syaukah di saat Indonesia hilang
kewibawaan di mata dunia, serta dengan keluarnya Resolusi Jihad dari
Hadratush Sheikh KH. Hasyim Asy’ari yang membangkitkan semangat
bertempur kepada Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo dalam melawan penjajah
pada 10 Nopember 1945 yang kemudian dikenal dengan Hari Pahlawan.
Sehingga kita heran mengapa segelintir orang yang tidak berkeringat,
tidak berdarah-darah dalam perjuangan menegakkan NKRI tiba-tiba ingin
mendirikan Negara Islam dengan dalih penegakan Khilafah Islamiyah. Untuk
itu mari bersama-sama mendidik anak cucu kita sebagai generasi penerus
untuk tetap kenal khidmat, cinta serta berbakti kepada para kiai dan
ulama.
Dalam perjuangan kemerdekaan, peran ulama tak dapat
diabaikan. Setidaknya ada enam jasa utama yang telah diberikan para
ulama untuk perjuangan kemerdekaan.
Pertama, menyadarkan rakyat
akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah. Di berbagai
pesantren, madrasah, ceramah, organisasi, dan pertemuan lainnya, para
ulama menanamkan kesadaran di hati rakyat akan ketidakadilan dan
kesewenang-wenangan penjajah tersebut.
Pengaruh para ulama yang
disebut ‘pendeta Islam’ itu diakui oleh penjajah. Thomas S. Raffles,
Letnan Gubernur EIC yang memerintah pada 1811-1816 di Indonesia berkata,
"Karena mereka begitu dihormati, maka tidak sulit bagi mereka untuk
menghasut rakyat agar memberontak, dan mereka menjadi alat paling
berbahaya di tangan penguasa pribumi yang menentang kepentingan
pemerintah kolonial. 'Pendeta Islam' itu ternyata merupakan golongan
yang paling aktif dalam setiap peristiwa pemberontakan. Mereka umumnya
berdarah campuran antara orang Arab dan penduduk pribumi, dalam jumlah
besar berkeliling dari negara satu ke negara lain, di pulau-pulau Timur.
Akibat intrik dan hasutan mereka, pemimpin pribumi biasanya dikerahkan
untuk menyerang atau membunuh orang Eropa, yang mereka anggap sebagai
kafir dan pengacau."
Kedua, memimpin gerakan non kooperatif
pada penjajah Belanda. Para ulama di masa penjajahan banyak mendirikan
pesantren di daerah-daerah terpencil, untuk menjauhi bangsa penjajah
yang banyak tinggal di kota.
Ketika Belanda, di masa revolusi,
mempropagandakan pelayanan perjalanan haji dengan ongkos dan fasilitas
yang dapat dijangkau oleh kaum Muslim di daerah jajahannya,
Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari pemimpin para ulama di Jawa menentang.
Beliau mengeluarkan fatwa bahwa pergi haji dalam masa revolusi dengan
menggunakan kapal Belanda hukumnya haram.
Ketika posisi Belanda
sulit dalam Perang Dunia II, mereka meminta orang-orang Indonesia masuk
militer Belanda dengan dalih untuk mempertahankan Indonesia melawan
musuh Jepang. Waktu itu KH. Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa yang
terkenal, yaitu mengharamkan masuk menjadi tentara Belanda atau
bekerjasama dengan Belanda dalam bentuk apapun.
Setiap bujukan
agar KH. Hasyim Asy'ari tunduk dan mendukung Belanda selalu gagal
dilakukan. Bahkan tawaran Belanda yang akan menganugerahkan bintang jasa
terbuat dari perak dan emas pada 1937 ditolaknya. Gerakan non
kooperatif pada penjajah itu juga dilakukan dan dipimpin oleh
ulama-ulama lainnya.
Ketiga, mengeluarkan fatwa wajibnya jihad
melawan penjajah. Fatwa jihad ini sangat besar pengaruhnya dalam
membangkitkan semangat perlawanan. Perang melawan penjajah dianggap
jihad fi sabîlillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama
Ajaran perang suci ini muncul di Aceh paling awal abad ke-17,
dibangkitkan oleh para guru agama pada masa krisis, yang terparah pada
akhir abad ke-19. Salah satu guru agama di tengah medan perang, Syaikh
Abbas Ibnu Muhammad, mengatakan dalam Tadhkirat ar-Rakidin ajaran utama
tahun 1889, bahwa Aceh merupakan Dar-al-Islam, kecuali daerah yang
diperintah Belanda dan menjadi Dar-al-Harb. Jihad merupakan kewajiban
moral (fardu ain) orang Islam, termasuk wanita dan anak-anak, berperang
untuk mengembalikan tanah yang dikuasai orang kafir kepada Dar-al-Islam.
Perang Diponegoro atau Perang Jawa dapat berkobar lima tahun
(1825-1830) juga karena alasan serupa. Dalam proklamasi dan permintaan
dukungannya pada ulama, bangsawan, dan masyarakat Jawa, Pangeran
Diponegoro, pangeran yang juga ulama menekankan bahwa ia adalah pemimpin
'perang sabil', perang suci, untuk mengusir Belanda yang tidak beriman
dari Jawa. Ia menyurati ulama dan pemimpin di Jawa Tengah dan Jawa
Timur, menghimbau mereka "untuk ikut melawan Belanda di seluruh daerah
untuk mengembalikan kedudukan tinggi kerajaan berdasar agama yang benar
(ngluhurken agami Islam)". Dalam menyebarkan fatwa jihad itu, Pangeran
Diponegoro dibantu oleh Kiai Mojo, Kiai Besari, dan ulama-ulama lainnya.
Setelah penjajahan Jepang berakhir dengan kekalahannya pada Perang
Dunia II, Belanda dan pasukan Sekutu berusaha menjajah Indonesia lagi.
Saat itu, Resolusi Jihad yang dikeluarkan para ulama NU, sangat besar
pengaruhnya dalam membangkitkan perlawanan rakyat terhadap Belanda dan
Sekutu. Resolusi ini bermula dari fatwa KH. Hasyim Asy'ari pada 22
Oktober 1945 di Surabaya, yang kemudian dikokohkan pada Muktamar NU XVI
di Purwokerto 26-29 Maret 1946.
Resolusi Jihad menyebutkan
bahwa berperang melawan penjajah adalah kewajiban fardu ain bagi orang
yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk atau kedudukan
musuh. Fardu ain itu baik bagi lelaki, perempuan, maupun anak-anak,
bersenjata atau tidak. Dan bagi orang yang di luar jarak 94 km (jauh),
kewajiban berperang itu menjadi fardu kifayah. Cukup dikerjakan oleh
sebagian saja.
Keberhasilan pertempuran Hari Pahlawan 10
Nopember 1945 di Surabaya tak lepas dari Resolusi Jihad ini. Selain itu,
Perang Paderi, Perang Aceh, Pemberontakan Petani di Banten,
Pemberontakan Rakyat Singaparna di Jawa Barat, dan banyak peristiwa
lainnya, juga dipicu oleh fatwa jihad dari para ulama.
Keempat,
memobilisasi dan memimpin rakyat dalam perjuangan fisik melawan
penjajah. Banyak ulama yang menjadi pemimpin perlawanan, seperti
Pangeran Diponegoro, Fatahillah, Imam Bonjol, Teuku Umar, Sultan
Hasanudin, Teungku Cik Ditiro, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abbas Buntet, KH.
Zainal Mustafa, dll.
KH. Hasyim Asy’ari sebagai pemimpin
tertinggi Masyumi membentuk laskar-laskar rakyat untuk mendapat latihan
ketentaraan dan memanggul senjata dengan metode baru. Mereka dilatih
secara militer untuk merebut kemerdekaan. Maka terbentuklah Hizbullah
untuk para pemuda dengan semboyan, “Alâ Inna Hizbullâhi hum
al-ghâlibûn,” “Ingatlah, sesungguhnya golongan Allahlah golongan yang
menang,” dan laskar Sabilillah untuk umumnya para kiai, lelaki, dan
wanita, dengan semboyan, “Waman yujâhid fî sabîlillâh,” “Mereka yang
berjuang di jalan Allah.”
Dan satu barisan lagi bernama laskar
Mujahidin yang menyerupai pasukan maut, yang tak takut mati. Laskar ini
membawa semboyan, “Walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ”.
“Mereka yang berjuang di jalan-Ku, akan Akau tunjukkan mereka
jalan-jalan-Ku.” Mereka yang bergabung dalam laskar-laskar ini mencapai
puluhan ribu orang di seantero Indonesia. Di setiap daerah, mereka
dipimpin para ulama. Pesantren-pesantren menjadi markasnya, termasuk
Tebuireng, Sidogiri, Lirboyo, dan Gontor. Panglima Hizbullah adalah KH
Zainul Arifin, dan Panglima Sabilillah adalah KH Masykur. Laskar-laskar
ini berperan sangat penting dalam perang kemerdekaan melawan Belanda.
Kelima, menyerukan persatuan membela kemerdekaan RI yang
diproklamasikan Soekarno-Hatta. Para ulama yang dipimpin Kiai Hasyim
Asy’ari memfatwakan kewajiban mempertahankan kemerdekaan RI. Dan pada
1954, sebuah Musyawarah Alim Ulama Indonesia (NU) di Cipanas mengambil
keputusan bahwa Presiden Soekarno adalah Waliyyul Amri Dharûrî
bisy-Syaukah, artinya pemegang pemerintahan yang punya cukup kewibawaan
dipatuhi oleh pejabat dan rakyat. Keputusan hukum itu mampu menjawab
kebingungan umat Islam dengan gelar Imam Negara Islam Indonesia (NII)
yang disandang SM Kartosuwiryo. Sehingga mayoritas umat tetap mengakui
kepemimpinan nasional Soekarno.
Keenam, berperan aktif dalam
mengisi awal kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan para ulama ikut
mempersiapkan kemerdekaan, termasuk di BPUPKI (Badan Penyelidik
Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia). Dan pada awal kemerdekaan, banyak
ulama yang aktif di pemerintahan atau parlemen. Dan juga tak terhitung
para ulama yang berjuang lewat organisasi dan pendidikan.
Setelah Indonesia merdeka, ada dua kekuatan yang disepelekan masyarakat.
Setelah perang selesai, ada dua kekuatan, yaitu ulama dan militer yang
tidak dianggap berperan dalam menegakkan NKRI… ketika Proklamasi
kekuatan militer dari Islam itu luar biasa besarnya. Bung Karno sendiri
ketika pidato Proklamasi tanggal 9 Ramadan 1364 H/17 Agustus 1945, kalau
tanpa dukungan ulama tidak akan berani… Dan Hasyim Asy’ari waktu juga
bilang bahwa presiden pertamanya adalan Bung Karno, dan itu disetujui
angkatan laut Jepang.”
Dengan jasa ulama yang sedemikian,
ternyata masih relatif sedikit para ulama yang mendapat gelar pahlawan
atau tertulis dalam sejarah kemerdekaan. Padahal tanpa jasa para ulama
sebagai pemimpin agama dan masyarakat, mustahil perjuangan kemerdekaan
akan dapat dibangkitkan dan didukung luas oleh rakyat.
Kemerdekaan bukan hanya hasil dari usaha para bangsawan, tokoh
nasionalis terpelajar, dan tentara, namun juga hasil besar dari usaha
para ulama. Kemerdekaan bukan hanya hasil perundingan, tulisan, orasi,
dan organisasi para tokoh nasionalis. Para ulama telah mengawali dan
mendukung perjuangan itu.
Karenanya, sudah selayaknya
perjuangan para ulama lebih dihargai dengan penulisan ulang sejarah dan
penganugerahan bintang kepahlawanan. Baik ulama yang sudah terkenal,
maupun yang belum terkenal, sama-sama berhak dihargai jasa
kepahlawanannya bagi bangsa dan negara. Sebagaimana kata Bung Karno,
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya".
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
PANCASILA DAN NKRI HARGA MATI !!!
JANGAN LUPAKAN SEJARAH !!!
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini lahir berkat jasa para
ulama dan para kiai, khususnya ulama Nahdlatul Ulama (NU). Karena itu
sudah selayaknya tetap mempertahankan kesatuan NKRI agar perjuangan para
ulama dan tokoh bangsa tidak sia-sia.
Kontribusi ulama, khususnya para kiai NU ini dibuktikan dengan penunjukan Sukarno-Hatta sebagai Waliyyul Amri ad-Dlaruri bisy-Syaukah di saat Indonesia hilang kewibawaan di mata dunia, serta dengan keluarnya Resolusi Jihad dari Hadratush Sheikh KH. Hasyim Asy’ari yang membangkitkan semangat bertempur kepada Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo dalam melawan penjajah pada 10 Nopember 1945 yang kemudian dikenal dengan Hari Pahlawan.
Sehingga kita heran mengapa segelintir orang yang tidak berkeringat, tidak berdarah-darah dalam perjuangan menegakkan NKRI tiba-tiba ingin mendirikan Negara Islam dengan dalih penegakan Khilafah Islamiyah. Untuk itu mari bersama-sama mendidik anak cucu kita sebagai generasi penerus untuk tetap kenal khidmat, cinta serta berbakti kepada para kiai dan ulama.
Dalam perjuangan kemerdekaan, peran ulama tak dapat diabaikan. Setidaknya ada enam jasa utama yang telah diberikan para ulama untuk perjuangan kemerdekaan.
Pertama, menyadarkan rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah. Di berbagai pesantren, madrasah, ceramah, organisasi, dan pertemuan lainnya, para ulama menanamkan kesadaran di hati rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah tersebut.
Pengaruh para ulama yang disebut ‘pendeta Islam’ itu diakui oleh penjajah. Thomas S. Raffles, Letnan Gubernur EIC yang memerintah pada 1811-1816 di Indonesia berkata, "Karena mereka begitu dihormati, maka tidak sulit bagi mereka untuk menghasut rakyat agar memberontak, dan mereka menjadi alat paling berbahaya di tangan penguasa pribumi yang menentang kepentingan pemerintah kolonial. 'Pendeta Islam' itu ternyata merupakan golongan yang paling aktif dalam setiap peristiwa pemberontakan. Mereka umumnya berdarah campuran antara orang Arab dan penduduk pribumi, dalam jumlah besar berkeliling dari negara satu ke negara lain, di pulau-pulau Timur. Akibat intrik dan hasutan mereka, pemimpin pribumi biasanya dikerahkan untuk menyerang atau membunuh orang Eropa, yang mereka anggap sebagai kafir dan pengacau."
Kedua, memimpin gerakan non kooperatif pada penjajah Belanda. Para ulama di masa penjajahan banyak mendirikan pesantren di daerah-daerah terpencil, untuk menjauhi bangsa penjajah yang banyak tinggal di kota.
Ketika Belanda, di masa revolusi, mempropagandakan pelayanan perjalanan haji dengan ongkos dan fasilitas yang dapat dijangkau oleh kaum Muslim di daerah jajahannya, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari pemimpin para ulama di Jawa menentang. Beliau mengeluarkan fatwa bahwa pergi haji dalam masa revolusi dengan menggunakan kapal Belanda hukumnya haram.
Ketika posisi Belanda sulit dalam Perang Dunia II, mereka meminta orang-orang Indonesia masuk militer Belanda dengan dalih untuk mempertahankan Indonesia melawan musuh Jepang. Waktu itu KH. Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa yang terkenal, yaitu mengharamkan masuk menjadi tentara Belanda atau bekerjasama dengan Belanda dalam bentuk apapun.
Setiap bujukan agar KH. Hasyim Asy'ari tunduk dan mendukung Belanda selalu gagal dilakukan. Bahkan tawaran Belanda yang akan menganugerahkan bintang jasa terbuat dari perak dan emas pada 1937 ditolaknya. Gerakan non kooperatif pada penjajah itu juga dilakukan dan dipimpin oleh ulama-ulama lainnya.
Ketiga, mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan penjajah. Fatwa jihad ini sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan semangat perlawanan. Perang melawan penjajah dianggap jihad fi sabîlillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama
Ajaran perang suci ini muncul di Aceh paling awal abad ke-17, dibangkitkan oleh para guru agama pada masa krisis, yang terparah pada akhir abad ke-19. Salah satu guru agama di tengah medan perang, Syaikh Abbas Ibnu Muhammad, mengatakan dalam Tadhkirat ar-Rakidin ajaran utama tahun 1889, bahwa Aceh merupakan Dar-al-Islam, kecuali daerah yang diperintah Belanda dan menjadi Dar-al-Harb. Jihad merupakan kewajiban moral (fardu ain) orang Islam, termasuk wanita dan anak-anak, berperang untuk mengembalikan tanah yang dikuasai orang kafir kepada Dar-al-Islam.
Perang Diponegoro atau Perang Jawa dapat berkobar lima tahun (1825-1830) juga karena alasan serupa. Dalam proklamasi dan permintaan dukungannya pada ulama, bangsawan, dan masyarakat Jawa, Pangeran Diponegoro, pangeran yang juga ulama menekankan bahwa ia adalah pemimpin 'perang sabil', perang suci, untuk mengusir Belanda yang tidak beriman dari Jawa. Ia menyurati ulama dan pemimpin di Jawa Tengah dan Jawa Timur, menghimbau mereka "untuk ikut melawan Belanda di seluruh daerah untuk mengembalikan kedudukan tinggi kerajaan berdasar agama yang benar (ngluhurken agami Islam)". Dalam menyebarkan fatwa jihad itu, Pangeran Diponegoro dibantu oleh Kiai Mojo, Kiai Besari, dan ulama-ulama lainnya.
Setelah penjajahan Jepang berakhir dengan kekalahannya pada Perang Dunia II, Belanda dan pasukan Sekutu berusaha menjajah Indonesia lagi. Saat itu, Resolusi Jihad yang dikeluarkan para ulama NU, sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan perlawanan rakyat terhadap Belanda dan Sekutu. Resolusi ini bermula dari fatwa KH. Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya, yang kemudian dikokohkan pada Muktamar NU XVI di Purwokerto 26-29 Maret 1946.
Resolusi Jihad menyebutkan bahwa berperang melawan penjajah adalah kewajiban fardu ain bagi orang yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk atau kedudukan musuh. Fardu ain itu baik bagi lelaki, perempuan, maupun anak-anak, bersenjata atau tidak. Dan bagi orang yang di luar jarak 94 km (jauh), kewajiban berperang itu menjadi fardu kifayah. Cukup dikerjakan oleh sebagian saja.
Keberhasilan pertempuran Hari Pahlawan 10 Nopember 1945 di Surabaya tak lepas dari Resolusi Jihad ini. Selain itu, Perang Paderi, Perang Aceh, Pemberontakan Petani di Banten, Pemberontakan Rakyat Singaparna di Jawa Barat, dan banyak peristiwa lainnya, juga dipicu oleh fatwa jihad dari para ulama.
Keempat, memobilisasi dan memimpin rakyat dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Banyak ulama yang menjadi pemimpin perlawanan, seperti Pangeran Diponegoro, Fatahillah, Imam Bonjol, Teuku Umar, Sultan Hasanudin, Teungku Cik Ditiro, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abbas Buntet, KH. Zainal Mustafa, dll.
KH. Hasyim Asy’ari sebagai pemimpin tertinggi Masyumi membentuk laskar-laskar rakyat untuk mendapat latihan ketentaraan dan memanggul senjata dengan metode baru. Mereka dilatih secara militer untuk merebut kemerdekaan. Maka terbentuklah Hizbullah untuk para pemuda dengan semboyan, “Alâ Inna Hizbullâhi hum al-ghâlibûn,” “Ingatlah, sesungguhnya golongan Allahlah golongan yang menang,” dan laskar Sabilillah untuk umumnya para kiai, lelaki, dan wanita, dengan semboyan, “Waman yujâhid fî sabîlillâh,” “Mereka yang berjuang di jalan Allah.”
Dan satu barisan lagi bernama laskar Mujahidin yang menyerupai pasukan maut, yang tak takut mati. Laskar ini membawa semboyan, “Walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ”. “Mereka yang berjuang di jalan-Ku, akan Akau tunjukkan mereka jalan-jalan-Ku.” Mereka yang bergabung dalam laskar-laskar ini mencapai puluhan ribu orang di seantero Indonesia. Di setiap daerah, mereka dipimpin para ulama. Pesantren-pesantren menjadi markasnya, termasuk Tebuireng, Sidogiri, Lirboyo, dan Gontor. Panglima Hizbullah adalah KH Zainul Arifin, dan Panglima Sabilillah adalah KH Masykur. Laskar-laskar ini berperan sangat penting dalam perang kemerdekaan melawan Belanda.
Kelima, menyerukan persatuan membela kemerdekaan RI yang diproklamasikan Soekarno-Hatta. Para ulama yang dipimpin Kiai Hasyim Asy’ari memfatwakan kewajiban mempertahankan kemerdekaan RI. Dan pada 1954, sebuah Musyawarah Alim Ulama Indonesia (NU) di Cipanas mengambil keputusan bahwa Presiden Soekarno adalah Waliyyul Amri Dharûrî bisy-Syaukah, artinya pemegang pemerintahan yang punya cukup kewibawaan dipatuhi oleh pejabat dan rakyat. Keputusan hukum itu mampu menjawab kebingungan umat Islam dengan gelar Imam Negara Islam Indonesia (NII) yang disandang SM Kartosuwiryo. Sehingga mayoritas umat tetap mengakui kepemimpinan nasional Soekarno.
Keenam, berperan aktif dalam mengisi awal kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan para ulama ikut mempersiapkan kemerdekaan, termasuk di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia). Dan pada awal kemerdekaan, banyak ulama yang aktif di pemerintahan atau parlemen. Dan juga tak terhitung para ulama yang berjuang lewat organisasi dan pendidikan.
Setelah Indonesia merdeka, ada dua kekuatan yang disepelekan masyarakat. Setelah perang selesai, ada dua kekuatan, yaitu ulama dan militer yang tidak dianggap berperan dalam menegakkan NKRI… ketika Proklamasi kekuatan militer dari Islam itu luar biasa besarnya. Bung Karno sendiri ketika pidato Proklamasi tanggal 9 Ramadan 1364 H/17 Agustus 1945, kalau tanpa dukungan ulama tidak akan berani… Dan Hasyim Asy’ari waktu juga bilang bahwa presiden pertamanya adalan Bung Karno, dan itu disetujui angkatan laut Jepang.”
Dengan jasa ulama yang sedemikian, ternyata masih relatif sedikit para ulama yang mendapat gelar pahlawan atau tertulis dalam sejarah kemerdekaan. Padahal tanpa jasa para ulama sebagai pemimpin agama dan masyarakat, mustahil perjuangan kemerdekaan akan dapat dibangkitkan dan didukung luas oleh rakyat.
Kemerdekaan bukan hanya hasil dari usaha para bangsawan, tokoh nasionalis terpelajar, dan tentara, namun juga hasil besar dari usaha para ulama. Kemerdekaan bukan hanya hasil perundingan, tulisan, orasi, dan organisasi para tokoh nasionalis. Para ulama telah mengawali dan mendukung perjuangan itu.
Karenanya, sudah selayaknya perjuangan para ulama lebih dihargai dengan penulisan ulang sejarah dan penganugerahan bintang kepahlawanan. Baik ulama yang sudah terkenal, maupun yang belum terkenal, sama-sama berhak dihargai jasa kepahlawanannya bagi bangsa dan negara. Sebagaimana kata Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya".
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
PANCASILA DAN NKRI HARGA MATI !!!
Kontribusi ulama, khususnya para kiai NU ini dibuktikan dengan penunjukan Sukarno-Hatta sebagai Waliyyul Amri ad-Dlaruri bisy-Syaukah di saat Indonesia hilang kewibawaan di mata dunia, serta dengan keluarnya Resolusi Jihad dari Hadratush Sheikh KH. Hasyim Asy’ari yang membangkitkan semangat bertempur kepada Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo dalam melawan penjajah pada 10 Nopember 1945 yang kemudian dikenal dengan Hari Pahlawan.
Sehingga kita heran mengapa segelintir orang yang tidak berkeringat, tidak berdarah-darah dalam perjuangan menegakkan NKRI tiba-tiba ingin mendirikan Negara Islam dengan dalih penegakan Khilafah Islamiyah. Untuk itu mari bersama-sama mendidik anak cucu kita sebagai generasi penerus untuk tetap kenal khidmat, cinta serta berbakti kepada para kiai dan ulama.
Dalam perjuangan kemerdekaan, peran ulama tak dapat diabaikan. Setidaknya ada enam jasa utama yang telah diberikan para ulama untuk perjuangan kemerdekaan.
Pertama, menyadarkan rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah. Di berbagai pesantren, madrasah, ceramah, organisasi, dan pertemuan lainnya, para ulama menanamkan kesadaran di hati rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah tersebut.
Pengaruh para ulama yang disebut ‘pendeta Islam’ itu diakui oleh penjajah. Thomas S. Raffles, Letnan Gubernur EIC yang memerintah pada 1811-1816 di Indonesia berkata, "Karena mereka begitu dihormati, maka tidak sulit bagi mereka untuk menghasut rakyat agar memberontak, dan mereka menjadi alat paling berbahaya di tangan penguasa pribumi yang menentang kepentingan pemerintah kolonial. 'Pendeta Islam' itu ternyata merupakan golongan yang paling aktif dalam setiap peristiwa pemberontakan. Mereka umumnya berdarah campuran antara orang Arab dan penduduk pribumi, dalam jumlah besar berkeliling dari negara satu ke negara lain, di pulau-pulau Timur. Akibat intrik dan hasutan mereka, pemimpin pribumi biasanya dikerahkan untuk menyerang atau membunuh orang Eropa, yang mereka anggap sebagai kafir dan pengacau."
Kedua, memimpin gerakan non kooperatif pada penjajah Belanda. Para ulama di masa penjajahan banyak mendirikan pesantren di daerah-daerah terpencil, untuk menjauhi bangsa penjajah yang banyak tinggal di kota.
Ketika Belanda, di masa revolusi, mempropagandakan pelayanan perjalanan haji dengan ongkos dan fasilitas yang dapat dijangkau oleh kaum Muslim di daerah jajahannya, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari pemimpin para ulama di Jawa menentang. Beliau mengeluarkan fatwa bahwa pergi haji dalam masa revolusi dengan menggunakan kapal Belanda hukumnya haram.
Ketika posisi Belanda sulit dalam Perang Dunia II, mereka meminta orang-orang Indonesia masuk militer Belanda dengan dalih untuk mempertahankan Indonesia melawan musuh Jepang. Waktu itu KH. Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa yang terkenal, yaitu mengharamkan masuk menjadi tentara Belanda atau bekerjasama dengan Belanda dalam bentuk apapun.
Setiap bujukan agar KH. Hasyim Asy'ari tunduk dan mendukung Belanda selalu gagal dilakukan. Bahkan tawaran Belanda yang akan menganugerahkan bintang jasa terbuat dari perak dan emas pada 1937 ditolaknya. Gerakan non kooperatif pada penjajah itu juga dilakukan dan dipimpin oleh ulama-ulama lainnya.
Ketiga, mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan penjajah. Fatwa jihad ini sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan semangat perlawanan. Perang melawan penjajah dianggap jihad fi sabîlillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama
Ajaran perang suci ini muncul di Aceh paling awal abad ke-17, dibangkitkan oleh para guru agama pada masa krisis, yang terparah pada akhir abad ke-19. Salah satu guru agama di tengah medan perang, Syaikh Abbas Ibnu Muhammad, mengatakan dalam Tadhkirat ar-Rakidin ajaran utama tahun 1889, bahwa Aceh merupakan Dar-al-Islam, kecuali daerah yang diperintah Belanda dan menjadi Dar-al-Harb. Jihad merupakan kewajiban moral (fardu ain) orang Islam, termasuk wanita dan anak-anak, berperang untuk mengembalikan tanah yang dikuasai orang kafir kepada Dar-al-Islam.
Perang Diponegoro atau Perang Jawa dapat berkobar lima tahun (1825-1830) juga karena alasan serupa. Dalam proklamasi dan permintaan dukungannya pada ulama, bangsawan, dan masyarakat Jawa, Pangeran Diponegoro, pangeran yang juga ulama menekankan bahwa ia adalah pemimpin 'perang sabil', perang suci, untuk mengusir Belanda yang tidak beriman dari Jawa. Ia menyurati ulama dan pemimpin di Jawa Tengah dan Jawa Timur, menghimbau mereka "untuk ikut melawan Belanda di seluruh daerah untuk mengembalikan kedudukan tinggi kerajaan berdasar agama yang benar (ngluhurken agami Islam)". Dalam menyebarkan fatwa jihad itu, Pangeran Diponegoro dibantu oleh Kiai Mojo, Kiai Besari, dan ulama-ulama lainnya.
Setelah penjajahan Jepang berakhir dengan kekalahannya pada Perang Dunia II, Belanda dan pasukan Sekutu berusaha menjajah Indonesia lagi. Saat itu, Resolusi Jihad yang dikeluarkan para ulama NU, sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan perlawanan rakyat terhadap Belanda dan Sekutu. Resolusi ini bermula dari fatwa KH. Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya, yang kemudian dikokohkan pada Muktamar NU XVI di Purwokerto 26-29 Maret 1946.
Resolusi Jihad menyebutkan bahwa berperang melawan penjajah adalah kewajiban fardu ain bagi orang yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk atau kedudukan musuh. Fardu ain itu baik bagi lelaki, perempuan, maupun anak-anak, bersenjata atau tidak. Dan bagi orang yang di luar jarak 94 km (jauh), kewajiban berperang itu menjadi fardu kifayah. Cukup dikerjakan oleh sebagian saja.
Keberhasilan pertempuran Hari Pahlawan 10 Nopember 1945 di Surabaya tak lepas dari Resolusi Jihad ini. Selain itu, Perang Paderi, Perang Aceh, Pemberontakan Petani di Banten, Pemberontakan Rakyat Singaparna di Jawa Barat, dan banyak peristiwa lainnya, juga dipicu oleh fatwa jihad dari para ulama.
Keempat, memobilisasi dan memimpin rakyat dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Banyak ulama yang menjadi pemimpin perlawanan, seperti Pangeran Diponegoro, Fatahillah, Imam Bonjol, Teuku Umar, Sultan Hasanudin, Teungku Cik Ditiro, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abbas Buntet, KH. Zainal Mustafa, dll.
KH. Hasyim Asy’ari sebagai pemimpin tertinggi Masyumi membentuk laskar-laskar rakyat untuk mendapat latihan ketentaraan dan memanggul senjata dengan metode baru. Mereka dilatih secara militer untuk merebut kemerdekaan. Maka terbentuklah Hizbullah untuk para pemuda dengan semboyan, “Alâ Inna Hizbullâhi hum al-ghâlibûn,” “Ingatlah, sesungguhnya golongan Allahlah golongan yang menang,” dan laskar Sabilillah untuk umumnya para kiai, lelaki, dan wanita, dengan semboyan, “Waman yujâhid fî sabîlillâh,” “Mereka yang berjuang di jalan Allah.”
Dan satu barisan lagi bernama laskar Mujahidin yang menyerupai pasukan maut, yang tak takut mati. Laskar ini membawa semboyan, “Walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ”. “Mereka yang berjuang di jalan-Ku, akan Akau tunjukkan mereka jalan-jalan-Ku.” Mereka yang bergabung dalam laskar-laskar ini mencapai puluhan ribu orang di seantero Indonesia. Di setiap daerah, mereka dipimpin para ulama. Pesantren-pesantren menjadi markasnya, termasuk Tebuireng, Sidogiri, Lirboyo, dan Gontor. Panglima Hizbullah adalah KH Zainul Arifin, dan Panglima Sabilillah adalah KH Masykur. Laskar-laskar ini berperan sangat penting dalam perang kemerdekaan melawan Belanda.
Kelima, menyerukan persatuan membela kemerdekaan RI yang diproklamasikan Soekarno-Hatta. Para ulama yang dipimpin Kiai Hasyim Asy’ari memfatwakan kewajiban mempertahankan kemerdekaan RI. Dan pada 1954, sebuah Musyawarah Alim Ulama Indonesia (NU) di Cipanas mengambil keputusan bahwa Presiden Soekarno adalah Waliyyul Amri Dharûrî bisy-Syaukah, artinya pemegang pemerintahan yang punya cukup kewibawaan dipatuhi oleh pejabat dan rakyat. Keputusan hukum itu mampu menjawab kebingungan umat Islam dengan gelar Imam Negara Islam Indonesia (NII) yang disandang SM Kartosuwiryo. Sehingga mayoritas umat tetap mengakui kepemimpinan nasional Soekarno.
Keenam, berperan aktif dalam mengisi awal kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan para ulama ikut mempersiapkan kemerdekaan, termasuk di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia). Dan pada awal kemerdekaan, banyak ulama yang aktif di pemerintahan atau parlemen. Dan juga tak terhitung para ulama yang berjuang lewat organisasi dan pendidikan.
Setelah Indonesia merdeka, ada dua kekuatan yang disepelekan masyarakat. Setelah perang selesai, ada dua kekuatan, yaitu ulama dan militer yang tidak dianggap berperan dalam menegakkan NKRI… ketika Proklamasi kekuatan militer dari Islam itu luar biasa besarnya. Bung Karno sendiri ketika pidato Proklamasi tanggal 9 Ramadan 1364 H/17 Agustus 1945, kalau tanpa dukungan ulama tidak akan berani… Dan Hasyim Asy’ari waktu juga bilang bahwa presiden pertamanya adalan Bung Karno, dan itu disetujui angkatan laut Jepang.”
Dengan jasa ulama yang sedemikian, ternyata masih relatif sedikit para ulama yang mendapat gelar pahlawan atau tertulis dalam sejarah kemerdekaan. Padahal tanpa jasa para ulama sebagai pemimpin agama dan masyarakat, mustahil perjuangan kemerdekaan akan dapat dibangkitkan dan didukung luas oleh rakyat.
Kemerdekaan bukan hanya hasil dari usaha para bangsawan, tokoh nasionalis terpelajar, dan tentara, namun juga hasil besar dari usaha para ulama. Kemerdekaan bukan hanya hasil perundingan, tulisan, orasi, dan organisasi para tokoh nasionalis. Para ulama telah mengawali dan mendukung perjuangan itu.
Karenanya, sudah selayaknya perjuangan para ulama lebih dihargai dengan penulisan ulang sejarah dan penganugerahan bintang kepahlawanan. Baik ulama yang sudah terkenal, maupun yang belum terkenal, sama-sama berhak dihargai jasa kepahlawanannya bagi bangsa dan negara. Sebagaimana kata Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya".
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-68
PANCASILA DAN NKRI HARGA MATI !!!
Senin, 12 Agustus 2013
Jadilah ulama yang ihsan
Sampai hari ini ditengah-tengah kita masih saja terjadi sesama umat
Islam saling menghujat, saling menyesatkan dan saling mengkafirkan.
Bahkan ironisnya yang sesat dianggap perbedaan biasa, yang perbedaan biasa dianggap sesat. Terbolak balik.
Hal ini kalau dibiarkan akan menjadi bibit permusuhan dan perpecahan.
Jadi jangan mimpi kita bisa bersaudara kalau kita satu sama lainnya
saling mengkafirkan. Jangan mimpi kalau kita bersaudara kalau kita
satu sama lainnya saling menyesatkan. Mustahil kita bisa bersaudara
kalau antara kita satu sama lainnya saling menghujat, saling
menyesatkan, saling mengkafirkan. Ini musibah bagi umat Islam.
Innalillahi wa inailahi roji’un.
Karena itu saya sangat prihatin terbit sebuah buku dengan judul
“Mulia dengan manhaj salaf”. Judulnya bagus betul. Diterbitkan oleh
pustaka At Taqwa, Yang menulis Yazid bin Abdul Qodir.
Kenapa saya prihatin dengan kehadiran buku ini. Kalau kita buka pada
bab yang ketigabelas yaitu bab yang terakhir. Disini penulis
menyebutkan firqoh-firqoh sesat dan menyesatkan. Yang nomor delapan
disebutkan Asy’ariah. Yang nomor sembilan disebut Maturidiyah.
Kemudian yang nomor empat belas atau yang nomor tiga belas Shufiyah,
ahli tasawuf. Yang nomor empat belas Jama’ah Tabligh. Yang nomor lima
belas Ikhwanul Muslimin. Yang nomor tujuh belas Hizbut Tahrir. dan
nomor dua puluh tujuhnya Jaringan Islam Liberal.
Jadi Asy’ariyah, Maturidiyah, ini yang merupakan representatif,
mewakili Ahlussunnah wal Jama’ah dimasukkan dalam satu kelompok dengan
kalangan liberal yang notabene sesat menyesatkan.
Bahkan dengan mudahnya dia katakan Jama’ah Tabligh dan Ikhwanul
Muslimin juga masuk firqoh sesat. Apakah yang semacam ini tidak
memecah belah umat ?
Jadi kalau penulis ini ingin menyebarluaskan pahamnya, silahkan itu
urusan dia. Kalau dia meyakini akidah yang dipercayainya merupakan
aqidah yang benar, ttu urusan dia. Kalau dia merasa pendapatnya adalah
pendapat yang paling benar, itu urusan dia. Tapi kalau dia
mengkafirkan kelompok-kelompok umat Islam dari saudara-saudara kaum
musliminnya dia tidak punya hak.
Buku-buku semacam ini memecah belah umat. Kalau pengarang ini merasa
bahwa Wahhabi adalah ajaran yang paling benar, silahkan. Dia
menamakan dirinya pengikut Salafi atau di Indonesia lebih dikenal
dengan nama istilah Wahhabi. Kalau dia merasa Salafi Wahhabi paling
benar, hak dia. Kalau dia merasa paling suci, hak dia. Kalau dia
merasa paling lurus, hak dia. Tapi dia tidak punya hak untuk sesat
menyesatkan, kafir mengkafirkan sesama umat Islam.
Apalagi umat Islam dari kalangan Asy’ari dan Maturidi yang sudah
1200 tahun lebih secara representatif mewakili Ahlussunnah wal
Jama’ah. Wahhabi baru lahir kemarin, terus ingin mengkafirkan ASy’ari.
Memang selama ini 1000 tahun yang disebut Ahlussunnah itu siapa?
1000 tahun lebih yang disebut Ahlussunnah itu adalah Asy’ari dan
Maturidi. Wahhabi tidak masuk daftar. Baru muncul belakangan, sudah
ingin sesat menyesatkan umat Islam yang tidak sepakat dengan mereka.
Innalillahi wainailahi rojiun.
Anda perlu ketahui kalau kelompok Wahabi merasa akidah yang
diajarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal yang terbaik, itu hak mereka.
Tapi mereka harus tahu bahwa ulama-ulama dari Mazhab Syafi’i dan
Maliki, mayoritas mereka mengikuti akidah Asy’ariah dan ulama-ulama
dari mazhab Hanafi, mayoritas mereka mengikuti akidah Maturidiah.
Jadi kalau mereka mengkafirkan atau menyesatkan Asy’ariah dan
Maturidiah berarti ulama-ulama yang jumlahnya ratusan ribu bahkan
juta’an orang semenjak mazhab-mazhab itu lahir sampai saat ini berarti
ulama-ulama mazhab Syafi’i , Mazhab Maliki, Mazhab Hanafi semuanya
sesat, kafir. Innalillahi wainnailahi roji’un.
Tidak boleh begitu. Kita ingin berikan nasehat kepada penulis buku
ini atau yang menerbitkannya atau yang mendukung daripada
penyebarluasannya. Ittaqullah, takutlah kepada Allah.
Jangan sembarangan mengkafirkan saudara-saudaramu. Tidak boleh kita
sembarangan mengkafirkan Ahli Kiblat. tidak boleh saudara, kita hanya
boleh mengkafirkan yang sudah nyata-nyata kafir.
Label:
Jadilah ulama yang ihsan
KISAH MENYENTUH HATI BERMIMPI JUMPA NABI
Muradik al-Bashri berkisah: “Aku membeli barang dari salah seorang
pembesar wilayah Ahwaz. Aku melakukan tawar menawar harga dengannya
hingga saling bersitegang. Karena marah, dia mencaci maki Abu Bakar dan
Umar. Aku tidak berani menyanggah ucapannya itu karena aku kalah wibawa
dengan dia.
Aku pulang ke rumah dalam keadaan sedih. Pada malam
itu aku tidur dengan membawa kesedihan. Aku bertemu Nabi Saw. di dalam
mimpiku. Aku berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada
seseorang yang mencaci maki Abu Bakar dan Umar.”
Beliau Saw. bersabda: “Bawalah orang itu kemari!”
Aku pun membawanya menghadap Rasulullah Saw. Beliau Saw. menitahkan: “Baringkan dia!”
Aku segera membaringkannya. Beliau Saw. kemudian bertitah: “Sembelihlah dia!”
Seketika itu langsung terbayang betapa beratnya perintah menyembelih
itu bagiku. Aku bertanya kepada Nabi Saw.: “Wahai Rasulullah, saya harus
menyembelihnya?”
Beliau Saw. menjawab: “Ya, sembelihlah dia!”
Aku terus menanyakan hal itu kepada beliau hingga tiga kali dan beliau
menjawab dengan jawaban yang sama sebanyak tiga kali pula. Akhirnya aku
iriskan pisau melewati tenggorokannya dan aku berhasil menyembelihnya.
Keesokan harinya, aku bergumam kepada diriku sendiri: “Aku akan pergi
menjumpai orang itu dan menasihatinya. Aku akan sampaikan mimpiku dari
Rasulullah Saw. tadi malam kepadanya.” Lantas aku bergegas menuju
rumahnya, tiba-tiba aku mendengar suara ratapan dari rumahnya.
Disampaikan berita kepadaku bahwa dia sudah mati.
(Disarikan dari buku “100 Kisah Orang Bermimpi Nabi Muhammad Saw.”)
7 penemuan ilmuwan muslim
1. Operasi Bedah
Sekitar tahun 1000 seorang dokter Al Zahrawi mempublikasikan 1500 halaman ensiklopedia berilustrasi tentang operasi bedah yang digunakan di Eropa sebagai referensi medis selama lebih dari 500 tahun. Zahrawi menggunakan larutan usus kucing menjadi benang jahitan, sebelum menangani operasi kedua untuk memindahkan jahitan pada luka. Dia juga melakukan operasi Caesar dan menciptakan sepasang alat jepit pembedahan
2. Kopi pertama kali dibuat di Yaman pada sekitar abad ke-9. Pada awalnya kopi membantu kaum sufi tetap terjaga ibadah larut malam. Kemudian dibawa ke Kairo oleh sekelompok pelajar. Pada abad ke 13 Kopi menyebrang ke Turki tetapi baru abad ke 16 ketika kacang mulai direbus di Eropa. Kopi dibawa ke Italia oleh pedagang Venesia.
3. Universitas
Ilustrasi
Pada tahun 859 seorang putri muda bernama Fatima al-Firhi mendirikan sebuah universitas tingkat pertama di Fez Maroko. Saudara perempuannya Miriam mendirikan masjid indah bersamaan menjadi masjid dan universitas Al-Qorawiyyin dan terus beroperasi selama 1200 tahun kemudian. Hassani mengatakan dia berharap orang akan ingat bahwa belajar adalah inti utama tradisi Islam dan cerita tentang al-Firhi bersaudara akan menginspirasi wanita muslim dimana pun di dunia.
4. Optik
Diantara tahun 1.000 Ibn al-Haitham membuktikan bahwa manusia melihat objek dari refleksi cahaya dan masuk kemata, mengacuhkan teori Euclid dan Ptolomy bahwa cahaya dihasilkan dari dalam mata sendiri. Fisikawan hebat muslim lainnya juga menemukan fenomena pengukuran kamera dimana dijelaskan bagaimana mata gambar dapat terlihat dengan koneksi antara optik dan otak.
Ilustrasi
5. Musik
Musisi muslim memiliki dampak signifikan di Eropa. Diantara banyak instrument yang hadir ke Eropa melalui Timur tengah adalah lute dan rahab, nenek moyang biola. Skala notasi musik modern juga dikatakan berasal dari alphabet arab.
6. Sikat Gigi
Menurut Hasani, Nabi Muhammad SAW mempopulerkan penggunaan sikat gigi pertama kali pada tahun 600. Menggunakan ranting pohon araq/Siwak, untuk membersihkan gigi dan menyegarkan nafas. Kandungan dalam Siwak juga digunakan dalam pasta gigi modern.
7. Engkol
Dengan mengkonversi gerakan memutar dengan gerakan lurus, pemutar memungkinkan objek berat terangkat relativ lebih mudah. Teknologi ini ditemukan oleh Al-Jazari pada abad ke 12, kemudian digunakan dalam penggunaan sepeda hingga kini.
Label:
7 penemuan ilmuwan muslim
Sabtu, 10 Agustus 2013
GUS DUR DI MATA HABIB LUTHFI BIN YAHYA
GUS DUR DI MATA HABIB LUTHFI BIN YAHYA Memiliki jiwa dan anak keturunan yang shaleh adalah dambaan setiap muslim. Predikat “shaleh” bukanlah sembarangan predikat. Lihat bagaimana seorang nabi dan rasul serta berpredikat Khalilullah Sayyiduna Ibrahim As. saja masih mendambakan keshalehan dalam doanya: رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ “Robbi habliy minashshoolihiin” (Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh). (QS. ash-Shaffaat ayat 100). Ketua Umum Jam’iyyah Ahlut Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya mengaku tidak bisa menyimpulkan apakah Gus Dur wali atau bukan, tetapi ia yakin Gus Dur orang yang shaleh. “Yang tahu wali hanya wali. Dan saya husnudzan billah beliau orang yang shaleh,” kata beliau seusai memberi taushiyah salah satu acara Maulid Nabi Saw. yang diselenggarakan Ansor NU. Beliau menjelaskan bahwa keshalehan atau kewalian seseorang tidak bisa diukur atau dibandingkan layaknya emas berapa karat. “Shaleh ya shaleh, keshalehan seseorang tidak bisa kita ukur, apalagi keauliyaan . Tinggal prasangka baik kita, apalagi Gus Dur yang sudah berbuat untuk umat ini, untuk bangsa ini,” tandas beliau. Lihat betapa seorang ulama besar masa ini, Rais ‘Am, Ketua Umum thariqat di Indonesia bahkan dunia, mengakui akan keshalehan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Seharusnya saya malu menganggap bahwa Gus Dur bukanlah siapa-siapa, apalagi sampai mencacinya. Lhah kita ini siapa dibanding beliau Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya? Takkan terlupakan diri ini di setiap kali ta’lim hari Ahad pagi di Majelis Ta’lim al-Hikmah Ketitang Talang tegal, sang pembina yang mulia al-Habib Qasim bin Hasan bin Husein bin Syaikh Abubakar bin Salim semasa hidupnya tak pernah luput untuk senantiasa mendoakan dua nama ulama yang disejajarkan, yakni Gus Dur dan al-Habib Luthfi. Lahum al-Fatihah... http:// pustakamuhibbin.blogspot.com/ 2013/07/ gus-dur-di-mata-habib-luthfi-bi n-yahya.html
Rabu, 07 Agustus 2013
TANGISNYA PARA PECINTA RAMADHAN
TANGISNYA PARA PECINTA RAMADHAN
“Di malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh
petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga
keistimewaannya.”
Waktu terus bergulir dari detik ke detik,
dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari minggu ke
minggu.... Rasanya baru kemarin kita begitu bersemangat mempersiapkan
diri untuk memasuki bulan Ramadhan, bulan tarbiyah, bulan latihan, bulan
Quran, bulan sa’adah, bulan maghfirah, bulan yang penuh berkah. Namun
beberapa saat lagi, Ramadhan akan meninggalkan kita, padahal kita belum
optimal melaksanakan qiyamul lail kita, belum optimal membaca Al-Quran
serta belum optimal melaksanakan ibadah-ibadah lain, target-target yang
kita pasang belum semuanya terlaksana. Dan kita tidak akan pernah tahu
apakah kita masih dapat berjumpa dengan Ramadhan berikutnya.
Bagi para salafush shalih, setiap bulan Ramadhan pergi meninggalkan
mereka, mereka selalu meneteskan air mata. Di lisan mereka terucap
sebuah doa yang merupakan ungkapan kerinduan akan datangnya kembali
bulan Ramadhan menghampiri diri mereka.
Orang-orang zaman
dahulu, dengan berlalunya bulan Ramadhan, hati mereka mejadi sedih.
Maka, tidak mengherankan bila pada malam-malam terakhir Ramadhan, pada
masa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi penuh sesak dengan orang-orang yang
beri’tikaf. Dan di sela-sela i’tikafnya, mereka terkadang menangis
terisak-isak, karena Ramadhan akan segera berlalu meninggalkan mereka.
Ada satu riwayat yang mengisahkan bahwa kesedihan ini tidak saja
dialami manusia, tapi juga para malaikat dan makhluk-makhluk Allah
lainnya.
Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda, “Di malam
terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi
dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga
keistimewaannya. Ini merupakan musibah bagi umatku.”
Kemudian ada seorang sahabat bertanya, “Apakah musibah itu, ya Rasulullah?”
“Dalam bulan itu segala doa mustajab, sedekah makbul, segala kebajikan
digandakan pahalanya, dan siksaan kubur terkecuali, maka apakah musibah
yang terlebih besar apabila semuanya itu sudah berlalu?”
Ketika mereka memasuki detik-detik akhir penghujung Ramadhan, air mata mereka menetes. Hati mereka sedih.
Betapa tidak. Bulan yang penuh keberkahan dan keridhaan Allah itu akan
segera pergi meninggalkan mereka. Bulan ketika orang-orang berpuasa dan
menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Bulan yang Allah bukakan
pintu-pintu surga, Dia tutup pintu-pintu neraka, dan Dia belenggu setan.
Bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya
pembebasan dari api neraka. Bulan ketika napas-napas orang yang berpuasa
lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi. Bulan ketika Allah
setiap malamnya membebaskan ratusan ribu orang yang harus masuk neraka.
Bulan ketika Allah menjadikannya sebagai penghubung antara orang-orang
berdosa yang bertaubat dan Allah Ta’ala.
Mereka menangis karena
merasa belum banyak mengambil manfaat dari Ramadhan. Mereka sedih
karena khawatir amalan-amalan mereka tidak diterima dan dosa-dosa mereka
belum dihapuskan. Mereka berduka karena boleh jadi mereka tidak akan
bertemu lagi bulan Ramadhan yang akan datang.
Suatu hari, pada
sebuah shalat ‘Idul Fithri, Umar bin Abdul Aziz berkata dalam
khutbahnya, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa
karena Allah selama tiga puluh hari, berdiri melakukan shalat selama
tiga puluh hari pula, dan pada hari ini kalian keluar seraya memohon
kepada Allah agar menerima amalan tersebut.”
Salah seorang di antara jama’ah terlihat sedih.
Seseorang kemudian bertanya kepadanya, “Sesungguhnya hari ini adalah
hari bersuka ria dan bersenang-senang. Kenapa engkau malah bermuram
durja? Ada apa gerangan?”
“Ucapanmu benar, wahai sahabatku,”
kata orang tesrebut. “Akan tetapi, aku hanyalah hamba yang diperintahkan
oleh Rabb-ku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku
tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.”
Kekhawatiran
serupa juga pernah menimpa para sahabat Rasulullah SAW. Di antaranya
Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Diriwayatkan, di penghujung Ramadhan,
Sayyidina Ali bergumam, “Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang
diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan
siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat ‘melayatnya’.”
Ucapan Sayyidina Ali RA ini mirip dengan ucapan Abdullah bin Mas’ud RA,
“Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalannya untuk kita
beri ucapan selamat, dan siapakah gerangan di antara kita yang ditolak
amalannya untuk kita ‘layati’. Wahai orang yang diterima amalannya,
berbahagialah engkau. Dan wahai orang yang ditolak amalannya,
keperkasaan Allah adalah musibah bagimu.”
Imam Mu'alla bin
Al-Fadhl RA berkata, "Dahulu para ulama senantiasa berdoa kepada Allah
selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan. Kemudian mereka
juga berdoa selama enam bulan agar diterima amal ibadah mereka (selama
Ramadhan)."
Wajar saja, sebab, tidak ada yang bisa menjamin
bahwa tahun depan kita akan kembali berjumpa dengan bulan yang penuh
berkah, rahmat, dan maghfirah ini. Karenanya, beruntung dan
berbahagialah kita saat berpisah dengan Ramadhan membawa segudang pahala
untuk bekal di akhirat.
Jika kita merenungi kondisi salafush
shalih dan meneliti bagaimana mereka menghabiskan waktu-waktu mereka di
bulan Ramadhan, bagaimana mereka memakmurkannya dengan amal shalih,
niscaya kita mengetahui jauhnya jarak di antara kita dan mereka.
Bagaimana dengan kita? Adakah kesedihan itu hadir di hati kita di kala
Ramadhan meninggalkan kita? Atau malah sebaliknya, karena begitu
bergembiranya menyambut kedatangan Hari Raya ‘Idul Fithri, sampai-sampai
di sepuluh hari terakhir, yang seharunya kita semakin giat melaksanakan
amalan-amalan ibadah, kita malah disibukkan dengan belanja, membeli
baju Lebaran, disibukkan memasak, membuat kue, dan lain-lain.
Padahal di sisi lain, masih banyak orang di sekitar kita yang berjuang
untuk mendapatkan sesuap nasi untuk berbuka hari ini, bukan untuk besok,
apalagi untuk pesta pora di hari Lebaran.
Tapi apakah salah
bila kita menyongsong Hari Raya ‘Idul Fithri dengan kegembiraan? Tentu
saja tidak. Bukankah Rasulullah SAW telah mengatakan, “Wahai Abu Bakar,
sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan sesungguhnya hari ini
adalah hari raya kita.” (HR Nasa’i).
Wallahu a'lam Bisshowab....
—dan Kami sekeluarga Menghaturkan ''Selamat menyambut Hari Raya Iedul
Fitri 1 Syawal 1434 ,mohon ma'af lahir dan Batin,ter'iring doa
'Ja'lanallahu Wa iyyakum Minal A'idina Wal Fazin Wal Maqbulin fi kulli
Amin Wa antum bi khoir...''(H.Zimam Hanifun Nusuk Krapyak Pekalongan)
TANGISNYA PARA PECINTA RAMADHAN“Di malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga keistimewaannya.”
Waktu terus bergulir dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari minggu ke minggu.... Rasanya baru kemarin kita begitu bersemangat mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan, bulan tarbiyah, bulan latihan, bulan Quran, bulan sa’adah, bulan maghfirah, bulan yang penuh berkah. Namun beberapa saat lagi, Ramadhan akan meninggalkan kita, padahal kita belum optimal melaksanakan qiyamul lail kita, belum optimal membaca Al-Quran serta belum optimal melaksanakan ibadah-ibadah lain, target-target yang kita pasang belum semuanya terlaksana. Dan kita tidak akan pernah tahu apakah kita masih dapat berjumpa dengan Ramadhan berikutnya.
Bagi para salafush shalih, setiap bulan Ramadhan pergi meninggalkan mereka, mereka selalu meneteskan air mata. Di lisan mereka terucap sebuah doa yang merupakan ungkapan kerinduan akan datangnya kembali bulan Ramadhan menghampiri diri mereka.
Orang-orang zaman dahulu, dengan berlalunya bulan Ramadhan, hati mereka mejadi sedih. Maka, tidak mengherankan bila pada malam-malam terakhir Ramadhan, pada masa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi penuh sesak dengan orang-orang yang beri’tikaf. Dan di sela-sela i’tikafnya, mereka terkadang menangis terisak-isak, karena Ramadhan akan segera berlalu meninggalkan mereka.
Ada satu riwayat yang mengisahkan bahwa kesedihan ini tidak saja dialami manusia, tapi juga para malaikat dan makhluk-makhluk Allah lainnya.
Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda, “Di malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga keistimewaannya. Ini merupakan musibah bagi umatku.”
Kemudian ada seorang sahabat bertanya, “Apakah musibah itu, ya Rasulullah?”
“Dalam bulan itu segala doa mustajab, sedekah makbul, segala kebajikan digandakan pahalanya, dan siksaan kubur terkecuali, maka apakah musibah yang terlebih besar apabila semuanya itu sudah berlalu?”
Ketika mereka memasuki detik-detik akhir penghujung Ramadhan, air mata mereka menetes. Hati mereka sedih.
Betapa tidak. Bulan yang penuh keberkahan dan keridhaan Allah itu akan segera pergi meninggalkan mereka. Bulan ketika orang-orang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Bulan yang Allah bukakan pintu-pintu surga, Dia tutup pintu-pintu neraka, dan Dia belenggu setan. Bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Bulan ketika napas-napas orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi. Bulan ketika Allah setiap malamnya membebaskan ratusan ribu orang yang harus masuk neraka. Bulan ketika Allah menjadikannya sebagai penghubung antara orang-orang berdosa yang bertaubat dan Allah Ta’ala.
Mereka menangis karena merasa belum banyak mengambil manfaat dari Ramadhan. Mereka sedih karena khawatir amalan-amalan mereka tidak diterima dan dosa-dosa mereka belum dihapuskan. Mereka berduka karena boleh jadi mereka tidak akan bertemu lagi bulan Ramadhan yang akan datang.
Suatu hari, pada sebuah shalat ‘Idul Fithri, Umar bin Abdul Aziz berkata dalam khutbahnya, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa karena Allah selama tiga puluh hari, berdiri melakukan shalat selama tiga puluh hari pula, dan pada hari ini kalian keluar seraya memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut.”
Salah seorang di antara jama’ah terlihat sedih.
Seseorang kemudian bertanya kepadanya, “Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria dan bersenang-senang. Kenapa engkau malah bermuram durja? Ada apa gerangan?”
“Ucapanmu benar, wahai sahabatku,” kata orang tesrebut. “Akan tetapi, aku hanyalah hamba yang diperintahkan oleh Rabb-ku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.”
Kekhawatiran serupa juga pernah menimpa para sahabat Rasulullah SAW. Di antaranya Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Diriwayatkan, di penghujung Ramadhan, Sayyidina Ali bergumam, “Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat ‘melayatnya’.”
Ucapan Sayyidina Ali RA ini mirip dengan ucapan Abdullah bin Mas’ud RA, “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalannya untuk kita beri ucapan selamat, dan siapakah gerangan di antara kita yang ditolak amalannya untuk kita ‘layati’. Wahai orang yang diterima amalannya, berbahagialah engkau. Dan wahai orang yang ditolak amalannya, keperkasaan Allah adalah musibah bagimu.”
Imam Mu'alla bin Al-Fadhl RA berkata, "Dahulu para ulama senantiasa berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar diterima amal ibadah mereka (selama Ramadhan)."
Wajar saja, sebab, tidak ada yang bisa menjamin bahwa tahun depan kita akan kembali berjumpa dengan bulan yang penuh berkah, rahmat, dan maghfirah ini. Karenanya, beruntung dan berbahagialah kita saat berpisah dengan Ramadhan membawa segudang pahala untuk bekal di akhirat.
Jika kita merenungi kondisi salafush shalih dan meneliti bagaimana mereka menghabiskan waktu-waktu mereka di bulan Ramadhan, bagaimana mereka memakmurkannya dengan amal shalih, niscaya kita mengetahui jauhnya jarak di antara kita dan mereka.
Bagaimana dengan kita? Adakah kesedihan itu hadir di hati kita di kala Ramadhan meninggalkan kita? Atau malah sebaliknya, karena begitu bergembiranya menyambut kedatangan Hari Raya ‘Idul Fithri, sampai-sampai di sepuluh hari terakhir, yang seharunya kita semakin giat melaksanakan amalan-amalan ibadah, kita malah disibukkan dengan belanja, membeli baju Lebaran, disibukkan memasak, membuat kue, dan lain-lain.
Padahal di sisi lain, masih banyak orang di sekitar kita yang berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi untuk berbuka hari ini, bukan untuk besok, apalagi untuk pesta pora di hari Lebaran.
Tapi apakah salah bila kita menyongsong Hari Raya ‘Idul Fithri dengan kegembiraan? Tentu saja tidak. Bukankah Rasulullah SAW telah mengatakan, “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita.” (HR Nasa’i).
Wallahu a'lam Bisshowab.... —dan Kami sekeluarga Menghaturkan ''Selamat menyambut Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1434 ,mohon ma'af lahir dan Batin,ter'iring doa 'Ja'lanallahu Wa iyyakum Minal A'idina Wal Fazin Wal Maqbulin fi kulli Amin Wa antum bi khoir...''(H.Zimam Hanifun Nusuk Krapyak Pekalongan)
Caci Maki, Fitnah,di kafir2kan adalah hal yg biasa di rasakan Para Ulama
Caci Maki, Fitnah,di kafir2kan adalah hal yg biasa di rasakan Para Ulama
Inilah Akhlak Grand Shaikh Al-Azhar terhadap Orang yang Memusuhinya
Para ulama Al-Azhar yang istiqamah dengan manhaj Al-Azhar senantiasa
mengalami cacian dan celaan dari orang-orang yang tidak sejalan dengan
manhaj Al-Azhar yang moderat dan toleran. Grand Shaikh Al-Azhar Prof.
Dr. Ahmad Thayeb adalah simbol utama Al-Azhar yang patut dijadikan
teladan oleh umat Islam. Di tengah kondisi politik Mesir yang tidak
stabil seperti saat ini, ada sebagian kalangan yang berusaha sekuat
tenaga untuk mendeskriditkan sosok Dr. Ahmad Thayeb dengan tujuan untuk
melengserkan beliau dari amanah saat ini: Grand Shaikh Al-Azhar. Namun,
beliau sama sekali tidak pernah menyimpan dendam terhadap para pendengki
tersebut, bahkan beliau membalas mereka semua dengan kebaikan. Beliau
meneladani akhak ‘kakek’ beliau, Baginda Rasulullah SAW.
Inilah fakta-fakta keteladan beliau di zaman yang penuh fitnah seperti saat ini:
1- Kurang lebih setahun yang lalu, Syekh Yusuf Al-Qardhawi mengunjungi
Grand Shaikh. Beliau menyambut, memeluk, dan memuji Al-Qardhawi. Tidak
lama kemudian, Al-Qardhawi diwawancari oleh harian asy-Syuruq. Dalam
wawancara tersebut dia mencela Grand Shaikh dan menuduh bahwa beliau
tidak memiliki kapasitas untuk memimpin Al-Azhar, dan tuduhan-tuduhan
lainnya. Tuduhan-tuduhan tersebut telah dibantah oleh Syekh Hasan
Syafi’i yang saat itu menjabat sebagai konsultan Grand Shaikh Al-Azhar.
Kemudian beberapa waktu lalu, Al-Qardhawi mengulangi lagi cacian dan
celaannya kepada Grand Shaikh, sehingga membuat para ulama Al-Azhar
tidak terima dan meminta agar keanggotaan Al-Qardhawi di Dewan Ulama
Senior Al-Azhar (Haiah Kibar Ulama) dicabut (baca: Al-Azhar Tolak
Permintaan Cabut Keanggotaan Al-Qardhawi). Namun, Grand Shaikh tetap
memaafkan Al-Qardhawi dan tidak setuju dengan permintaan tersebut.
2- Kurang dari setahun yang lalu, tersebar sebuah video ceramah seorang
dai salafi yang bernama Yasir Burhami yang didampingi oleh Muhammad
Hassan. Di dalam video tersebut dia menuntut agar Syekh Ahmad Thayeb
dicopot dari jabatan Grand Shaikh Al-Azhar. Namun, beberapa waktu
setelah itu, Yasir Burhami dan rombongan salafi mendatangi kantor Grand
Shaikh untuk menyatakan dukungan terhadap Al-Azhar, bersikap manis di
hadapan Grand Shaikh, dan berusaha menyangkal isi video yang sudah
terlanjur tersebar luas di Youtube. Lagi-lagi, Grand Shaikh memaafkan
dan menyambut rombongan salafi tersebut dengan ramah dan penuh hormat.
3- Meskipun para pimpinan Jamaah Ikhwanul Muslimin dan jamaah-jamaah
Islam radikal lainnya terus-menerus mencela dan mencaci-maki Grand
Shaikh Al-Azhar di panggung-panggung demonstrasi. Namun Grand Shaikh
tidak menyimpan dendam terhadap mereka, bahkan meminta kepada pemerintah
agar membebaskan tahanan politik dari kalangan Ikhwanul Muslimin dan
jamaah-jamaah lainnya.
4- Syekh Mahmud Sya’ban pernah mengajak
rakyat Mesir untuk demo besar-besaran demi melengserkan Grand Shaikh
Al-Azhar, dan meminta Morsi saat masih menjabat sebagai Presiden agar
mencopot jabatan Grand Shaikh. Namun, Grand Shaikh mengecam peristiwa
penghinaan dan pelecehan yang menimpa Syekh Mahmud Sya’ban di bundaran
Tahrir baru-baru ini, serta meminta aparat agar mengusut dan menangkap
para pelakunya.
Itulah ulama Al-Azhar dan itulah akhlak Grand
Shaik Al-Azhar yang selama ini berusaha dikriminalisasi oleh media-media
yang benci dan dengki terhadap Grand Shaikh. Beliau senantiasa membalas
keburukan dengan kebaikan, memaafkan, dan mengatakan yang
benar.(mosleminfo.com)
Inilah Akhlak Grand Shaikh Al-Azhar terhadap Orang yang Memusuhinya
Para ulama Al-Azhar yang istiqamah dengan manhaj Al-Azhar senantiasa mengalami cacian dan celaan dari orang-orang yang tidak sejalan dengan manhaj Al-Azhar yang moderat dan toleran. Grand Shaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Thayeb adalah simbol utama Al-Azhar yang patut dijadikan teladan oleh umat Islam. Di tengah kondisi politik Mesir yang tidak stabil seperti saat ini, ada sebagian kalangan yang berusaha sekuat tenaga untuk mendeskriditkan sosok Dr. Ahmad Thayeb dengan tujuan untuk melengserkan beliau dari amanah saat ini: Grand Shaikh Al-Azhar. Namun, beliau sama sekali tidak pernah menyimpan dendam terhadap para pendengki tersebut, bahkan beliau membalas mereka semua dengan kebaikan. Beliau meneladani akhak ‘kakek’ beliau, Baginda Rasulullah SAW.
Inilah fakta-fakta keteladan beliau di zaman yang penuh fitnah seperti saat ini:
1- Kurang lebih setahun yang lalu, Syekh Yusuf Al-Qardhawi mengunjungi Grand Shaikh. Beliau menyambut, memeluk, dan memuji Al-Qardhawi. Tidak lama kemudian, Al-Qardhawi diwawancari oleh harian asy-Syuruq. Dalam wawancara tersebut dia mencela Grand Shaikh dan menuduh bahwa beliau tidak memiliki kapasitas untuk memimpin Al-Azhar, dan tuduhan-tuduhan lainnya. Tuduhan-tuduhan tersebut telah dibantah oleh Syekh Hasan Syafi’i yang saat itu menjabat sebagai konsultan Grand Shaikh Al-Azhar.
Kemudian beberapa waktu lalu, Al-Qardhawi mengulangi lagi cacian dan celaannya kepada Grand Shaikh, sehingga membuat para ulama Al-Azhar tidak terima dan meminta agar keanggotaan Al-Qardhawi di Dewan Ulama Senior Al-Azhar (Haiah Kibar Ulama) dicabut (baca: Al-Azhar Tolak Permintaan Cabut Keanggotaan Al-Qardhawi). Namun, Grand Shaikh tetap memaafkan Al-Qardhawi dan tidak setuju dengan permintaan tersebut.
2- Kurang dari setahun yang lalu, tersebar sebuah video ceramah seorang dai salafi yang bernama Yasir Burhami yang didampingi oleh Muhammad Hassan. Di dalam video tersebut dia menuntut agar Syekh Ahmad Thayeb dicopot dari jabatan Grand Shaikh Al-Azhar. Namun, beberapa waktu setelah itu, Yasir Burhami dan rombongan salafi mendatangi kantor Grand Shaikh untuk menyatakan dukungan terhadap Al-Azhar, bersikap manis di hadapan Grand Shaikh, dan berusaha menyangkal isi video yang sudah terlanjur tersebar luas di Youtube. Lagi-lagi, Grand Shaikh memaafkan dan menyambut rombongan salafi tersebut dengan ramah dan penuh hormat.
3- Meskipun para pimpinan Jamaah Ikhwanul Muslimin dan jamaah-jamaah Islam radikal lainnya terus-menerus mencela dan mencaci-maki Grand Shaikh Al-Azhar di panggung-panggung demonstrasi. Namun Grand Shaikh tidak menyimpan dendam terhadap mereka, bahkan meminta kepada pemerintah agar membebaskan tahanan politik dari kalangan Ikhwanul Muslimin dan jamaah-jamaah lainnya.
4- Syekh Mahmud Sya’ban pernah mengajak rakyat Mesir untuk demo besar-besaran demi melengserkan Grand Shaikh Al-Azhar, dan meminta Morsi saat masih menjabat sebagai Presiden agar mencopot jabatan Grand Shaikh. Namun, Grand Shaikh mengecam peristiwa penghinaan dan pelecehan yang menimpa Syekh Mahmud Sya’ban di bundaran Tahrir baru-baru ini, serta meminta aparat agar mengusut dan menangkap para pelakunya.
Itulah ulama Al-Azhar dan itulah akhlak Grand Shaik Al-Azhar yang selama ini berusaha dikriminalisasi oleh media-media yang benci dan dengki terhadap Grand Shaikh. Beliau senantiasa membalas keburukan dengan kebaikan, memaafkan, dan mengatakan yang benar.(mosleminfo.com)
Langganan:
Postingan (Atom)








